Sabtu, 13 Januari 2018

Naga Merah 02


MENDADAK terdengar suara bentakan.
“Tahan dulu !” dan berbareng dengan itu Yao lie lu cepat bagaikan kilat sudah lompat melesat kedalam kalangan.
Suara bentakan tadi benar-benar seperti mengandung pengaruh yang tidak boleh di bantah. Tiong tong It lo dan lima orang dari Tong goan Cit sat yang sedang menyerang Hian peng Kauwcu, semua lantas pada menarik kembali masing-masing serangannya dan mundur secara teratur.
Tatkala semua mata ditujukan kedalam kalangan, kecantikan dan ketawanya Yao lie lu yang manis menggiurkan telah membuat tercengang semua orang yang berada ditempat seputarnya.
Kecantikan Yao lie lu memang sukar di cari tandingannya. Sejak wanita cantik ini muncul dalam dunia Kang-ouw, entah berapa banyak jiwa telah melayang ditangannya karena orang orang itu kepincut oleh kecantikannya.
Hian peng Kauwcu (Pak hay Mo kun) begitu melihat Yao lie lu hatinya jadi tergoncang keras. Maka seketika itu tampak tercengang berdiri macam patung.
Yao lie lu lantas berkata sambil ketawa.
“Pak hay Mo kun, sepotong pecahan mangkok itu lebih baik kau tinggalkan saja. Jikalau tidak, kalian enam orang barang kali selamanya tidak akan bisa kembali ke Pak hay.”
Perkataan ini telah menimbulkan amarah besar dalam hati Pak hay Mo kun dna kelima orang tongcunya. Saat itu juga Pak hay Mo kun menjawab sambil tertawa bergelak-gelak.
“Budak hina, kau ini barang kali Yao lie lu yang namanya sudah menggetarkan Kang-ouw.”
“Ya, Kau toh sudah tahu aku siapa, maka aku percaya kau tentu akan segera meninggalkan pecahan mangkok itu. Lagi harus ingat barang itu bukanlah kepunyaanmu.”
Perkataannya si cantik meski diucapkan dengan suara sangat merdu, namun ada sedikit mengandung ancaman hebat.
Pada saat itu Tiong tong It lo dan lima saudara dari Tiong goan Cit sat parlahan lahan sudah pada mundur, mereka pikir hendak membiarkan dulu Yao lie lu melawan Pek hay Mo kun, sebab hal ini akan menguntungkan bagi pihaknya sendiri.
Pak hay Mo kun berkata pula sambil ketawa mengejek: “Kalau kau mampu, boleh kau coba-coba merampas benda ini.”
“Kalau begitu, kita rasanya tidak boleh tidak harus adu tenaga,” kata Yo lie la sambil bersenyum.
Perkataannya ini diucapkan dengan sikap tenang dan wajah ramai senyuman, agaknya sedikitpun tidak mengandung maksud hendak membunuh. Akan tetapi sebenarnya senyumannya itu justru adalah senyuman iblis yang seram dan mengandung napsu membunuh.
“Benar!” jawab Pak hay Mo kun sambil tertawa dingin.
“Itu memang jalan yang paling baik...” berkata lagi Yo lie la, yang saat itu wajahnya telah berubah secara mendadak. Matanya menyapu kearah lima orang Tongcu dari Hian peng kauw.
“Lebih baik kalian semua maju berbareng!” ia menantang sambil tertawa dingin.
Pak hay Mo kun sudah tidak dapat menahan rasa gusarnya lagi. Tiba-tiba dia membentak keras, “Budak hina! Kau terlalu tidak pandang mata, sambutlah serangan pertamaku ini.”
Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun, dari sini meluncur keluar satu serangan yang membawa angin sangat dahsyat.
Karena serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba, Yao lie lu juga rupanya terperanjat, sambil tertawa dingin tubuhnya nampak melesat keatas menghindarkan serangan lawan tersebut. Kemudian tangannya kelihatan diulur, dengan satu tipu gerakan Thian-seng Hwe shia (bintang dilangit meluncur turun) dengan cepat ia menotok jalan darah Cing thay hiat ditubuh Pak hay Mo kun.
Gerakan wanita cantik itu sungguh mengejutkan semua orang yang menyaksikan pertempuran itu. Hanya dengan satu gerakan manis yang diperlihatkan oleh Yao lie lu itu sudah cukuplah dapat diukur berapa tingginya kepandaian ilmu silat gadis cantik itu.
Tapi Pak hay Mo kun juga bukanlah satu orang lemah. Begitu ujung jari Yao lie lu hendak mengenakan sasarannya, dengan cepat kakinya bergeser dan mendorong keluar tangan kirinya. Semua gerakannya dilakukan cepat bagai gerakan kilat.
Mau tak mau Yao lie lu merasa kagum juga atas ketinggian ilmu Pak hay Mo kun itu. Ternyata kepandaian kauwcu ini juga sangat tinggi. Gerakannya pun gesit bukan main, kekuatannya juga hebat.
Seketika itu terpaksa Yao lie lu melesat tinggi lagi, dan sambil jumpalitan ditengah udara badannya kemudian melayang turun sejauh kira-kira tiga tombak.
Semua orang kuat yang menyaksikan kejadian itu pada terperanjat. Kepandaian Yao lie lu benar-benar bukan cuma nama kosong belaka.
Sampaipun Pak hay Mo kun sendiri juga dibikin terkejut. Sungguh tidak pernah ia menyangka bahwa orang-orang kuat didaerah Tionggoan ada mempunyai kepandaian begitu tinggi. Yao lie lu yang berusia belum cukup dua puluh tahun ternyata sudah memiliki kepandaian luar biasa tingginya.
Yao lie lu setelah melayang turun kembali dengan kecepatan luar baisa lantas melancarkan serangan beruntun sampai dua kali.
Ketika Yao lie lu untuk kedua kalinya melancarkan serangan, lima Tongcu dari Hian peng kauw pada berubah wajahnya. Dengan wajah penuh amarah perlahan-lahan mereka mendesak Yao lie lu.
Suasana dimedan pertempuran benar-benar sangat tegang.
Sekalipun Yao lie lu dapat berhasil merampas kembali pecahan mangkok itu, orang-orang kangouw yang berada diluar kalangan pasti akan turun tangan untuk merampas lagi dari tangannya.
Pada saat itu orang-orang kangouw diluar kalangan yang berjumlah lima puluh lebih tiba-tiba pada menggeser kaki mereka kedalam kalangan.
Yan-san It-hiong dan Pendekar Kalong memandang kedalam kalangan sejenak, lalu pandangan kembali ditujukan kepada dirinya pemuda baju abu-abu.
Mereka melihat si pemuda sambil ketawa menyeringai matanya sedang ditujukan kearah orang-orang yang sedang bertempur.
Pendekar Kalong dalam hati merasa bingung melihat sikap si pemuda. Pikirnya: “Pemuda baju abu-abu ini kelihatannya tidak mengerti ilmu silat sama sekali tapi mengapa pecahan mangkok itu bisa berada dalam tangannya?”
Karena berpikir demikian, kakinya lalu melangkah menghampiri pemuda pendiam berbaju abu-abu itu dan lantas menanya padanya: “Siapakah nama saudara yang mulia?”
Pemuda baju abu-abu mengawasi Pendekar Kalong sejenak lalu balas menjawab: “Locianpwe bukankah itu Pian hok hiap yang kesohor?”
Pertanyaannya ini sesungguhnya jauh diluar dugaan Pendekar Kalong. Maka seketika itu tampak wajahnya terperanjat. Lama baru ia bisa menjawab: “Benar. Lohu adalah Pian hok hiap. Dan saudara kecil......”
Pemuda baju abu-abu itu lantas memotong, “Locianpwe tidak usah banyak menanya. Namaku sudah lupa.”
Pian hok hiap ketika mendengar jawaban tidak langsung itu, alisnya tampai dikerutkan, dalam hatinya diam-diam berpikir. “Pemuda ini mau dikata tidak kenal ilmu silat, tapi kenapa ia bisa lantas mengenal namaku?”
Pemuda baju abu-abu ketika melihat Pendekar Kalong seperti sedang berpikir, lalu berkata pula sambil ketawa hambar.
“Locianpwe bukankah tadi ingin menanya mengapa potongan pecahan mangkok itu bisa berada dalam tanganku?”
“Benar.” jawab Pendekar Kalong cepat.
“Tentang ini.... maaf aku tidak bisa beritahukan.”
Pendekar Kalong nampak berpikir sejenak, lalu menanya.”
“Apa kau pernah melihat Naga Merah?”
“Melihat memang sudah, tapi belum dapat melihat wajah aslinya.”
“Kenapa?”
Barusan bukankah Locianpwe juga sudah lihat dia?”
Pendekar Kalong diam-diam mengakui kebenaran ucapan pemuda itu. Naga merah sekujur badannya merah. Mukanya juga berkerudung kain merah. Memang tidak dapat dilihat tegas bagaimana wajah aslinya.....
“Itu orang yang mengenakan pakaian serba merah. Apakah benar Naga Merah?”
“Apakah locianpwe anggap bukan?”
Pertanyaan itu sebaliknya membuat Pendekar Kalong melongo. Dalam hatinya kembali berpikir bahwa pemuda dihadapannya ini ada sedikit kukoay. Kalau mau ia tidak mengerti ilmu silat, agaknya tidak masuk diakal. Tetapi kalau mau dibilang ia mengerti ilmu silat, mengapa barusan hanya diserang begitu saja oleh Pak hay Mo kun mulutnya lantas menyemburkan darah? Bagaimana sebetulnya?.
Sekalipun orang yang sudah banyak pertahanan dan pengalaman seperti Pendekar Kalong menghadapi pemuda baju abu-abu yang sangat misterius itu juga mesti merasa bingung.
Seketika itu ia lalu menanya pula sambil kerutkan keningnya. “Lohu tidak tahu entah siapa suhumu yang mulia.”
“Locianpwe anggap aku mengerti ilmu silat?”
“Lohu pikir begitu.”
Pemuda baju abu-abu itu tiba-tiba ketawa bergelak-gelak.
Kelakan yang tidak terduga-duga itu membuat Pendekar Kalong melengak. Lagi-lagi ia menanya: “Kau ketawakan apa?”


Pemuda itu menghentikan ketawanya lalu menjawab,.
“Perkataan locianpwe ini sebetulnya terlalu mengherankan aku. Sebab sejak tadi aku dijelmakan dalam dunia, belum pernah ada orang yang menanya aku sedemikian melit.”
“Aku tidak mengerti apa maksud perkataan saudara?”
“Tidak mengerti? Ya sudah. Cuma memang benar aku mengerti ilmu silat. Tapi kecuali kalau aku bisa menemukan Hiat im cu, semua kepandaianku itu selamanya tidak akan bisa pulih kembali.”
“Kau maksudkan bahwa kau telah dibokong orang?”
Pemuda itu angguk-anggukan kepala. Sekali lagi ia hendak membuka mulut mendadak ada terdengar suara ketawa dingin yang kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan orang.
Tatkala Pendekar Kalong buka matanya dan melihat siapa yang datang, hatinya bercekat. Cepat-cepat ia menyata, “Sahabat Ciang hay Sin kun tidak nyana kau ada kegembiraan begitu besar turut menghadiri keramaian malam ini.”
Orang yang baru datang ini adalah seorang yang berdandan sebagai seorang pelajar pertengahan umur dengan pakaian seperti umumnya dipakai oleh golongan orang terpelajar, tangannya tampak mengoyang-goyangkan kipasnya. Dia adalah seorang aneh nomor satu didalam dunia yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatanm yalah Ciang hay Sin kun.
Ciang hay Sin kun ini sudah sepuluh tahun lebih tidak memperlihatkan diri dunia Kangouw. Tapi pada malam itu mendadak muncul dilembah sempit dibawah kaki gunung Kiu ho san, bagaimana tidak membikin Pendekar Kalong menjadi keheran-heranan?.
“Lootee, barusan bukankah kau pernah kata bahwa manusia hidup dalam dunia dimana saja bisa berjumpa?” demikian kata Ciang hay Sin kun, sambil bersenyum-senyum.
Ketika Ciang hay Sin kun itu muncul didalam kalangan, pemuda baju abu-abu itu tidak perdulikan padanya, malah ia mengarahkan pandangan matanya kearah orang-orang yang sedang bertempur.
Pada saat itu lima orang Tongcu dari Hian peng kauw sudah turun tangan semua mengerubuti si wanita cantik Yao lie lu. Dalam medan pertempuran hanya kelihatan bergerak-geraknya bayangan enam orang bertempur sedang sengit-sengitnya.
Mereka nampaknya sudah bertempur secara mati-matian hanya disebabkan karena sepotong pecahan mangkok saja.
Lima Tongcu dari Hian peng kauw ditambah lagi dengan Pak hay Mo kun, betapa tinggi ilmu kepandaian Yao lie lu mungkin rasanya akan keripuhan juga menghadapi kesemuanya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras. Tiong tong It to Diok Pek Leng bersama menyerang enam orang-orang Hian peng kauw.
Orang-orang yang apda menyaksikan diluar kalangan semua juga pada mengincarkan matanya kearah pecahan mangkok itu, agaknya mereka juga sedang menantikan kesempatan paling baik untuk turun tangan.
Keadaan dimedan pertempuran saat itu mendadak berubah kalut. Bayangan orang bersileweran, sambaran angin yang meluncur keluar dari serangan mereka telah membuat deibu pada mengulak naik.
Pada saat itu Pendekar Kalong menanya pada Cian hay Sin kun dengan suara perlahan sambil menoleh kearah si pemuda abu-abu.
“Apakah Loko kenal pemuda itu?”
“Tidak. Cuma malam ini mungkin kita akan menyaksikan pertunjukan yang amat ramai. Bu lim Sam cu barangkali sudah muncul semua disini.” demikian adalah jawaban Ciang hay Sin kun.
Baru saja perkatannya itu ditutup, satu suara ketawa dingin yang dapat membangkitkan bulu roma tiba-tiba terdengar nyelusup dalam telinga mereka.
Suara itu telah mengejutkan hatinya semua orang yang ada disitu. Sebab suara itu agak mirip dengan suara ketawanya Naga Merah, tapi kalau didengarkan lebih cermat, sebaliknya tidak mirip-miripnya...
Baru saja sirap suara ketawa itu lalu disusul suara bentakan... “Kalian semua jangan turun tangan....”
Suara bentakan itu meskipun tidak keras, tetapi dalam telinga orang-orang yang ada disitu, kedengarannya seperti suara geledek menyambar. Telinga mereka dirasakan pengang sekali.
Suara bentakan itu agaknya jgua mengandung pengaruh yang tidak sedikit. Orang orang yang sudah turun tangan benar saja pada berhenti sambil tarik mundur serangan masing-masing.
Tatkala semua mata ditujukan kearah dari mana datangnya suara tadi, ternyata disekitar lembah hanya kegelapan saja yang nampak. Kecuali bayangan orang-orang yang menyaksikan pertempuran diluar kalangan tidak ada lagi lain orang yang mereka tidak tahu benar dari mana suara itu asalnya.
Tapi suara ketawa tadi memang benar mirip dengan suaranya Naga Merah. Orang-orang yang ada disitu pada berpikir: “Apa si Naga Merah itu muncul lagi?”
Mengingat dirinya Naga Merah semua orang yang ada disitu tanpa disadari hatinya timbul perasaan jeri.
Suara dingin itu kembali terdengar pula dari tempat kegelapan.
“Pak hay Mo kun! Kalau kau masih ingin bisa pulang ke ke Pak hay dalam keadaan selamat, kau tinggalkan sepotong mangkok pecah itu....”
Pak hay Mo kun menjawab sambil ketawa dingin,.
“Tuan tidak berani unjuk muka, barang kali tidak ada muka untuk menemui orang. Tentang pecahan mangkok ini kalau tuan mampu tidak halangan coba-coba ambil kembali dari tanganku.”
Terdengar pula suara itu berkata sambil perdengarkan suara ketawanya yang besar. “Jikalau Pak hay Mo kun tidak takut kepada Pek lek tan (senjata meledak) terpaksa aku akan turun tangan juga.”
Begitu mendengar disebutkan “BOM PEK LEK TAN”, seketika itu juga telah membuat semua orang yang ada disitu pada terperanjat dan merasa ketakutan setengah mati.
Pek lek cu yang dalam nama urutan dari Bu lim Sam cu (tiga cu dari Rimba persilatan) jatuh nomor tiga itu akhirnya muncul.
Senjata bom Pek lek tan dari Pek lek cu ini namanya sudah pernah menggetarkan dunia kangouw. Tatkala diadakan pertandingan diatas gunung Bong San pada tiga puluh tahun berselang, ia dengan sebuah bom-nya Pek lek tan telah membuat hancur berserakan tubuhnya empat puluh orang lebih, baik orang itu dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Sehingga menggetarkan seluruh rimba persilatan.
Pek lek tan telah diyakinkan hampir setengah umur Pek lek cu, untuk ia dapat menjadikan senjata tersebut dalam wujud bom yang amat dahsyat itu. Dengan menggunakan sari bahan-bahan peledak yang keras dan menggunakan waktu lima puluh tahun lamanya ia baru berhasil membuat lima belas saja. Kedahsyatan senjata berupa bom-bom itu, kalau sudah meledak orang-orang yang berada ditempat sekitar 10 tombak sukar dapat menghindarkan diri dari ledakan bom tersebut.
Maka, bagaimanapun hal ini tidak mengejutkan semua orang yang berada disitu ketika mendengar disebutnya nama bom tersebut.
Pak hay Mo kun berubah pucat wajahnya. Keringat tampak mengucur keluar mambasahi sekujur jidatnya. Jikalau ia tetap berkukuh tidak mau menyerahkan sepotong pecahan mangkok itu, niscaya Pek lek cu segera akan melemparkan Pek lek tannya.
Dan jikalau Pek lek tan benar-benar harus meledak disitu, jangan kata ia bersama lima Tong cunya sukar menghindarkan bahaya kematian, sekalipun orang yang berada di seputar tempat itu rasanya tidak akan ada satu yang terluput dari keganasan bom tersebut.
Maka dalam waktu amat singkat, semua orang yang tadi berkerumun menyaksikan pertandingan, sekarang sudah pada menyingkir dengan hati kebat-kebit. Mereka agaknya sangat kuatirkan suatu kejadian gempar akan meledak disitu.
Suasana tetap tegang kalau tidak mau dikatakan semakain memuncak. Dalam keadaan demikian, kembali terdengar suara Pek lek cu yang berkata: “Pak hay Mo kun, benar-benar kau tidak mau lepaskan pecahan mangkok itu?”
Mendengar pertanyaan itu, Pak hay Mo kun terkejut. Seketika itu hanya dapat menghela napas panjang pendek dan kemudian dari dalam badannya ia mengeluarkan sepotong mangkok pecah tersebut....
Tiba-tiba terdengar pula suara yang menyeramkan. Suara ini, sudah dikenal baik oleh semua orang yang ada disitu, karena itu adalah suaranya Naga Merah yang biasa di keluarkan sebelum ia muncul.
Setelah suara seperti setan yang menyeramkan itu sirap, lalu disusul dengan bunyinya suara keresekan seperti suaranya orang sedang berjalan. Suara ini terdengar tegas, memecahkan suasana tegang dimalam gelap gulita dibawah gunung Kim hoa san dan kedengarannya makin lama makin dekat...
Naga Merah kembali hendak perlihatkan diri! Hal ini mau tidak mau sudah menimbulkan rasa takut hebat dalam hati setiap orang yang berada disitu.
Manusia seram yang amat menakutkan itu seakan-akan Giam lo ong (raja akhirat) yang jikalau muncul selalu minta korban jiwa manusia! Apakah maksud kedatangannya untuk kedua kalinya ini?.
Pada saat itu, terdengar pula suara bentakan Pek lek cu, “Pak hay Mo kun! kau manusia tidak mau lekas tinggalkan pecahan mangkok itu?”
Pak hay Mo kun terkejut. Cepat-cepat pecahan mangkok itu ia lemparkan ketanah.
Tiba-tiba sosok bayangan hitam secepat kilat sudah menyambar pecahan mangkok itu sebelum sampai jatuh ke tanah.
Gerakan Pek lek cu, sibayangan hitam tadi meski sudah cukup cepat dan gesit, namun sesosok bayangan merah ternyata bertindak jauh lebih gesit daripadanya.
Sebab tepat selagi Pek lek cu baru saja menyambar pecahan mangkok itu, bayangan merah tersebut sudah lewat bagaikan angin didepannya dan menyambar mangkok yang berada ditangan Pek lek cu.
Pek lek cu kaget bukan main, ketika kepalanya didongakkan, disuatu tempat kira-kira tiga tombak jauhnya ada berdiri sesosok bayangan yang seluruhnya mengenakan pakaian warna merah.


Naga Merah benar-benar sudah muncul lagi.
Semua orang yang berada disitu dengan cepat sudah pada lari mundur untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Sebab jika kedua manusia besar itu nanti bertarung, senjata bom-nya Pek lek cu mungkin juga akan segera keluar mencari mangsa.
Pek lek cu sebenarnya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dengan kepandaiannya pada saat itu demikian tinggi, ternyata masih belum mampu mempertahankan pecahan mangkok itu. Maka kini benda itu sudah kena direbut oleh Naga Merah.
Dalam kaget dan mendongkolnya, membuat seluruh wajahnya yang hitam jengat pada bergerak-gerak kulitnya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah bom yang kecil sekali dan berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
“Naga Merah, aku merasa beruntung malam ini bisa bisa menjumpai kau karena aku si orang tua justru sedang mencari jejakmu..”
“Hmm...Hmm... sesungguhnya tidak nyana malam ini kita bisa saling bertemu disini. Itu adalah yang paling baik!”
Pek lek cu yang mendengar perkatan itu wajahnya berubah seketika. Ia lalu membentak dengan suara nyaring.
“Kalau begitu, kau coba sambuti dulu satu Pek lek tanku ini!”
Dan ia lalu mengayun tangan kanannya, sebuah bom kecil meluncur keluar dari dalam tangannya. Itulah Pek lek tan.
Ketika Pek lek cu mengayun tangannya. Naga Merah sudah gerakkan badannya lebih dulu menyambuti dan menghilang kedalam rimba didepannya.
Kejadian ganjil dan aneh timbul disaat itu juga.
Bom Pek lek tan yang meluncur keluar dari tangan Pek lek cu tadi ternyata sama sekali tidak memperlihatkan pengaruhnya.
Pek lek cu sendiri berdiri ternganga dengan mulut terbuka lebar-lebar. Semua orang kuat yang menyaksikannya juga pada merasa terheran-heran.
Sebab menurut kebiasannya bom Pek lek tan selamanya tidak pernah gagal. Jikalau sudah disambitkan oleh orang yang memilikinya, pasti akan meledak seketika itu juga. Tapi mengapa kali ini tidak? Ini benar-benar merupakan suatu kejadian ganjil luar biasa yang belum pernah dialami oleh Pek lek cu si pemilik bom.
Seketika itu juga Pek lek cu lantas lompat melesat kearah kemana tadi bom-nya dilemparkan.
Dan pada saat itu juga terdengar suara Naga Merah berkata.
“Pek lek cu kau buat Pek lek tan mu itu makan waktu tidak kurang dari lima puluh tahun lamanya dan baru berhasil membuat 15 saja. Biasanya kau pandang itu sebagai barang mestika yang tidak ternilai harganya, mengapa malam ini kau obral begitu saja dengan caramu yang sembarangan? Apa kau kira dengan satu Pek lek tan saja mampu kau jatuhkan Naga Merah? Hmmn.. Mimpi!! kau sungguh terlalu memandang rendah kepadaku Naga Merah...”
Pek lek cu akui benar-benar perkataan itu ada suatu kenyataan, kembali wajahnya berubah. Ketika menyaksikan bom Pek lek tan buatannya itu telah disambuti oleh si Naga Merah, itu saja sudah cukup membuat dia sangat mendongkol dan terheran-heran. Kini mendengar ejekan-ejekan Naga Merah yang sangat menusuk-nusuk hatinya, sudah tentu semakin bertambah rasa gusarnya. Hampir saja dadanya meledak oleh karenanya.
“Tuan sudah sanggup menyambuti senjata bomku, tidak kecewa kau dapatkan julukan sebagai salah satu dari Bu lim Sam cu. Sekarang coba kau sambuti lagi satu bom ku ini.”
Demikian bentak Pek lek cu dan lantas juga menyambitkan sebuah bom-nya lagi.
Tapi bom Pek lek tan yang kedua ini serupa halnya dengan yang pertama, juga tidak meledak.
Bukan kepalang kaget dan gusarnya Pek lek cu pada saat itu. Sebab diwaktu waktu biasanya sekali saja belum pernah ia melakukan kegagalan dalam menggunakan senjatanya itu. Tapi kali ini sampai dua kali beruntun semua sudah disambuti oleh Naga Merah bagimana tidak membuat ia kaget dan terheran-heran?
Kembali terdengar suara Naga Merah berkata.
“Pek lek cu, dua biji bom Pek lek tan ini biarlah kusimpan dulu untuk sementara, Apakah kau pikir hendak mengeluarkan seranganmu yang ketiga?”
Pek lek cu benar-benar merasakan hampir meledak dadanya bahwa gusar. Cepat bagaikan kilat tubuhnya melesat kearah darimana datangnya suara Naga Merah, sedang bom ketiganya tergengam erat-erat dalam tangannya.
Kepandaian Pek lek cu didalam rimba persilatan sudah jarang sekali orang yang mampu menandingi. Ia bersama Hiat im cu dan Naga Merah (Hut long cu) merupakan tiga tokoh terkuat pada jaman itu. Dalam rimba persilatan malah namanya mendapat gelar tinggi Bu lim Sam cu. Dapatlah kita bayangkan sendiri bagaimana gesit dan lincahnya gerakan badan orang-orang ini, maka dalam waktu sekejapan saja Cu yang ketiga ini sudah melesat lima tombak lebih menubruk kearah dari mana datangnya suara tadi.
Mendadak terdengar pula suara Naga Merah yang dibarengi oleh ketawanya yang nyaring.
“Ha..ha..ha.. Pek lek cu biarlah aku simpan dulu dua Pek lek tanmu ini sampai ketemu lain kali. Sekarang aku pergi dulu...”
Sehabis berkata lalu berkelebat satu bayangan merah yang melesat sejauh kira-kira delapan tombak kemudian menghilang dari depan mata orang banyak disitu!.
Pek lek cu marah sekali, Sekujur badannya gemetaran menahan marah, sebab sejak ia muncul dalam dunia kangouw, itu adalah untuk pertama kalinya ia menerima hinaan orang menderita kekalahan hebat. Sedang musuhnya bagimana macam rupanya saja, bukan hanya belum dapat ia melihat dengan tegas, bahkan sudah kehilangan pula dua butir Pek lek tan yang ia pandang sebagai barang mustikanya itu secara begitu mudah, Keganasan dan kemedongkolannya itu memang cukup dapat kita mengerti betapa hebatnya.
Selagi Pek lek cu masih berdiri dengan badan gemetar menahan gusar, mendadak terdengar suatu suara besar berkata “Pek lek cu kehilangan dua Pek lek tan rasakan saja apa artinya? Perlu apa sampai membikin aku begitu gusar dan badanmu gemetaran begitu rupa? Aih sungguh kasian, Makanya lain kali hendaknya jangan suka sembarangan gunakan barang itu, kejadian barusan adalah satu peringatan untukmu.”
Pek lek cu balikan badannya secara mendadak. Orang yang baru menutup mulut itu ternyata adalah pemuda baju abu-abu yang pendiam sikapnya itu.
Pek lek cu mengira bahwa pemuda itu sengaja hendak mengejek dirinya, maka ia seketika itu dengan wajah berubah karena, tubuhnya juga segera melesat kesamping si pemuda sembari berkata dengan suara gusar, “Bocah!! kau siapa?!”
Pemuda pendiam itu bersenyum. Ia lalu berkata dengan sikap tenang luar biasa. “Apa yang aku ucapkan tadi memang dari hal sebetulnya bukan?”
Pendekar Kalong yang menyaksikan keadaan dihadapan matanya saat itu, kuatir lagi-lagi akan timbul bentrokan disitu maka cepat-cepat ia menyelak,.
“Sahabat Pek lek cu, perlu apa kau meladeni segala bocah ingusan dari kalangan muda?”
Ciang hay Sin kun juga turut menimbrung berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
“Setan tua Pek lek cu tidak nyana adamu yang berangasan dulu masih tetap kau bawa-bawa sampai dihari tuamu. Apa yang diucapkan oleh bocah itu memang tidak salah. Kau baru kehilangan dua butir Pek lek tanmu, bukankah masih ada tiga belas butir lagi yang cukup dapat kau gunakan?”
Pek lek cu terpaksa menahan amarahnya. Matanya menyapu kearah Ciang hay Sin kun mengapa juga berada disini? demikian pikirnya.
Ketika itu ia lantas berkata “Loko, mengapa kau juga datang?”
“Apakah aku tidak boleh datang?”
Pada saat itu Yao lie lu sudah gerakkan kakinya dan perlahan-lahan menghampiri sambil memperlihatkan sikap penuh perhatian terhadap pemuda itu.
Sebaliknya dengan si pemuda pendiam, melihatpun tidak kepada sicantik. Malah perlahan-lahan ia menghampiri Pek lek cu.
Pemuda baju abu-abu yang pendiam dan sangat misterius itu ternyata tidak ada seorang pun yang mengenalnya.
Siapakah sebetulknya pemuda ini?........
Yao lie lu ketika mendadak melihat pemuda itu berjalan menjauhinya lantas menegur “Kau hendak kemana?”
Pemuda pendiam itu balikkan badan menjawab dengan suara dingin.
“Apakah aku perlu memberitahukan dulu kepadamu tentang segala tindakanku?” Sehabis berkata demikian, ia lalu melanjutkan tindakannya.
Kali ini adalah Yao lie lu yang tidak berani menegurnya lagi. Wanita cantik ini hanya mengawasi belakang punggung si anak muda dengan perasaan mendelu.
Dua buah bom Pek lek tan milik Pek lek cu tidak meledak, itu sudah cukup mengejutkan semua orang yang berada disitu.
Naga merah ternyata mampu menyambuti bom meledak tersebut, yang sangat lihay kepandaian demikian itu sebetulnya tidak habis mengerti.
Soal didalam lembah sempit digunung Kiu hoa san agaknya sudah selesai. Tapi sebelum Naga Merah meninggalkan tempat tersebut suasana tegang dan suram masih saja merajalela.
Orang-orang yang berada disekitar lembah tatkala mendapat lihat bahwa soal disitu sudah selesai, mereka lalu satu demi satu berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Pada saat orang-orang tadi sedang hendak meninggalkan lembah itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, Pek lek cu yang begitu mendengar suara jeritan tersebut adalah merupakan orang pertama bergerak lebih dulu, ia lantas lompat mencelat dari mana suara jeritan tadi keluar.
Pendekar Kalong ketika melihat si pemuda pendiam baju abu-abu itu, pikirannya tergerak, ia lalu memanggilnya “Bocah. kau kemari..”
Si pemuda balikkan badannya dan mengawasi Pendekar Kalong sejenak, kemudian berkata, “Locianpwe, Naga Merah membunuh orang lagi, apa kau tidak ingin melihat?”
Setelah itu, ia lantas berjalan dengan langkah biasa menuju kearah darimana suara tadi datang.
Pendekar Kalong menoleh dan mengawasi Ciang hay Sin kun sejenak. Ia merasa bahwa si anak muda kelakuannya sangat ganjil didepan matanya.
Ciang hay Sin kun melihat sang kawan mengerutkan alis, turut juga mengerutkan keningnya. Matanya dialihkan kearah si wanita cantik Yao lie lu, kemudian bertanya padanya.
“Budak, kau muncul didunia Kang-ouw baru beberapa bulan saja, kenapa sudah membunuh-bunuhi begitu banyak orang?”
“Ini urusanku sendiri.” jawabnya ketus.
“Apakah kau tahu bahwa Ciang bun jin dari tiga partai besar oleh karena pembunuhan mu dulu itu mereka sudah tiba didalam lembah ini?”
Perkataannya itu mengejutkan sungguh hati Yao lie lu. Wajahnya kelihatan berubah sedikit. Sambil perdengarkan suarau dihidung ia berkata, “Apa kau kira aku pandang mata pada tiga ciang bun jin itu?”
“Baiklah!! urusan ini untuk sementara tidak usah kita bicarakan. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamau, apa kau kenal dengan pemuda baju abu-abu itu?” kata lagi Ciang hay Sin kun sambil berdiam.
“Aku dengan dia baru kenal tiga hari yang lalu. Jika dugaanku tidak salah, pasti dia ada seorang berilmu tinggi luar biasa.”
Pendekar Kalong lalu menyeletuk.
“Benar.. pemuda itu memang pernah mengatakan bahwa ia berilmu silat, cuma saja karena kena dibokong orang, ia kata kecuali bisa menemukan Hiat im cu tidak akan pulih kembali keadaannya.”
Ciang hay Sin kun nampak berpikir sejenak. Ia lalu menanya pula kepada Yao lie lu “Ketika kau pertama kali melihatnya, apakah keadaannya sudah begini rupa?”
Yao lie lu hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. Ia menatap Ciang hay Sin kun sejenak, agaknya hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya urung.
Ciang hay Sin kun dongakkan kepala sambil berpikir keras tentang dirinya si pemuda pendiam baju abu-abu yang dalam otaknya seolah-olah merupakan suatu teka teki besar yang erlu harus lekas-lekas dipecahkan. Ia lalu memandang dirinya pemuda yang sudah berjalan agak jauh itu.


Sementara itu hampir semua orang yang ada disitu merasa terheran-heran atas sikap sipemuda pendiam yang sangat ganjil.
Pada saat itu dari dalam rimba yang agak jauh tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan orang. Itu ternyata keluar dari mulutnya Pek lek cu.
Ciang hay Sin kun mengawasi Pendekar Kalong dan Yan san It hiong sejenak, kemudian berkata “Mari kita lihat kesana.”
Baru saja selesai perkataannya tiba-tiba suara ketawa Naga Merah yang amat seram dan menakutkan terdengar dibelakang diri mereka.
Semua orang yang berada disitu pada merasa ketakutan. Mereka balikkan badan hampir berbareng.
Dibelakang mereka entah sejak kapan sudah berdiri sesosok bayangan orang yang seluruh tubuhnya mengenakan pakaian warna merah.
Seruan “Naga Merah” hampir serentak keluar dari mulut mereka.
Saat itu terdengar suaranya Naga Merah yang bernada dingin berkata:.
“Siapa ada itu orang yang mempunyai nyali begitu besar yang berani main gila diatas kepalanya aku si Naga Merah?”
Dengan munculnya Naga Merah secara mendadak itu saja sudah cukup mengejutkan Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya kini setelah mendengar pertanyaan yang tidak kerasa ujung pangkalnya itu sudah tentu membuat lebih heran kepada mereka entah apa yang dimaksudkan dengan pertanyaan itu?.
“Bocah yang membawa sepotong mangkok pecah ini tadi sekarang pergi kemana? Jikalau kalian tidak mau memberitahukan, awas kalian nanti akan aku bikin mampus semua.” berkata Naga Merah sambil perdengarkan ketawanya.
Baru saja habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara ketawa hambar dan suara teguran dibelakang dirinya.
“Kau Naga Merah mencari aku ada perlu apa?”
Dari dalam rimba tiba-tiba muncul dirinya si anak muda baju abu-abu yang sangat misterius kelakuannya.
Pemuda baju abu-abu itu tiba-tiba muncul dihadapannya Naga Merah, telah membuat terkejut hatinya Yao lie lu. Dengan sikapnya yang diluar dugaan semua orang, ia melesat maju dan menghadang dihadapannya pemuda baju abu-abu.
Dengan paras gusar, ia berkata kepada Naga Merah.
“Naga Merah, jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, aku tidak akan tinggal diam terhadap kau.”
Perkataan itu membuat Naga Merah tercengang. Lama baru ia berkata “Kau pernah apa dengan dia?”
Belum lagi Yao lie lu bisa menjawab, telah terdengar suara bentak nyaring dari pemuda pendiam baju abu-abu itu.
“Yao lie lu, kau enyah dari sini!”
Bentakan secara tiba-tiba dari pemuda baju abu-abu itu, bukan saja diluar dugaan Yao lie lu sendiri, sekalipun Naga Merah yang berada sejauh tiga tombak juga merasa heran.
Yao lie lu merasa sangat pilu, alisnya yang panjang dan lentik nampak bergerak, dan butir-butir air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Keadaan Yao lie lu pada saat itu sangat mengharukan semua orang yang menyaksikannya.
Ia mengawasi pemuda baju abu-abu itu sejenak, lalu berkata dengan suara sedih.
“Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, perhatianku kepadamu ternyata tidak kau gubris sama sekali... yah.. aku seharusnya memang pergi, tidak ada gunanya aku turu campur urusanmu, cuma membikin kau merasa jemu terhadap diriku.”
Sehabis berkata, ia lalu meninggalkan pemuda pendiam itu.
Terhadap berlalunya Yao lie lu dengan sikapnya yang sangat memilukan hati, pemuda baju abu-abu itu agaknya tidak mau ambil perduli sama sekali. Ia tujukan matanya kearah dirinya Naga Merah yang berada dihadapannya kira-kira tiga tombak jauhnya. Kemudian berkata dengan suara dingin.
“Apa kau Naga Merah?”
Pertanyaan ini membuat heran semua orang apakah Naga Merah itu palsu? rasanya tidak bisa jadi.
Naga Merah mendengarkan suara ketawanya yang seram, lalu berkata.
“Apakah tuan makan nyalinya macan atau beruang? Sepotong pecahan mangkok ini, kau dapat menipu orang lain, tapi buat aku tidak!! Bahwa apa yang kau tulis diatasnya pecahan mangkok ini, aku Naga Merah pasti akan menepati janjimu!”
Sehabis berkata dan selagi hendak lompat melesat, mendadak sesosok bayangan hitam berkelebat didepan matanya, tahu-tahu Pek lek cu sudah melayang turun dikalangan dengan suara keras ia membentak.
“Naga Merah, kau coba sambuti sekali lagi bom Pek lek tanku!”
Berbareng dengan itu, bom Pek lek tan yang tergengam dalam tangannya mendadak meluncur keluar.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu telah mengejutkan semua orang yang berada disitu. Ciang hay Sin kun lantas berseru “Lekas mundur...” secepat kilat ia sendiri sudah melesat kedalam rimba.
Hampir semua orang yang berada disitu percaya, betapapun tingginya kepandaian Naga Merah, rasanya tidak mampu menyingkirkan diri dari bom Pek lek tan yang disambitkan secara mendadak itu.
Suara menggelegar dari ledakan bom Pek lek tan telah terdengar, sampai lembah digunung itu rasanya seperti turut tergoncang.
Lelatu api ledakan bom yang amat dahsyat itu telah membuat cahaya terang benderang dalam waktu malam yang gelap gulita itu!
Bom Pek lek tan yang disambitkan oleh Pek lek cu, akhirnya telah meledak!.
Tempat sekitar lembah tersebut telah dibuat tergetar oleh ledakan bom tersebut. Pohon-pohon pada tumbang atau rubuh malang melintang.
Kekuatannya bom Pek lek tan itu sesungguhnya sangat menakjubkan.
Tempat dimana bom itu meledak, tanah, batu, dan pepohonan telah menjadi hancur tak keruan macamnya!.
Suara ledakan seperti ledakan gunung api yang sedang bekerja, membuat lembah yang dikitari oleh gunung-gunung tinggi itu benar-benar sedang menghadapi bencana alam yang dahsyat.
Burung-burung atau binatang lainnya yang menjadi penghuni dalam rimba daerah pegunungan tersebut pada terbang dan lari serabutan sambil perdengarkan suaranya ketakutan yang amat riuh.
Tatkala bom itu meledak, Pek lek cu sendiri sudah melompat mundur jauh-jauh meninggalkan tempat berbahaya itu.
Dan ketika ia membuka matanya, ditempat ledakan tersebut terlihat berkelebatnya sesosok bayangan merah, lompat melesat tinggi sekali diantara lelatu ledakan bom tersebut.
Naga Merah ternyata kena bom-nya yang amat dahsyat itu.
Ketika Pek lek cu melihat berkelebatnya sesosok bayangan merah itu, ia segera mengetahui bahwa Naga Merah tak binasa karena ledakan bomnya itu. Dalam gusarnya sambil keluarkan geraman ia lompat menubruk kearah larinya Naga Merah....
Pada saat itu kembali tertampak berkelebatnya satu bayangan merah, kemudian disusul oleh meluncurnya angin keras yang menggulung dirinya Pek lek cu.
Angin yang datangnya secara tiba-tiba itu telah membuat terkejut Pek lek cu. Selagi hendak egoskan diri untuk menyingkir, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin. Kemudian suaranya Naga Merah yang bersifat mengejek dan menghina,.
“Kehebatannya bom Pek lek tan benar-benar ada lain daripada yang lain. Sekarang kau juga coba-coba menyambuti serangan tenagaku ini.”
Ucapannya itu lalu disusul oleh satu serangan yang amat hebat!.
Pek lek cu yang selagi hendak menubruk dari gulungan angin serangannya. Untung kepandaiannya sangat tinggi.
Dengan cara menekuk kakinya dan berjumpalitan ditengah udara ia melesat kesamping sampai tiga tombak jauhnya, baru berhasil menghindarkan serangan Naga Merah yang amat dahsyat tadi.
Walaupun demikian ia juga sampai dibikin kaget dan ketakutan setengah mati sampai sekujur badannya mengeluarkan keringat dingin. Kepandaian Naga Merah benar-benar sukar dijajaki sampai dimana tingginya.
Pek lek cu yang berkali-kali sudah dibikin terjungkal oleh Naga Merah, jam jam juga merasa jeri, Gerakannya Naga Merah dan kepandaian ilmu silatnya benar-benar sangat mengagumkan! Luar biasa tingginya! Kalau sampai Naga Merah ini sampai menggetarkan dunia kangouw, sebetulnya bukanlah hanya nama kosong belaka.
Karena kaget dan jeri yang timbul dalam hati Pek lek cu sampai ia lupa menerjang dirinya Naga Merah lagi. Ia hanya berdiri disitu seperti patung.
Suara dingin yang menyeramkan kembali terdengar dalam suaranya, “Pek lek cu kau dengan aku seolah-olah air sumur tidak mengganggu air sungai. Jikalau kau berani mencampuri urusanku sekali lagi, jangan kau sesalkan kalau saat itu nanti aku berlaku telengas memperlakukan dirimu.”
“Aku tidak boleh tidak harus mencampuri urusan ini!” jawab Pek lek cu dalam gusarnya.
“Kalau kau percaya masih punya itu kemampuan mencampuri urusan ini, boleh kau coba-coba keluarkan kemampuanmu, aku ingin tahu Pek lek tan mu yang pernah menggetarkan kangouw itu bisa menggertak aku atau tidak?”
Pek lek cu sangat gusar, sampai gigi-giginya terdengar bercatrukan. Tapi ia tetap tidak berdaya menghadapi Naga Merah yang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya itu. Maka ia cuma bisa menjawab sambil kertak gigi : “Naga Merah, boleh kita coba-coba saja.”
Suara Naga Merah yang geram dan mengandung sifat mengejek kembali terdengar mendengung dalam telinga Pek lek cu.
“Pek lek cu, aku beritahukan dulu kepadamu, bom Pek lek tan mu itu boleh kau gunakan untuk menggertak orang lain, tapi buat aku si Naga Merah, ha..ha... jangan kau mengimpi.”
Kalau ucapannya yang dikeluarkan semula tadi kedengarannya seperti dari dalam rimba sejauh dua tombak, toh ucapan yang terakhir dengannya ternyata sudah jauh seperti keluar dari tempat sejauh kira-kira sepuluh tombak.


Kiranya Naga Merah sudah berlalu jauh sekali dari hadapannya.
Terjungkalnya Pek lek cu kali ini sungguh sangat menggenaskan, Berkali-kali dia mendapat ejekan dan hinaan dari Naga Merah, bahkan sudah kehilangan tiga butir bom Pek lek tan yang ia anggap sebagai barang ampuhnya.
Pek lek cu yang dalam rimba persilatan menduduki tempat ketiga dalam urusan Bu lim Sam cu sesungguhnya tidak pernah menyangka malam itu tidak berdaya sama sekali menghadapi Naga Merah. Sampai orang yang disebut belakangan ini bisa datang dan pergi seenaknya. Perasaan mendongkol dalam hatinya sesungguhnya sukarlah dapat dibayangkan. Tapi juga tidak boleh terlalu disesalkan.
Pohon-pohon dalam rimba seluas sepuluh tombak telah dibikin tumbang karena ledakan bom Pek lek tan yang amat dahsyat itu.
Selagi Pek lek cu masih berdiri mengawasi rimba gundul tersebut dengan perasaan sangat mendongkol, Ciang hay Sin kun tiba-tiba melayang turun dihadapannya, Ia lalu sambil mengawasi Pek lek cu yang sedang berdiri gemetaran karena gusarnya.
“Setan tua Pek lek cu, Naga Merah sudah berlalu. Kau gusar begitu rupa, apa gunanya?”
Pek lek cu delikan matanya sambil ketrukan kakinya ia menjawab,.
“Naga Merah, bagus sekali kelakuanmu! Ada suatu hari aku pasti akan mencari kau untuk membuat perhitungan kekalahanku hari ini!”
Pek lek cu pada saat itu benar-benar boleh dikatakan sudah seperti orang gila kelakuannya. Ia berjingkrak-jingkrak sendiri karena bawa amarahnya tak dapat dilampiaskan.
Ciang hay Sin kun yang menyaksikan sikap Pek lek cu ini, malam hari diam-diam merasa geli. Ia lalu berkata pula pada si Cu ketiga itu.
“Pek lek sahabatku, kalian berdua biar bagimana tentu masih ada kesempatan untuk saling berjumpa lagi. Malam ini jikalau kau benar-benar binasa karena gusar, aku betul-betul tidak mempunyai uang cukup banyak untuk membelikan peti mati untuk kau..”
Pek lek cu yang digoda demikian pula oleh Ciang hay Sin kun lantas ketawa.
Dalam pada itu suatu kejadian aneh telah terbentang didepan mata mereka hingga membuat Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya pada merasa terheran-heran.
Pemuda pendiam baju abu-abu itu ternyata tidak mati terkena ledakan bom-nya Pek lek cu!.
Hal itu benar-benar membuat terkejut semua orang yang berada disitu, bahkan bukan Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya saja.
Pemuda baju abu-abu yang nampaknya tidak mempunyai kepandaian silat itu bagaimana caranya bisa lolos dari ledakannya bom Pek lek tan?.
Ini benar-benar ada satu kejadian yang sangat langka bagaimana ia bisa lolos dari bahaya maut itu? Tiada seorangpun yang dapat tahu.
Hanya pemuda itu sendiri yang tahu. Kalau ia bisa lolos dari bahaya maut itu, semua adalah jasanya Naga merah yang menolong dirinya.
Jikalau ia tidak keburu disambar badannya oleh Naga Merah, mungkin saat itu badannya sudah hancur lebur berkeping-keping dan jiwanya sudah melayang kelain dunia.
Saat itu matanya pemuda itu mengawasi Pek lek cu, kemudian berkata dengan suara dingin.
“Pek lek cu, perbuatanmu sesungguhnya terlalu kejam.”
Pek lek cu ada seorang yang beradat sangat kukoay, begitu mendengar perkataan anak muda itu alisnya yang tebal lantas berdiri seperti sesapu, berkata dengan suara gusar, “Dimana kekejamanku?”
“Pek lek cu, percuma kau menduduki kursi sebagai salah satu dari Bu lim Sam cu, sengaja bom mu Pek lek tan itu mungkin bisa bisa kau gunakan untuk menghadapi orang lain. Tapi buat menghadapi Naga Merah, masih jauh sekali kebisaanmu. Perbuatan secara membokong yang kau lakukan itu apa dengan itu pantas kau mendapat julukan Bu lim Sam cu? Rasaya cuma akan membuat orang ketawa saja.”
Perkataan itu membuat wajahnya Pek lek cu merah seperti kepiting direbus. Ia berdiri tercengang, lama tidak bisa bicara apa-apa.
Ciang hay sin kun tiba-tiba tergerak hatinya. Ia lalu menanya kepada si pemuda pendiam itu.
“Bocah, menurut perkataan Naga Merah tadi, itu sepotong mangkok pecah yang mula-mula kau keluarkan sebetulnya bukan benda peninggalan dari si pengemis sakti.”
“Jikalau benda itu yang asli, apa aku bisa mengeluarkan dan berikan begitu saja padanya?”
Ciang hay Sin kun memikir jawaban itu memang masuk diakal. Jikalau sepotong pecahan mangkok itu benar-benar adalah barang asli, pemuda itu tentu tidak akan memperlihatkan kepada lain orang. Maka itu ia lalu menanya pula.
“Tapi mengapa pecahan mangkok itu mirip betul bentuknya dengan mangkok yang disiarkan dalam cerita orang?”
“Hal ini, maaf aku tidak bisa memberitahukan.”
“Apa maksudmu kau memberikan pecahan mangkok itu kepada Naga Merah?”
“Hal ini rasanya aku tak perlu memberitahukan padamu lebih dulu.”
“Memang setiap orang dikolong langit masih-masing berjalan diatas jalannya sendiri. Terhadap tindak tandukmu sudah tentu tidak ada hak untuk aku tanyakan. Cuma kelakuanmu sebetulnya sangat membingungkan kami yang mendengarnya.”
“Naga merah setelah menimbulkan bencana bagi dunia rimba persilatan jikalau tuan ada seorang dari golongan baik-baik yang menjunjung tinggi kebenaran sudah tentu tidak tinggal diam menyaksikan perbuatan Naga Merah.”
“Jikalau bukan karena Pek lek cu yang berbuat menuruti hawa napsunya sendiri, saat ini mungkin aku sudah berhasil membuka kedoknya Naga Merah.” memotong si pemuda baju abu-abu.
Pek lek cu lalu berkata sambil ketawa pada si anak muda.
“Kau juga ingin membuka kedoknya Naga Merah? Ini benar-benar merupakan lelucon besar.”
Pemuda baju abu-abu itu berubah wajahnya.
“Apa kau anggap kepandaian ilmu silatmu sudah tidak ada yang bisa menandingi dalam dunia ini?” tanyanya dengan hati mendelu.
“Meskipun belum bisa disebut tidak ada tandingannya didalam dunia, tapi setidak-tidaknya toh jauh lebih tinggi daripada kau, bocah!”
Pemuda pendiam baju abu-abu itu ketika mendengar perkataan tersebut lantas dongakkan kepalanya sambil ketawa bergelak-gelak. Nyata sekali bahwa ketawanya itu ada mengandung sikap memandang rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar