Sabtu, 13 Januari 2018

Naga Merah 03


PEK LEK CU berobah wajahnya.
“Bocah kau ketawakan siapa?” tanyanya gusar. “Aku tertawakan kau, orang jumawa!”
Pek lek cu wajahnya berubah pucat sekali itu. Napsunya hendak membunuh pemuda itu timbul secara mendadak. Sebab, setiap perkataan pemuda itu sesungguhnya membuat ia merasa tidak sabar untuk menelan satu-satunya begitu saja. Ini dapat dimengerti, sejak ia muncul didunia kangouw, kapan pernah ia dihinakan orang terus menerus demikian rupa? Bocah yang baru lahir belum lama ini ternyata sudah berani omong gede, mencela orang lain secara terang-terangan, bagaimana ia tidak menjadi gusar?.
Ciang hay Sin kun dan Pendekar Kalong ketika melihat suasana sudah meruncing diam-diam juga pada terperanjat. Pemuda baju abu-abu ini benar-benar tidak tahu diri. pikir mereka.
Selagi Ciang hay Sin kun masih dalam berpikir, Pek lek cu sudah bergerak maju kedepan si pemuda baju abu-abu dan menanya dengan suara gusar, “Apa kau merasa tidak puas?”
Pemuda baju abu-abu itu lalu menjawab sambil mendekati orang yang sedang menghampirinya: “Sudah tentu tidak?” Dan sepasang matanya lalu menyapu Pak lek cu sejenak.
“Begini saja. Kita bertaruhan dengan mengadu jurus kepandaian, jikalau kau kalah......” Belum sampai habis ucapan pemuda baju abu-abu pendiam itu, sudah membikin gusar Pek lek cu yang jadi berjingkrak-jingkrak seperti orang edan, mulutnya berkaok-kaok.
“Jikalau aku kalah dibawah tanganmu, bocah. Pek lek cu selanjutnya tidak akan gentayangan dalam dunia kangouw lagi.”
“Perkataanmu ini sesungguhnya kau ucapkan terlalu berat. Kau anggap kepandaianmu sendiri sudah tidak ada tandingannya dalam kolong langt ini, tapi dalam pikirku kau cuma merupakan satu Siao cut (manusia kecil) yang tidak ada artinya dalam dunia kangouw.”
Pek lek cu tidak sanggup lagi agaknya menerima terus menerus ejekan maka seketika itu ia lantas membentak keras.
“Kau cari mampus!....”
Dan bersamaan dengan itu, tangannya terayun hendak menyerang si pemuda banyak mulut.
Tapi ada saat tangan Pek lek cu terayun, saat itu juga pemuda itu membentak secara tiba-tiba.
“Pek lek cu tahan dulu!!”
Perkataan itu agaknya mengandung kekuatan dan pengaruh gaib yang amat besar. Seketika Pek lek cu menarik kembali serangannya yang sudah dilancarkan setengah jalan. Ketika ia menatap wajah si pemuda. Ia lihat pemuda itu dengan tenang luar biasa berkata sambil ketawa dingin.
“Pek lek cu, mari kita bertaruhan dengan lima jurus pukulan. Jikalau kau kalah, kau berikan padaku tiga butir bom Pek lek tanmu...”
“Boleh!! Tapi kalau kau yang kalah, bagaimana?” Ia memotong.
“Kau jangan terburu napsu dulu. Perkataanku masih belum habis. Kita berdua mengadakan pertaruhan dengan lima jurus ilmu pukulan. Jikalau kau yang kalah, kau harus berikan aku tiga bommu dan juga harus segera pergi ke pusatnya Hian peng kauw di lautan utara untuk mengambil pedang Hian peng kiam untukku.”
Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula,.
“Dan jikalau aku yang kalah akan kuberikan kau itu pecahan mangkok peninggalannya itu pengemis sakti pada 200 tahun berselang.”
Sehabis berkata, dari dalam sakunya dikeluarkan sepotong pecahan mangkok lagi. Itu ternyata warnanya masih berkilap seperti kaca kalau dibandingkan dengan barang pecah yang dikeluarkan duluan, bedanya yang bumi dengan langit.
Dengan munculnya kembali pecahan mangkok ini, gemparlah keadaan disitu. Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya pada terheran-heran.
Pemuda baju abu-abu ini benar-benar misterius.
Ia berani menantang terang-terangan pada Pek lek cu dan berani pula mempertaruhkan sepotong pecahan mangkok yang dipandang sebagai barang pusaka itu, maka asal usul dirinya pemuda itu mungkin bukan sembarangan.
Pada hari itu si pemuda sedang mengulap-ulapkan mangkoknya sambil berkata, “Pek lek cu, kita gunakan benda ini sebagai barang taruhan. Bagaimana?”
Pek lek cu lantas menjawab sambil ketawa bergelak-gelak.
“Bagus.. bagus..!! Kita tetapkan benda itu sebagai barang taruhan. Kalau kalah akan segera aku berikan kau tiga bom ku dan juga akan segera aku pergi ke lautan utara untuk mengambil pedang Hian peng kiam. Kalau kau yang kalah, boleh kau serahkan sepotong pecahan mangkok itu.”
Munculnya pecahan mangkok kembali dari si pemuda baju abu-abu lagi lagi menggemparkan sangat semua orang yang berada disitu.
Orang-orang yang datang hanya hendak turut menyaksikan Naga Merah beraksi. Meski sebagian besar sudah berlalu meninggalkan lembah tersebut, tapi yang tidak tujukan matanya dengan penuh gairah ke arah tangan si pemuda baju abu-abu yang sedang memegang pecahan mangkoknya.
Benda yang dibuat taruhan oleh kedua orang itu sama-sama merupakan benda-benda yang sangat langka dalam dunia rimba persilatan.
Benda dalam tangan pemuda baju abu-abu merupakan suatu benda pusaka yang tidak ternilai harganya dalam dunia. Sedangkan tiga bom Pek lek tan yang dibuat taruhan oleh pemiliknya, meskipun belum terhitung barang pusaka benar-benar namun untuk menyuruh Pek lek cu pergi ke lautan utara mengambilkan Hian peng kiam bagi si pemuda, ini merupakan suatu tugas yang maha sulit.
Untuk sesaat lamanya suasana kembali berubah sunyi sepi. Tak ada seorangpun yang berani buka mulut bersuara. Hanya banyak pasang mata yang ditujukan kearah dua orang ditengah-tengah dengan mata tak berkedip.
Sementara itu, orang-orang dari rombongan Ciang hay Sin kun semua pada kuatirkan keselamatan si pemuda pendiam baju abu-abu. Sebab dengan kepandaian Pek lek cu salah satu dari Bu lim Sam cu, bagaimana pemuda itu mampu menandingi?.
Didalam lembah yang sangat sunyi keadaannya itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring dibarengi oleh suara seruan seorang wanita yang kedengarannya dari tempat diluar lembah.
Orang-orang yang berada didalam lembah, begitu mendengar suara nyaring itu pada terperanjat. Diluar lembah pasti ada orang sedang bertempur!.
Pada saat itu, Pek lek cu sudah berjalan dan berdiri didepan si pemuda baju abu-abu dan segera berkata dengan suara dingin.
“Bocah, bagimana kita mulai turun tangan?”
Akan tetapi pemuda baju abu-abu itu tidak menjawab pertanyaan Pek lek cu, sebaliknya sedang mengarahkan pandangan matanya ke arah Pendekar Kalong, dan kepadanya ia berkata.
“Locianpwe, harap kau suka bertindak sebagai wasit.”
Pek lek cu lagi-lagi berubah wajahnya. Ia berkata dengan suara gusar!.
“Apa aku siorang tua mau mengakali kau? Apa kau kira aku mau lepaskan kepercayaanku?”
“Buat orang lain tidak berani kukatakan itu. Tapi kau Pek lek cu, kau bukan seorang yang bisa pegang teguh janjimu!”
“Sejak kapan aku pernah mengingkari janjiku sendiri?”
“Yang jauh-jauh tidak usah kita katakan. Yang terang tiga puluh tahun yang lalu kalau kau tidak mengingkari janjimu, maka Tiong-goan It kauw Cu pek Kun juga tidak akan binasa di atas gunung Bu-tong san. Tentang peristiwa ini tentunya kau masih ingat betul betul bukan?”
Mendengar perkataan pemuda pendiam baju abu-abu ini, wajahnya Pek lek cu berubah pucat seketika. Tanpa merasa kakinya mundur dua tindak. Sepasang matanya mendelik sebesar jengkol, mulutnya menanya dengan suara tak lampias.
“Kau.....kau siapa?!”
Pemuda itu ketawa bergelak-gelak.
“Tentang ini tidak harus kau tahu!” katanya.
Ia berhenti sejenak lalu berpaling kearah Pendekar Kalong dan berkata pula. “Locianpwe, sukakah kau menjadi wasit dalam pertandingan kami?”
Pendekar Kalong yang ditanya demikian oleh pemuda baju abu-abu seketika itu merasa agak sulit menjawab. Sebab Pek lek cu adalah seorang besar yang namanya sudah sangat terkenal, bagaimana ia mau menerima begitu saja permintaan pemuda yang masih hijau itu?.
Maka ia saat itu hanya kerutkan keningnya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan si pemuda pendiam.
Pek lek cu lalu berkata, “Setan keluyuran, diwaktu tengah malam kau terima baik saja permintaannya.” Pendekar Kalong terpaksa anggukkan kepalanya dan berkata, “Legakanlah hatimu!”

Pemuda pendiam baju abu-abu itu nampak bersenyum lalu berkata kepada Pek lek cu. “Pek lek cu, sekarang kita tentukan begini saja. Aku yang rendah cuma seorang yang tidak bisa apa-apa karena terluka parah. Jikalau turun tangan mengadu kekuatan, sudah tentu aku tidak mempunyai kemampuan, maka sebaiknya kita.....”
Pek lek cu lantas memotong, “Sebaiknya kita ucapkan dengan lisan setiap gerak tipu yang hendak kita keluarkan dan suruh pihak lawan memecahkan, beres bukan?”
“Kau benar! Kita batasi saja lima jurus. Dalam waktu setengah jam kalau salah satu tidak mampu memecahkan gerak tipu serangan yang diajukan oleh lawannya akan terhitung pihak kalah.”
Pek lek cu tiba-tiba memikir sesuatu. Dan ia lekas berkata,.
“Cuma aku masih mau ajukan satu syarat lagi. Kalau kau kalah, kau beritahukan padaku nama, asal-usul, suhu serta dalam partai mana kau termasuk!”
“Boleh.. boleh.. tentu boleh...!” jawab si pemuda pendiam yang lantas duduk bersila ditanah.
Pek lek cu ketawa dingin, ia juga lantas duduk numprah dihadapan si anak muda. Semua mata orang-orang yang berada didalam lembah pada ditujukan kearah kedua orang yang duduk berhadapan itu tanpa berkedip.
Apa yang membuat orang-orang tidak habis mengerti dan terheran-heran ialah, si pemuda baju abu-abu yang namanya belum pernah dikenal orang, berani menantang Pek lek cu, seorang tokoh besar yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatan, sungguh mustahil.
Selagi pemuda pendiam itu hendak bicara, Pek lek cu agaknya ingat lagi sesuatu yang maka cepat-cepat ia berkata,.
“Bocah, tunggu dulu! Siapa yang bisa meyakinkan pecahan mangkokmu itu tulen atau palsu?”
Pemuda itu ketawa hambar.
“Ini gampang sekali!” jawabnya. “Didalam pecahan mangkok ini ada terukir wajahnya si pengemis tua yang seperti orang hidup. Kau lihat sendiri pasti akan mengerti.”
Setelah itu, ia lalu mengangsurkan mangkok yang pecah itu kedepan, diberikan kepada Pek lek cu.
Pek lek cu mengamat-amati dengan teliti benda yang diberikan padanya. Benar saja, didalam pecahan mangkok itu terdapat satu gambar ukiran satu pengemis tua yang sangat indah.
Setelah pemuda itu menerima kembali mangkoknya, lalu berkata pula,.
“Barang seperti yang kau lihat sendiri tulen bukan? Dan sekarang marilah kita mulai menyebutkan gerak tipu yang akan kita gunakan!”
Pek lek cu berkata sambil ketawa gergelak-gelak.
“Bagus.. bagus!! Bocah, boleh kau sebutkan dulu jurus yang pertama!”
“Kalau begitu, terpaksa aku menuruti kesukaanmu. Jurus pertama: Ie ya Hui hoa (Kembang kembang berterbangan dihalaman hujan)”
Mendengar perkataan itu, Pek lek cu terperanjat. Dengan tanpa sadar mulutnya lantas menyahut.
“Ie ya Hui hoa?”
Keadaan disekitar tempat tersebut sunyi senyap, tidak terdengar suara apa-apa.
Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong, Yan san It hiong dan beberapa jago kenamaan yang saat itu pada menyaksikan semua pada mengawasi dirinya pemuda aneh itu dengan sorot mata terheran-heran.
Pemuda baju kelabu itu memang sangat aneh tingkah lakunya, entah siapa dia itu?.
Pek lek cu yang masih terperanjat dan terheran-heran, dalam hatinya berpikir “Pemuda ini benar-benar ada mempunyai ilmu luar biasa, tangannya tipu serangan Ie ya Hui hoa (bunga berterbangan diwaktu malam hujan) ini sesungguhnya ada satu jurus serangan yang luar biasa...”
Sembari berpikir, keningnya nampak dikerutkan. Ia tengah berpikir keras untuk memcahkan tipu serangan itu.
Dalam hati ia mengerti, jika hari itu ia kalah dibawah tangannya pemuda baju kelabu ini, benar-benar seperti sebuah perahu yang terbalik diair dangkal, yang sudah tidak dapat didayung lagi.
Apalagi benda yang digunakan untuk pertaruhan kali ini juga besar sekali, ialah tiba buah bom Pek lek tan. Ditambah lagi dengan sebilah pusaka pedang Hian peng kiam yang harus diambil dari tangannya pemimpin perkumpulan Hian peng kauw di Pak hay.
Ini sesungguhnya merupakan pertaruhan besar yang jarang ada duanya.
Tapi soal kalah pertaruhan masih merupakan satu soal kecil, kehilangan muka justru yang merupakan satu perkara besar. Sebab bagi orang-orang kangouw, perkara muka dan nama baik itulah yang paling diutamakan.
Pek lek cu semula tidak pandang mata kepada pemuda baju kelabu yang sikap dan tingkah lakunya aneh itu, dan sekarang setelah pemuda itu menyebutkan satu nama dari jurus tipu serangannya yang dinamakan Ie ya Hui hoa, ia lantas mulai keder.
Lama-lama sekali, ia baru membuka mulut dan berkata, “In khay Jit hian (Awan terbuka matahari kelihatan)” Pemuda baju kelabu itu ketawa hambar dan berkata pula, “Kalau begitu, kau sebutkanlah jurus pertama seranganmu!” Pek lek cu mengangguk dan lalu berkata, “Pu ceng Khui hiang (Membuka jendela mengintip sang harum).” Pemuda itu segera menjawab tanpa berpikir, “Sit teng Sui tiang (Padamkan pelita turunkan kelambu)”
Mendengar jawaban yang tepat itu, wajahnya Pek lek cu berubah seketika, sebab jurus yang olehnya telah menggunakan waktu beberapa puluh tahun baru dapat difahami itu ternyata dapat dipecahkan oleh si anak muda aneh itu dengan tanpa dipikir, bagaimana ia tidak terkejut?
Saat itu si pemuda lantas ketawa hambar dan berkata pula, “Jurus kedua, Jit goat kao hui (Matahari dan rembulan saling memancarkan sinar)”
Ini adalah satu tipu serangan yang sukar dipecahkan. Mendengar disebutnya nama tipu pukulan itu, wajah Pek lek cu kembali berubah pucat.
Disebutnya nama tipu pukulan itu bukan cuma Pek lek cu saja yang terkejut, sekaligus orang-orang yang sudah ternama seperti Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya juga sama merasa kaget dan terheran-heran.
Pek lek cu nampaknya sedang berpikir keras, keringat mulai mengalir keluar dari jidatnya.
Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya diam-diam juga turut kuatirkan dirinya Pek lek cu, karena apabila Pek lek cu terjungkal ditangannya pemuda aneh tidak dikenal itu, entah kemana hendak ditaruh mukanya?.
Dalam suasana sunyi seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dingin, yang segera memcahkan kesunyian itu.
Suara itu keluar dari mulut Yao lie lu.
Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya ketika mendengar suara itu, wajahnya nampak tegang. Selagi hendak membuka mulut, pemuda baju kelabu yang aneh itu sudah berpaling dan berkata kepada Pendekar Kalong,.
“Locianpwe, Yao lie lu sudah bertempur dengan ketiga ketua dari tiga partai besar, kalian boleh menonton keramaian.”
Pendekar Kalong yang mendengar perkataan pemuda itu, hatinya terkejut, ia mengawasi Ciang hay Sin kun sejenak, lalu menanya padanya, “Apakah kita perlu pergi melihat?”
Ciang hay Sin kun anggukkan kepala, badannya lantas bergerak dan melesat sejauh lima tombak, lari menuju kearah datangnya suara tadi.
Yao lie lu yang tadi meninggalkan pemuda baju kelabu itu dalam keadaan murka pikirannya sangat risau. Ia tidak menduga bahwa perhatiannya itu telah dibalas dengan sikap yang begitu dingin.
Tentang dirinya anak muda aneh itu, ia sebetulnya masih belum tahu sama sekali, begitu melihat padanya, sungguh aneh, entah ada pengaruh apa telah membuat ia tergila-gla padanya.
Meskipun itu ada suatu hal yang agak ganjil dan tidak mungkin, kalau diingat akan perangainya Yao lie lu yang tinggi hati dan mau menang sendiri, namun perasaannya itu seolah-olah mengganggu pikirannya, hingga ia tidak mampu mengatasi perasaan cinta yang meluap melewati batas itu.
Begitu melihat lantas jatuh cinta, ini ada merupakan satu pepatah yang sudah tidak asing lagi bagi kaum muda, juga ada satu hal yang bukannya tidak mungkin sama sekali. Dan perasaan antara manusia dengan manusia yang berlawanan jenis kadang-kadang telah terlahir dibawah pengaruh pepatah itu.
Tatkala Yao lie lu meninggalkan si anak muda dalam hati pepat, lantas melihat para ketua dari tiga partai besar serta anak muridnya menghadang perjalanannya, kejelesannya itu telah berubah menjadi hawa amarah yang begitu besar.
Ia menyapu dengan matanya yang berlagak kepada tiga ketua dan anak muridnya itu sekilas, lalu berkata dengan suara dingin.
“Tiga Ciangbun jin dari 3 partai besar, sungguh tidak dinyana karena urusan Yao lie lu telah datang mengunjungi selat Bu siong hiap sendiri. Aku Yao lie lu sesungguhnya merasa sangat bangga mendapat kehormatan yang begitu besar!”
Sehabis berkata, ia majukan sikapnya yang begitu menarik dan menawan hati, sampai tiga ketua partai itu pada tergerak hatinya.
Ketua dari Siau lim pay Goan khut lantas menjawab sambil rangkapkan kedua tangannya.
“O Mie To Hud, kami sungguh berdoca, Pinceng sekalian bertiga memang betul datang kemari melulu karena urusan Liesicu.”
Wajahnya Yao lie lu lantas berubah, dengan sikapnya yang dingin angkuh ia berkata, “Apakah kedatangan kalian ini disebabkan karena kematian beberapa murid kalian dari tiga partai besar itu?”
“Kedatangan pinceng memang benar lantaran itu. Liesicu yang baru beberapa bulan muncul didunia kangouw sudah membinasakan begitu banyak jiwa manusia, bahkan sudah membinasakan 5 jiwa murid kami dari tiga partai besar...” Jawab Goan khut.
“Dan sekarang mau apa?” menyelak Yao lie lu.
Ketua Bu tong pay Ha seng cu wajahnya berubah seketika. Ia ada seorang yang beradat berangasan, bagaimana sanggup mendengarkan ucapannya Yao lie lu yang begitu sombong dan bersifat mengejek?
Maka seketika itu ia lantas maju menghampiri dan berkata sambil ketawa dingin. “Mudah sekali, hutang darah bayar darah!”
Tatkala Ha seng cu bergerak tiga anak muridnya Bu tong pay juga turut bergerak maju sehingga Yao lie lu terkurung ditengah-tengah.
Suasana lantas berubah menjadi gawat, pertempuran akan segera dimulai.
Yao lie lu kerlingkan matanya yang jeli, mulutnya menyungging senyuman yang menggiurkan, agaknya tidak pandang mata sama sekali akan kedatangan tiga ketua dari tida partai besar itu. Malah ia masih berkata seenaknya, “Majulah bersama!”
Tiga Ciang bun jin dari tiga partai besar itu, malam itu telah datang ke selat Bu siong hiap bersama beberapa puluh anak muridnya, selain hendak menyaksikan Naga Merah yang hendak muncul disitu, juga hendak menjumpai Yao lie lu.
Wanita muda cantik jelita yang centil genit itu, baru beberapa bulan saja muncul di dunia kangouw. Tapi hatinya kejam tangannya ganas, kepandaian ilmu silatnya yang sangat tinggi, banyak orang kangouw telah binasa ditangannya. Sampai anak muridnya tiga partai besar juga ada lima orang yang tewas ditangannya.
Maka selama beberapa bulan itu Yao lie lu sebetulnya sudah merupakan momok atau memedi yang membawa bencana bagi dunia kangouw. Perbuatan dan keganasannya sesungguhnya tidak dibawah Naga Merah.
Dari kedatangannya ketiga ketua dari 3 partai besar itu yang diiringi oleh beberapa puluh anak muridnya yang terkuat, dapat diduga bahwa urusan itu sesungguhnya bukan urusan sepele saja.
Mengenai kegemarannya Yao lie lu yang suka membunuh jiwa manusia dan apa sebabnya berbuat demikian, tidak seorangpun yang tahu.
Orang-orang dari ketiga partai besar itu ketika mendengar perkataannya Yao lie lu yang begitu jumawa sudah tidak bisa menahan sabar lagi.
Dari rombongan tersebut lantas keluar satu muridnya Siao lim pay dengan senjata sodokan ditangannya ia lantas membentak, “Liesicu sebetulnya sangat tidak memandang orang, pinceng ingin maju beberapa jurus lebih dulu dengan liesicu.”


Sehabis berkata ia lalu menyerang dengan menggunakan tipu serangan yang dinamakan Lek sao Ngo sak atau dengan kekuatan menyapu gunung Ngo gak. Serangan ini ada begitu hebat.
Hweshio itu ada merupakan salah satu murid terkuat dari golongan Siao lim pay. Tatkala senjata sodokannya menyambar Yao lie lu lompat melesat keatas, seolah-olah kupu-kupu berterbangan dikebun bunga, menghindarkan serangan tersebut. sedang tangan kanannya lantas mengirim satu serangan pembalasan.
Kita tinggalkan dulu pertempuran yang berjalan seru ini, dan balik kepada pemuda baju kelabu yang aneh itu yang ternyata sudah sampai ke babak yang menentukan.
Saat itu tampak Pek lek cu sudah mandi keringat, sikapnya tegang.
Jurus yang disebut “Jie goat Kao hui” oleh anak muda tadi, sesungguhnya ia belum pernah dengar, tapi kini telah keluar dari mulutnya pemuda aneh itu, kepandaian siapa sesungguhnya sangat mengagumkan.
Tatkala tampak Pek lek cu lama tidak mampu menjawab pemuda aneh itu lalu unjuk ketawanya yang hambar, kemudian berkata.
“Pek lek cu, kau kalah. setengah jam sudah lewat tapi kau masih belum mampu memecahkannya.”
Mendengar itu, wajahnya Pek lek cu pucat pasi, mendadak ia lompat dan berkata dengan suara dingin,.
“Benar, Pek lek cu sudah kalah, tapi jika kau tidak mau menyebutkan nama suhumu, aku tidak mau menyerahkan itu tiga buah bom Pek lek tan dan ke Pak hay mengambil pedang Hian peng kiam.”
Perkataan Pek lek cu itu sesungguhnya diluar dugaan si pemuda, Pek lek cu yang dalam kalangan Bu lim Sam cu sudah tentu merupakan seorang kuat yang bukan sembarangan, benar-benar tidak dinyana kalau ia berani mengingkari janjinya sendiri.
Pemuda itu memandang padanya sejenak, lalu berkata dengan suara dingin,.
“Pek lek cu, kau harus mengerti, barusan kita sudah berjanji jika aku kalah, sudah tentu akan memberitahukan siapa suhuku. Tapi sekarang kau yang kalah, jikalau kau akan mengingkari janjimu sendiri, hal itu akan pasti membuat rusak namamu sendiri, juga akan membuat tertawaan orang kangouw. Beberapa bom Pek lek tan bagiku tidak ada artinya.”
Perkataan itu meskipun diucapkan secara lunak tapi peda. Pek lek cu sebagai seorang ternama dalam dunia kangouw sudah tentu tidak mau membikin cemar atau noda nama baiknya sendiri. Maka meski agak berat dan agak mendongkol, terpaksa ia ketawa terbahak-bahak dan berkata, “Ya sudahlah.. Pek lek cu untuk pertama kali ini mengalami kekalahan mutlak..”
Ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga buah bom Pek lek tan yang lantas diserahkan kepada si anak muda.
Ketika menyerahkan bom Pek lek tan itu, tangannya tampak gemetaran. Karena bom Pek lek tan yang dengan jerih payah dibuatnya sendiri, yang pun telah dipandangnya sebagai barang pusaka, kini dengan mudah dan sekaligus pindah ketangan lain orang. Bagaimana ia tidak merasa berat dan sedih?.
Pemuda baju kelabu itu setelah menyambuti bom Pek lek tan, wajahnya masih tetap sebagaimana biasa, sama sekali tidak memperlihatkan sikap sombong atas kemenangannya. Sebaliknya dengan Pek lek cu, hatinya merasa seperti diiris-iris, hampir saja keluar air matanya.
Dan setelah pemuda itu memasukkan bom-nya kedalam saku bajunya ia lalu berkata dengan suara dingin, “Pek lek cu, aku berikan kau tempo sebulan untuk pergi ke Pak hay mengambil pedang Hian peng kiam dan kemudian serahkan padaku seperti apa yang telah kita janjikan.”
Pek lek cu merasa gemas dan mendongkol. Ia ingin segera dapat membinasakan pemuda itu untuk melampiaskan kemedongkolannya, akan tetapi bagaimana ia bisa berbuat demikian?.
Maka saat itu ia hanya dapat kertak gigi dan dengan mata mendelik mengawasi si anak muda. Lalu tanpa mengucapkan apapun juga tak menjawab perkataan si anak muda ia berlalu meninggalkan tempat tersebut dengan tindakan lebar.
Pemuda baju kelabu itu ketawa hambar. Ia memandang bayangan Pek lek cu yang sudah lenyap dari depan matanya.
Sesaat berselang mendadak diwajahnya terlihat sikap yang aneh sekali, membuat siapa yang memandangnya merasa keder.
Dalam hati pemuda itu ternyata sedang berpikir keras. Pikirnya apabila harapan yang ditunggunya banyak tahun itu tercapai dan memang hari itu juga tercapainya karena tiga bom Pek lek tan tadi ada dipikirnya akan dilemparkan satu persatu kedalam pekarangan tiga partai besar.
Memikir sampai disitu, tampak diwajahnya terlintas senyuman bangga. Selagi hendak angkat kaki meninggalkan tempat tersebut, mendadak dilihatnya ada sekelebat satu bayangan merah yang terus berdiri tepat disisinya si pemuda.
Pemuda aneh itu tampak terkejut, tanpa sadar kakinya menggeser mundur selangkah. Ketika kepalanya menoleh kesamping, orang yang berdiri disisinya tadinya itu ternyata adalah seorang gadis jelita yang berusia kira-kira dua puluh tahun.
Gadis jelita berbaju merah itu dengan senyumnya yang menggiurkan, tampak matanya yang jeli mengawasi si pemuda.
Pemuda itu sendiri begitu melihat gadis tersebut, wajahnya berubah, hampir dia menjerit. Ia mundur lagi dua langkah dan berkata dengan suara agak gelagapan.
“Kau....”
Dan sikapnya yang tadi begitu dingin dan kaku, kini telah berubah seperti seorang yang keheranan. Kejadian itu sungguh aneh. Mengapa pemuda baju kelabu itu setelah melihat datangnya gadis jelita baju merah itu sikapnya mendadak berubah begitu rupa?.
Gadis baju merah itu nampaknya juga tercengang, kini sikapnya berubah menjadi dingin.
“Aku kenapa?” tanyanya. “Kau.. kau siapa?”
“Pertanyaanmu ini kedengarannya sungguh janggal!”
Pemuda berbaju kelabu itu terperanjat sekali lagi. Nampak matanya terpejam lama sekali, lalu menarik napas perlahan. Dan setelah itu, wajahnya kembali seperti biasa, kaku dingin.
“Harap nona suka maafkan kalau aku berlaku agak lancang. Hanya....” Gadis itu memotong lalu menyambungi “Hanya karena aku mirip dengan seseorang, maksudmu?”
Pemuda itu mengawasi si gadis baju merah sejurus. Lalu mengangguk dan berkata pula.
“Benar. Kau mirip sekali dengan seseorang. Tetapi dia sudah pergi.... pergi untuk selamanya.”
Setelah mengucapkan perkataan tersebut, lalu pemuda itu memutar tubuhnya dan berlalu.
“Kau balik!!” seru gadis baju merah itu.
Seruan gadis itu agaknya mempunyai pengaruh begitu besar, seperti besi sembrani yang mempunyai daya penarik besar, hingga si pemuda baju kelabu yang sudah berjalan agak jauh bisa balik kembali.
Gadis baju merah itu kembali membuka mulutnya dan berkata dengan suaranya yang masih tetap dingin,.
“Tan Liong, kuberitahukan padamu. Orang lain tidak tahu kau siapa, tapi bagiku keadaanmu jelas seperti kaca. Meskipun kau sudah menangkan tiga buah bom Pek lek tan dan pedang Hian peng kiam dari tangannya Pek lek cu, tapi sekarang aku ingin bertaruh sepotong mangkok pecah itu dengan kau.”
Pemuda baju kelabu itu terkejut mendengar perkataan gadis itu. Dengan sikap dingin ia balas menanya, “Dengan barang apakah mau kau pertaruhkan barang itu?”
“Sepotong mangkok pecah yang lain.”
“Sepotong mangkok pecah yang lain?” menegaskan pemuda itu kaget sekali ia rupanya.
“Benar! itulah sepotong mangkok pecah lainnya yang kau butuhkan bukan?” Pemuda itu maju dua langkah dan berkata dengan nada cemas ragu-ragu, “Aku tidak percaya kau punya barang itu.”
“Tidak percaya? boleh kau raba sesukamu.”
Pemuda baju kelabu itu seketika wajahnya berubah. Tanpa disengaja tangannya dirogohkan kedalam saku bajunya. Sepotong pecahan mangkok yang semula berada dalam sakunya kini ternyata sudah lenyap entah kemana.
Bukan kepalang kagetnya pemuda itu. Ia lantas menatap wajah si gadis baju merah, baru dilihatnya bahwa ditangan gadis tersebut ada tergengam pecahan mangkok yang tadi ditaruhnya dalam saku.
Diam-diam ia bergidik. Tanpa sadar kembali kakinya menggeser kebelakang selangkah.
Gadis baju merah itu mengawasi wajahnya pemuda yang nampaknya begitu sangat terkejutnya, lalu berkatalah ia sambil perdengarkan suara ketawanya yang hambar,.
“Benda ini meskipun aku dapatkan dengan cara mencuri, tapi kalau aku mau pergi begitu saja, rasanya ada suatu perbuatan yang keterlaluan. Maka aku ingin pertaruhkan ini lagi dengan tiga jurus tipu serangan. Jikalau kau dapat memecahkan tiga jurus tipu serngan yang kana kusebutkan nanti, benda ini boleh kau ambil pulang. Tapi sebaliknya jika kau kalah, pecahan mangkok ini kubawa pergi. Akur?”

Pemuda itu mengawasi gadis baju merah itu dengan mata mendelik, hatinya diam-diam memaki,”Kalau aku tidak terluka parah yang menyebabkan kepandaianku lenyap semua sekarang, pasti akan kurubuhkan kau dalam segebrakan saja.”
“Kalau beigtu, kau yang enak sendiri.” demikian jawabnya kemudian.
“Enaknya bagaimana? Sekalipun kau merasa sedikit rugi tapi toh kau tak bisa berbuat apa-apa terhadapku bukan? Maka itu kalau kau tak mau bertaruh terpaksa benda ini begitu saja ku bawa pergi.”
“Apa kau kira aku takut padamu? Baiklah! kita tetapkan bertaruh dengan tiga jurus ilmu pukulan tangan kosong.”
Pemuda itu yakin benar bahwa sepotong pecahan mangkok yang kini berada dalam tangan sigadis besar sekali manfaatnya baginya. Apabila gadis baju merah itu benar-benar membawa benda tersebut pergi, tak tahu lagi bagaimana selanjutnya ia akan bertindak.
Oleh karenanya, terpaksa ia menahan sabar.
Gadis baju merah itu mendengar jawaban si pemuda lantas bersenyum seklias tetapi kemudian berkata pula dengan suara hambar, “Kalau begitu, mari kita mulai.”
Pemuda baju kelabu itu mendadak berubah wajahnya seperti ingat sesuatu, ia lantas berkata pula,.
“Sebelum dimulai pertaruhan ini, ada hal ingin kutanyakan padamu, bagaimana kau bisa mengetahui namaku Tan Liong.”
Gadis baju merah itu bersenyum.
“Bukan cuma namamu yang kuketahui, asal usulmu sebagian besar juga sudah kuselidiki dengan jelas. Sekarang kau sedang celaka, seluruh urat nadi dan otot-ototmu tertutup dan kepandaianmu tidak bisa digunakan lagi. Kecuali kau bisa menemukan Hiat im cu yag dengan ilmunya Boan thian Ciu khi (kekuatan murni dari alam) bisa dipakai menobloskan urat nadi dan otot-ototmu, atau kau bisa dapat ilmunya Pan giok sin kang dari Siao lim pay kau bisa tertolong. Tapi kalau begitu, seumur hidupmu kau tak akan bisa menggunakan kepandaianmu lagi. Betul atau tidak?”
Perkataan gadis baju merah itu membuat Tan Kiong, demikian nama pemuda baju kelabu itu kemekmek, dengan sorot mata keheran-heranan diawasinya gadis dihadapannya itu, suasana seram yang menakutkan mendadak seperti telah mengurung dirinya.
Kemudian si pemuda menanya, “Benar kau tahu begitu jelas asal usulku?”
“Apa yang leru diherankan?”
Tan Liong kembali mengawasi gadis itu sejenak, agaknya dari wajah orang ia ingin mendapatakn sesuatu yang ia harapkan, ingin membuka mulut, tetapi akhirnya diurungkan. Terdengar tarikan napas panjang, kemudian baru bisa ia berkata, “Nona, sekarang boleh kita mulai! Sebutkanlah nama ilmu pukulan yang pertama.”
“Sebagai tamu tak pantas mendahului tuan rumah. Sebaiknya kau yang membuka pertandingan ini lebih dulu.”
“Jurus pertama, Jit goat Kan hut”
Gadis baju merah itu ketawa hambar, lantas berkata,.
“Nama ilmu pukulan itu bukankah tadi tak mampu dijawab oleh Pek lek cu? Sekarang biarlah aku yang mencoba-coba memecahkan, Oh in Bit po”
Yang dimaksud Oh in Bit po adalah awan gelap menutupi angkasa.
Mendengar jawaban tersebut, dalam hati Tan Liong diam-diam terkejut, matanya mengawasi sigadis kemudian katanya lagi, “Dan sekarang nona boleh sebutkan jurus yang pertama.”
“Baiklah, jurus pertamaku dinamakan Hang hay Lan thian.”
Tan Liong terperanjat. Diam-diam diulangnya lagi sekali nama tipu pukulan tadi.
Selang sesaat, Tan Liong sejak mendengar gadis itu menyebutkan nama tipu pukulan itu, segera mengetahui bahwa ia sedang menemukan lawan yang tangguh. Kepandaian dan pengertian ilmu silat gadis baju merah didepannya ini sebetulnya tidak berada disebelah bawah kepandaiannya sendiri.
Sejurus lagi sang waktu berlalu, kening si pemuda berkerut, otaknya dikerjakan keras memikirkan cara pemecahan tipu serangan tersebut.
Selagi berada dalam demikian, tiba-tiba didengarnya suara Pek lek cu yang menggeram dari tempat kejauhan.
“Tidak nyana, orang dari tiga partai besar bisa juga memakai cara rendah begitu rupa? Apakah kalian tidak takut menjadi buah tertawaan sahabat-sahabat dunia kangouw? Jikalau belum mau pergi, hati-hati. Aku nanti akan hancur leburkan tiga partai besar kalian yang menganggap diri sebagai partainya orang baik-baik.”
Murid-murid tiga partai besar yang kala itu sedang mengurung Yao lie lu, ketika mendengar bentakan yang ditujukan untuk mereka itu, rupanya terkejut sekali. Tetapi disitu tidak kelihatan orang, hanya suaranya saja yang masih berkumandang.
Pada waktu sudah lima orang diantara anak-anak murid tiga partai besar itu yang sudah berkorban jiwa ditangan Yao lie lu.
Hai seng cu yang mendengar perkataan tadi, lantas menyahut dengan suara tawar: “Sahabat, kau terlalu jumawa! Kami justru ingin lihat kau menggunakan cara apa menghancur-leburkan partai kami!”
Tiba-tiba terdengar suaranya Ciang hay Sin kun yang berakat,.
“Hai, hidung kerbau! Tahan mulutmu! Jangan kau kira cuma kau seorang, sepuluh gunung Bu tong san juga bisa dibikin rata sama tanah dengan tiga buah bom Pek lek tan saja. Kau dengar?”
Kata-kata Ciang hay Sin kun membuat tiga ketua partai besar beserta orang-orangnya pada berubah wajahnya. Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa Pek lek cu juga suka unjuk diri disitu.
Pek lek cu sudah lama terkenal dengan tindak tanduk dan sikapnya yang luar biasa. Sudah lima puluh tahun lamanya ia menggunakan waktunya dipergunungan untuk dapat menciptakan bom Pek lek tan, itu pun baru berhasil membuat lima belas buah saja. Bom-bom buatannya itu begitu dahsyat kekuatannya, hingga dengan sebuah bom saja dapat dipakai untuk menghancurkan sebuah bukit kecil.
Dulu tatkala diadakan pertandingan lima silat di gunung Bong san. Dengan hanya sebuah bom Pek lek tan saja, Pek lek cu pernah menggegerkan keadaan menghancur-leburkan beberapa puluh orang dari golongan baik-baik maupun orang dari golongan sesat.
Dan kini orang yang beradat luar biasa dengan senjatanya yang ganas itu ternyata sudah munculkan diri disitu, sudah barang tentu cukup memakan tempo setengah detik mengejutkan orang-orang tiga partai besar yang semula tidak mengetahui sama sekali.
Terdengar pula suara Pek lek cu yang dengan suara yang besar berakata,.
“Malam ini aku kebetulan aku aku ingin mencari Naga Merah yang dulu pernah mengganas dunia kangouw itu. Maka kali ini bolehlah kulepaskan kalian tiga orang yang mengaku Ciang bun jin dari partai orang baik-baik. Jikalau tidak karena adanya halangan itu pasti akan kusuruh kalian rasakan bagaimana rasanya bom Pek lek tan.”
Ketika orang ketua tiga partai besar itu, wajahnya pada berubah. Ketiganya saling memandang, agaknya hendak meminta pikiran masing-masing.
Pada saat itu, Ciang hay Sin kun, Yan san It liong, Pendekar Kalong dan lain-lainnya sudah lompat keluar dan berdiri disisinya Yao lie lu.
Ketua dari Siao lim pay begitu mendengar disebutnya nama Pek lek cu itu, diam-diam lain berpikir, “Iblis itu adanya luar biasa. Jikalau kita tidak bisa melihat gelagat, mungkin akan mendapat malu besar.”
Karena pikirannya itu, maka ia lantas memberitahukan penadapatnya itu pada Pek lek cu, “Pek lek cu, atas permintaan ini terpaksa kami pulang dulu.”
Dan setelah berkata demikian, lalu berpaling dan berkata pada Yao lie lu.
“Budak! Untuk sementara kami tidak ambil tindakan apa-apa terhadapmu. Harapkan suka ingat sesama manusia, jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan. Jikalau kau masih melakukan perbuatan itu, kami dilain waktu akan membikin perhitungan lagi.”
Setelah berkata demikian, lalu dipimpinnya orang-orangnya berlalu meninggalkan selat itu.
Yao lie lu hanya menyambut ucapan ketua Siao lim pay tadi dengan suara yang dikeluarkan dari hidung.
Ciang hay Sin kun lalu berkata pada Pek lek cu, “Hai, setan tua Pek lek cu, keluarlah, bagaimana kesudahannya pertaruhanmu dengan pemuda itu?”
Pek lek cu lalu unjukkan diri, wajahnya nampak muram. Untuk tidak menjawab pertanyaan orang ia tidak berani, maka hanya berkata,.
“Jangan kau sebut-sebut lagi tentang pertaruhan itu. Malam ini aku jatuh terjungkal ditangan pemuda itu.”
Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya pada melompat dari tempat berdirinya saking kagetnya. Sungguh tidak pernah mereka pikir bahwa Pek lek cu yang ulung bisa jatuh oleh pumda kemaren sore itu, benar-benar suatu berita yang didengar terlalu ganjil oleh mereka. Maka sekali lagi Ciang hay Sin kun coba menagih, “Jadi kau sudah mengaku kalah?”
“Tiga biji bom Pek lek tan ku sudah pindah ke dalam tangannya. Apa itu berarti aku masih menang?”
Pendekar Kalong lantas nyeletuk, “Apakah kalian tidak merasa tingkah laku dan sikap pemuda baju abu-abu itu selalu diliputi keanehan?”
Ciang hay Sin kun setelah mengerutkan kening sejenak, “Benar.” katanya membenarkan “Anak muda itu sesungguhnya memang aneh. Siapa sebenarnya dia? Kenapa kita orang-orang tua, seorangpun tak ada yang tahu? Dari perbuatan semula yang mengeluarkan sepotong pecahan mangkok memancing keluar si Naga Merah, itu saja sudah cukup mengejutkan dan mengherankan.”
Jago kenamaan itu semuanya sudah menumplekkan segenap perhatian melalui pembicaraan tadi kepada pemuda baju kelabu yang dianggap aneh tindak tanduknya itu. Asal usul pemuda itu memang benar merupakan suatu teka teko besar bagi mereka.
Perlu kiranya diketahui, seorang kenamaan sebagai Pek lek cu, yang dengan bom-nya begitupun dengan kepandaiannya telah lama berkecimpung dan mengalahkan banyak jago-jago menghadapi pemuda itu masih tidak berdaya dalam hal mengadu ilmu silat, maka sampai dimana tingginya kepandaian ilmu silat yang dimiliki pemuda tersebut, sesungguhnya memang sukar dijajaki.
Pada saat itu, hanya Yao lie lu yang dengan perasaan pedih, berlalu diam-diam ia meninggalkan tempat tersebut.

Menengok keadaan Yao lie lu yang seperti sudah tak bersemangat lagi itu, Ciang hay Sin kun yang paling dulu melihatnya mendadak tergerak hatinya. Tanpa merasa ia berteriak memanggil si nona.
“Yao lie lu, aku ada sedikit pertanyaan untukmu.” Yao lie lu balikkan badannya dan balas menanya, “Kau mau tanya apa?”
Ciang hay Sin kun dongakkan kepalanya, agaknya tengah berpikir, lama sekali barulah ia berkata lagi “Tentang asal usul dirinya anak muda itu, benarkah kau tidak tahu sama sekali?” Yao lie lu perlihatkan senyuman getir, menjawab sambil gelengkan kepala. “Jikalau aku tahu,” katanya “Apakah aku tak suka memberitahu kalian?”
Setelah ia dengan penyahutannya itu, kembali diputarkannya badannya dan hendak berlalu lagi.
Ciang hay Sin kun mengawasi berlalunya nona itu, beberapa kali kelihatan bibirnya bergerak, tetapi sedikitpun tidak ada keluar dari mulutnya. Akhirnya ia menghela napas dan berkata kepada Pek lek cu yang masih berdiri seperti orang bisu.
“Pemuda aneh itu benar-benar orang muda yang mempunyai kepandaian silat tinggi luar biasa. Tetapi entah ia dianiaya oleh siapa sampai begitu keadaannya, seluruh kepandaiannya tak dapat digunakan lagi? Jawaban teka teki ini tidak boleh tidak harus kita dapatkan.”
Berkata sampai pada kalimat itu, tiba-tiba seperti ingat sesuatu, ia sambil mengawasi Pek lek cu berkata pula.
“Pek lek cu, dulu ketika diadakan pertandingan silat diatas gunung Bong san, yaitu waktu si Naga Merah hanya unjuk diri dan lalu membunuh orang-orang dari golongan baik maupun orng-orang jahat, apa kau juga tak dapat melihat tegas wajah dibalik aslinya bagaimana?”
“Tidak! kala itu dia memakai kerudung kain merah, seluruh badannya juga memakai pakaian warna merah, sama sekali tidak dapat kulihat wajah dibalik kerudungnya.”
Ciang hay Sin kun kembali nampak seperti berpikir sejenak, lalu berkata lagi,.
“Diantara kau dengan si Naga Merah dan Hiat Im cu bertiga, kepandaian siapa yang paling tinggi?”
“Tentang ini masing-masing belum pernah saling bertanding. Sulit untuk diambil ketetapannya. Cuma kalau diukur dari omongan luar ayng disiarkan luas, seharusnya hanya Hiat im ciu yang paling tinggi. Naga Merah kedua.”
Ciang hay Sin kun lantas memotong setelah tertawa. “Kalau begitu, kau sendiri tersebut paling buncit?”
Dengan wajah kemerah-merahan Pek lek cu berkata pula,.
“Sesungguhnya kau masih belum percaya kalau kepandaian Naga Merah diatasku. Itu juga yang mendorongku menjajal dia supaya sekali kali dia cobai bom Pek lek tanku ini.”
“Tapi dua bom Pek lek tan yang kau sambitkan tadi bukankah sudah disambuti oleh si Naga Merah?”
Kembali Pek lek cu merah wajahnya sampai ketelinga, tapi lekas juga ia berkata menutup matanya.
“Kecuali dia, aku percaya tak ada orang lain lagi mempunyai kepandian seperti itu.”
“Mengenai asal usulnya kedua orang itu, tidak boleh tidak kita harus meneyelidiki dan mesti dibikin terang.”
“Sekarang begini saja, kalian berusaha membuka kedok pemuda aneh itu dan kau sendiri yang akan berdaya membuka tutup kerudungnya si Naga Merah.”
Ciang hay Sin kun anggukan kepala, Pek lek cu juga tak mengatakan apa-apa lagi, malah sebentar kemudian, kakinya dienjot lompat melesat jauh sepuluh tombak yang sebentar kemudian lalu menghilang ditempat gelap.
Ciang hay Sin kun tarik napas, sedang Yan san It hiong lalu berkata padanya,.
“Sejak si Naga Merah muncul didunia kangouw, kenapa begitu banyak pembunuhan dilakukannya? Apa tidak takut dia akan akibatnya yang menimbulkan kemarahan semua orang rimba persilatan?”
Baru habis berkata Yan san It hiong, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara orang yang disertai jengekannya yang bernada dingin. Kata orang itu “Dalam segala sepak terjangnya si Naga Merah tidak pernah takut pada siapapun juga.”
Si Pendekar Kalong dan Ciang hay Sin kun ketika mendengar suara itu, wajahnya berubah. Mereka berpaling serentak, dibelakang mereka entah sejak kapan telah kedapatan berdiri sesosok bayangan orang, ketika ditegasi seluruh awak badannya mengenakan pakaian warna merah.
Bukan kepalang kagetnya ketiga orang itu, sampai tanpa merasa sudah menggeser kaki beberapa tindak kebelakang. Perkataan “Naga Merah!” hampir saja keluar dari mulut mereka.
Si Pendekar Kalong menguasai keadaan, dengan tenang yang dilakukan sebisa-bisanya sambil ketawa meringis, ia berkata,.
“Tidak tahunya sahabat Naga Merah yang datang?! Aku si orang she To sungguh amat beruntung bisa bertemu dtempat ini dengan sahabat!”
Orang serba merah itu ketawa dingin, kemudian berkata, “Tuan ini bukan itu orang yang beruntung mendapat gelar Pendekar Kalong?”
“Benar....”
“Barusan ketua dari tiga partai itu pada kemana perginya?”
Pendekar Kalong yang ditanya demikian mendadak terperanjat sekali. Ia balas menanya dengan agak gugup.
“Kenapa? Kau mencari ketua itu ada keperluan apa?”
“Ya.. aku cari mereka. Kearah mana mereka pergi?”
Si Pendekar Kalong tercengang. Sesaat lamanya tak mampu ia menjawab. Hanya dirasakan sekujur badannya dingin beku, bulu romanya berdiri bagai orang meriang.
Begitupun dengan Yan san It hiong, orang ini pada waktu itu barangkali tidak berani bernapas.
Orang serba merah itu ketika melihat tiga orang yang ditanya tidak ada seorang yang berani buka mulut, lalu menegur lagi dengan gusar.
“Apakah kalian ingin cari mampus?”
“Sahabat Naga Merah, kau sungguh keterlaluan, Jikalau kau ada seorang ternama didunia Kangouw, tentunya tidak perlu memcari keterangan dari mulut orang tentang kemana perginya ketiga ketua partai besar itu bukan?” berkata Ciang hay Sin kun sambil terbahak-bahak.
“Orang kata Ciang hay Sin kun ada seorang luar biasa pada masa kini, ada satu hari. Aku nanti juga ingin belajar kenal dengan kepandaianmu barang beberapa jurus saja.” berkata Naga Merah sambil ketawa dingin. Dan setelah itu tanpa berkelebat sinar merah, manusia seram itu telah menghilang dari depan matanya.
Naga Merah... seorang misterius yang penuh diliputi teka teki, juga seperti seorang yang penuh bernoda darah ditubuhnya....
Orang-orang dalam dunia kang-ouw tak seorangpun mengenalnya, juga tak tahu dia itu adalah Naga Merah yang namanya dulu sangat terkenal atau bukan!.
Setelah Naga Merah itu berlalu, Ciang hay Sin kun bertiga pada menarik napas lega. Ciang hay Sin kun kemudian berkata seperti pada dirinya sendiri.
“Rupa-rupanya memang Naga Merah ini akan membawa kekacauan besar bagi dunia rimba persilatan.”
Ciang hay Sin kun mengangguk lalu berjalan kembali ketempat semula.
Pada saat mereka meninggalkan tempat tersebut, suara siulan nyaring seperti suara setan jejadian itu tiba-tiba terdengar pula.
Orang-orang yang kala itu masih berada disitu lantas pada pucat wajahnya, sebab suara seperti itu telah mereka kenal sebagai suara si Naga Merah.
Pendekar Kalong yang masih belum lenyap jerinya, begitu mendengar itu tanpa sadar badannya gemetar. Ketika lebih diteliti, ternyata suara datangnya dari rimba sebelah barat tempatnya berdiri. Ia seperti ingat sesuatu lantas berseru “Celaka!! Mari lekas kita lihat!!”
“Hai.. ada apa kau?” tanya Ciang hay Sin kun kaget.
“Orang-orang tiga partai besar barangkali akan celaka oleh si Naga Merah.”
Ciang hay Sin kun dan Yan san It hiong yang mendengar perkataan Si Pendekar Kalong, wajahnya berubah serentak.
Jikalau benar Ciang bun jin dari tiga partai besar dan semua murid-muridnya nanti terbunuh si Naga Merah, maka dalam rimba persilatan pasti akan timbul bencana besar, ini pun berarti pula dunia kiamat bagi orang-orang kangouw.
Mengingat hebatnya akibat kalau sampai terjadi soal pembunuhan tiga ketua partai besar tersebut, maka Ciang hay Sin kun bertiga lalu mengurungkan maksudnya semula, dan terus lakukan kaki mereka kearah dari mana datangnya suara seperti setan tadi.
Ini adalah satu soal baru yang sangat besar. Tiga Ciang bun jin tiga partai besar datang sendiri-sendiri keselat Ba sing hiap itu sudah merupakan suatu peristiwa yang bukan biasa.
Apabila ketiga ciang bun jin itu kalau sampai terbinasa oleh si Naga Merah, entah akan bagaimana jadinya dengan akibatnya dari peristiwa tersebut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar