Sabtu, 13 Januari 2018

Naga Merah 01


INI adalah sebuah benda, benda apakah itu ? mengapa sampai perlu dilukiskan benda semacam tusuk kunde ini disini ? sudah tentu ada sebab dan latar belakangnya sendiri. Bagaimana ? marilah, ikuti penjelasannya di bawah ini.
Memang betul ia adalah sebuah tusuk konde yang terbuat dari batu giok hijau yang ditengah tengahnya ada terukir seekor naga dalam bentuk yang sangat indah, benda semacam ini umumnya digunakan oleh kaum wanita sebagai penghias sanggul diatas kepala, tapi di sini benda tersebut menduduki tempat agak istimewa. Tusuk konde ini merupakan suatu alamat buruk orang orang yang menerimanya, suatu benda yang menyimpan banyak rahasia dan sungguh menyeramkan!.
Orang pertama yang mendapat tusuk konde itu lewat tiga hari lantas menghilang secara misterius....
Orang kedua yang kedatangan tusuk konde ini juga lantas lenyap secara gaib....
Orang ketiga yang menerima perhiasaan sanggul ini, demikian juga nasibnya, hilang tanpa jejak manusia ke empat, kelima, ..dan seterusnya sama juga nasibnya. Dalam jangka waktu tiga kali dua puluh empat jam, satu demi satu orang yang rumahnya kedatangan tusuk konde ini tidak bisa tidak pasti hilang atau sedikit sedikitnya diketemukan sudah tidak bernyawa. Maka dari untuk selanjutnya tusuk konde ini juga disebut “Tanda maut”
Benda maut yang menakutkan dan menggenggam banyak rahasia ini telah muncul berselang kali dalam dunia kang-ouw sampai lima belas kali. Dan selama itu sudah tentu ada lima belas orang, baik orang kuat dari golongan hitam maupun orang gagah dari golongan putih (bersih) sudah menjadi korban perbuatan ganas si pemilik benda maut.
Tidak ada seorangpun tahu benda maut berukiran Naga Merah ini ada lambang apa atau tanda kematian dari siapa. Akan tetapi siapapun sudah tahu bahwa tusuk konde Naga Merah ini adalah barang yang mendatangkan kematian bagi siapapun yang menerimanya. Maka tusuk konde batu giok yang menyeramkan dan mengandung banyak rahasia ini akhirnya telah menarik perhatian banyak orang orang rimba persilatan.
Siapa lagi berikut yang akan mendapatkan giliran menerima “benda maut” ini untuk ke enam belas kalinya ? Apakah tusuk konde itu akan muncul lagi atau tidak, bukan saja menjadi soal yang sangat menarik perhatian banyak orang orang tingkatan muda yang berupaya berkecimpung dalam rimba persilatan bahkan merupakan tanda tanya besar yang menyeramkan pula bagi kang-ouw kawakan.
Tidak seorangpun yang dapat menyakinkan juga tidak ada orang yang berani meramalkan tusuk konde Naga Merah yang membawa bencana maut ini akan muncul lagi atau tidak.
Akan tetapi pada umumnya orang-orang dunia kang-ouw dengan perasaan gelisah hati berdebaran keras selalu memperlihatkan perhatian penuh pada setiap kali tusuk konde tersebut muncul.
Pada umumnya orang orang dunia kang-ouw percaya bahwa tusuk konde celaka itu akan muncul lagi. Soalnya hanya tergantung pada sang waktu yang menentukan segala sesuatunya.
Selama itu hari hari dilewatkan oleh orang orang rimba persilatan dengan perasaan khawatir dan seram.
Beberapa hari kemudian......
Peristiwa menyeramkan yang selama itu di tunggu tunggu akhirnya muncul juga.
Tusuk konde Naga Merah untuk ke enambelas kalinya muncul lagi di dunia kang-ouw. Seluruh rimba persilatan gempar.....
Benda maut itu kini terjatuh dalam tangannya seorang iblis kenamaan dalam dunia kang-ouw uang benama Lie Kie. Orang she Lie ini terkenal dengan julukannya Kiong hay it Mo (iblis dari lautan teduh).
Munculnya tusuk konde Naga Merah ke enambelas kalinya ini yang mengarah Kiong hay It Mo benar-benar sangat mengejutkan dan menggemparkan seluruh rimba persilatan.
Banyak orang terkemuka dari rimba persilatan pada berbondong bondong menuju ke suatu lembah di bawah gunung Kui hoa san, yang tempat kediamannya Kui hay It Mo yang sedang diancam jiwanya oleh pemilik tusuk konde maut.
Orang orang rimba persilatan yang lagi menuju ke lembah tempat kediaman Kiong hay it mo dengan maksud menyaksikan wajahnya si pemilik kunde maut yang telah banyak menerbitkan peristiwa peristiwa menggemparkan selama ini, mereka sangat ingin mengetahui siapa adanya orang yang memegang peranan itu.
Lembah sempit di bawah kaki gunung kui hoa san dalam jangka waktu satu malam saja sudah dipenuhi sesak dikunjungi banyak orang orang kuat dari berbagai penjuru.
Suatu malam yang sunyi.....
Suasana dalam lembah tersebut tampak sunyi senyap...
Santarnya angin gunung membuat hawa di lembah itu makin dingin.
Tempat yang berbahaya dan strategis letaknya di lembah tersebut. Dalam waktu sekejapan telah berubah menjadi lautan manusia. Ini adalah suatu hal yang boleh dan perlu di catat dalam buku.
Orang orang itu pada sangat ingin mengetahui bagimana macamnya orang aneh yang selalu mengarah mangsanya setelah memberi pertandaan benda maut penagih jiwa itu lebih dulu, Selain daripada itu orang orang yang datang kelembah tersebut juga sangat ingin mengetahui dengan cara bagaimana iblis kenamaan seperti Kiong hay It mo itu saat menghadapi siorang misterius.
Daerah seputar beberapa lie dari lembah tersebut keadaannya memang sangat strategis dan berbahaya. Disitu kecuali batu bata gunung yang runcing runcing dan tumbuh nya pepohonan lebat yang lebih lebih mempengaruhi letak tempat itu, hanya ada sebuah jalan kecil yang berliku liku untuk menghubungkan daerah tersebut dengan luaran.
Pada malam sunyi itu kita lihat ada banyak bayangan manusia bergerak menuju ke lembah melalui jalanan sempit satu satunya yang barusan disebut.
Bayangan bayangan itu adalah orang orang rimba persilatan yang ingin menyaksikan pertempuran di lembah tersebut.
Sekarang kita masuk lebih jauh....
Disebelah kiri dalam lembah ada berdiri dengan megahnya sebuah bangunan rumah. Gedung ini adalah rumah tempat kediaman iblis kenamaan Kiong hay It mo yang sedang diincar oleh pemilik tusuk konde batu giok Naga Merah.
Sinar lampu dari dalam rumah nampak menembus keluar melalui celah celah daun dan ranting ranting pohon yang terdapat di serambi depan rumah tersebut. Dimalam sesunyi itu sinar lampu disitu ada merupakan satu satunya penerangan di alam pegunungan yang gelap gulita.
Disamping itu dibalik banyak pohon pohon lebar dekat rumah itu tampak ada beberapa puluh pasang mata mencorong keluar dari dalam rimba tak jauh dari tempat kediaman Kiong hay it mo. Orang orang pandai dari rimba persilatan yang pada menyembunyikan diri di tempat gelap itu. Kecuali semuanya sudah memusatkan seluruh perhatian kedalam rumah yang besar itu rata rata tak berani menarik napas. Mereka pada menahan napas.
Sang waktu sedetik demi sedetik berlalu dan suasana makin tegang.
Malam makin larut....
Pada saat itu dari ujung jalanan kecil yang dapat menuju ke lembah tersebut terlihat bayangan seseorang dengan kecepatan kilat sedang berlari lari ke dalam lembah.
Gerakan bayangan itu gesit sekali dalam waktu sekejap saja iapun sudah sampai ke dasar lembah.
Orang orang rimba persilatan yang bersembunyi di tempat gelap semua pada terkejut, mereka rata rata pada mengira bahwa bayangan itu adalah orang yang menjadi pemilik tusuk konde pembawa kabar maut yang sedang mereka nanti nantikan.
Selagi hati orang orang diliputi rasa keragu raguan bayangan orang itu sudah masuk ke dalam lembah, sesaat ia merandek matanya tampak berputaran mengawasi keadaan sekitar lembah. Kemudian dari mulutnya keluar suara ketawa yang menyeramkan.
Baru saja orang ini mau bergerak lagi mendadak terdengar suara satu orang menegur.
“Apa yang datang Yan san it-hiong?”
Bayangan hitam itu tampak terkejut ketika secara tiba tiba terdengar suara teguran. Ketika kepalanya didongakkan ia melihat di suatu tempat kira kira tiga tombak dari tempatnya berdiri ketika ada sesosok bayangan hitam. Selekas matanya melihat orang begitu cepat pula mulutnya mendehem, setelah itu terdengar suaranya orang itu berkata: “Benar, Lohu adalah Yan san it-hiong”
Bayangan hitam yang berdiri terpisah saja jarak tiga tombak dari padanya itu lalu berkata pula sambil perdengarkan suara tertawanya.
“Sungguh tidak nyana Yan san it-hiong juga mempunyai kegembiraan melakukan perjalanan datang dari tempat ribuan lie jauhnya melulu buat untuk menyaksikan keramaian malam ini disini....”
Perkataan yang keluar dari mulut bayangan hitam itu belum lagi ditutup Yan san it-hiong sudah bergerak, dengan kecepatan bagaikan kilat tubuhnya melesat kearah dimana bayangan hitam yang dilihatnya tadi berada.
Yan san It hiong yang merupakan salah satu jago orang kuat dalam dunia kang-ouw, begitu bergerak dalam jangka waktu sekelejapan saja sudah berdiri di depan bayangan hitam tersebut.
Semua orang yang sedang sembunyi ditempat kegelapan pada terkejut dan terheran heran melihat kejadian secara tiba tiba itu.
Yan san It hiong tidak asing lagi bagi mereka, karena ia adalah salah satu dari orang kosen dalam kalangan kang-ouw, tidak demikian halnya dengan bayangan hitam. Mereka agaknya belum pernah kenal sama sekali.
Mungkinkah bayangan hitam tadi adalah itu orang aneh yang menjadi pemiliknya tusuk konde maut ? Demikianlah umumnya orang rata rata pada berpikir dalam hati kecilnya masing masing.

Angin gunung meniup semakin kencang beradunya daun daun rontok didalam lembah pada menimbulkan suara bergesekan yang cukup nyaring membuat suasana dalam lembah semakin tegang saja.
Semua mata ditujukan kearah Yan san It hiong, dan bayangan hitam.
Oleh karena udara gelap ditambah lagi jarak terpisahnya mereka dengan kedua orang itu sangat jauh, maka tidaklah dapat mereka lihat bagaimana roman mukanya si bayangan hitam itu.
Ketika Yan san It hiong sudah berada di dekatnya si bayangan hitam lalu terdengar suara berkata : “Lotee, perlu apa kau begitu gelisah, aku toh bukan itu orang yang bisaa menggunakan tusuk konde Naga Merah itu”
Takkala Yan san It hiong menegasi, bukan main kagetnya ia tapi sebentar kemudian sikapnya kembali tenang karena dari suaranya saja ia agaknya dapat mengenali orang itu siapa adanya. Maka buru buru ia maju lagi menghampiri sambil tertawa tergelak gelak ..
“Ha.ha.ha kiranya adalah kau si setan keluyuran diwaktu tengah malam Ha ha ha kau juga sudah ada di sini?”
Bayangan hitam itu menggenakan pakaian warna abu abu wajahnya tertutup kedok berbentuk kalong. Ia adalah pendekar kenamaan dari rimba persilatan yang oleh orang kang-ouw dijuluki pian hok hiap atau Pendekar Kalong.
Dalam tempat dan waktu dan demikian Yan san It hiong hatinya diam diam tercekat orang ini pada dua puluh tahun yang lalu sudah hilang dari dunia kang-ouw, kenapa sekarang dia bisa muncul lagi justru di tempat ini? demikian pikirnya dalam hati.
Pendekar Kalong tersenyum dan kemudian berkata : “Yan san It hiong lotee setelah perpisahan selama dua puluh tahun lamanya sungguh tidak nyana berkumpul lagi disini, Agaknya memang bener kata pepatah, manusia kalo masih bernafas dimana saja bisa saling berjumpa, “Eh loko, apa kau juga mau ikut menyaksikan keramaian halnya tusuk konde?”
“Mengapa tidak? aku justru datang jauh jauh sengaja untuk menontonnya”
“Loko dalam dunia kang-ouw mendapat nama julukan kalong dan setan gentayangan tengah malam apa loko tahu siapa yang mengirim tusuk konde Naga Merah itu?”
Pendekar Kalong tampak mengerjitkan keningnya. Lama baru ia bisa menjawab pertanyaan orang.
“Lotee” katanya, “Tusuk konde Naga Merah ini sudah lima belas kali muncul dan 15 orang kuat juga sudah lenyap betul betul hebat kepandaiannya sampai tidak ada satupun orang yang tau dia siapa. Baru sebegitu saja dunia sudah di bikin gempar olehnya agaknya pemilik tusuk konde itu memang sengaja hendak menggulung dan membasmi habis orang orang kuat dari rimba persilatan”
Ia lalu mengawasi Yan san It hiong sejenak lalu berkata pula, “Kalau dugaan ku tidak meleset, orang yang mengirim tusuk konde itu tentu Naga Merah sendiri.”
“Apa?” seru Yan San It hiong, ia rupanya kaget benar benar wajahnya berubah seketika, badannya menggigil macam orang kedinginan, lama sekali Yan san It hiong baru bisa membuka mulut lagi bertanya : “Apa Naga Merah yang sudah kesohor namanya sejak pada tiga puluh tahun yang lalu?”
“Itu cuman dugaanku saja lotee, kau ingatkah dulu pada 30 tahun yang lalu Naga Merah salah satu dari bulim samcu pada setiap kali munculnya tidak pernah ketingggalan tusuk konde berukiran Naga Merah itu? kalau betul adalah dia yang muncul lagi dalam dunia kang-ouw ada lebih hebat lagi rasanya bahaya yang akan kita alami.”
Bukan kepalang kagetnya Yan san It hiong sampai ia bertanya:.
“Loko tiga puluh tahun yang lampau, pada saat di adakan pertandingan pedang di gunung bong san, hiat im cu, pek lek cu dan hiat liong cu (yang terakhir di sebut sebagai Naga Merah) itu ketiga samcu kabarnya sudah menghilang dari dunia kang-ouw, malah sudah ramai orang menyiarkan berita bahwa Naga Merah sudah binasa. Apa mungkin sekarang ini dia juga?”
Selagi Pendekar Kalong hendak menjawab dari dalam lembah tiba tiba terdengar suara dari dalam lembah tiba tiba suara geraman hebat seperti suara raungan setan penasaran.
Suara seperti setan itu diwaktu malam sunyi dan seram di dalam lembah kedengaran makin menyeramkan. Orang orang rimba persilatan yang bersembunyi di tempat gelap wajahnya pada berubah seketika.
Pendekar Kalong dan Yan san It hiong juga tidak luput dari perasaan yang mereka alami.
Pendekar Kalong berkata, “Kalo dugaaanku tidak salah Naga Merah mungkin sudah masuk kedalam lembah, malam ini rupanya akan menyaksikan satu keramaian luar bisa yang tidak mungkin dapat kita lupakan selama lamanya. Saat ini pek lek cu salah satu dari bulim samcu juga sudah berada disini”
Selagi Yan san It hiong hendak membuka mulut, Pendekar Kalong sudah melanjutkan lagi bicaranya.
“Apalagi ketua dari tiga partai besar yang masing masing dengan membawa beberapa anak buahnya sudah pada datang kemari semua, aduh seru deh!”
“Ketua dari tiga partai besar itu apa juga ingin menyaksikan peristiwa tusuk konde berdarah kali ini?”
“Mungkin masih ada maksud lain, mari kita jalan nanti ketinggalan bisa berabeh nih”. Berkata sampai di sini Pendekar Kalong lantas enjot tubuhnya sebentar sudah melesat ke depan mendekat rumah salah satunya dalam lembah itu. Yan san It hiong masih dalam keadaan keheranan juga menggerakkan badannya mengikut di belakang Pendekar Kalong.
Keadaan dalam lembah kembali sunyi kembali setelah seperti raungan setan tadi berhenti. Susana kembali tegang dan menyeramkan.
Saat itu Yan san It hiong dan Pendekar Kalong sudah sampai di dalam rimba lebat yang terpisah sejarak kira kira lima tombak jauhnya dari tempat kediamanan Kiong hay it mo.
Ketika mata merka ditujukan kearah gedung iblis dari lautan teduh tersebut di situ kelihatan sudah banyak di pasang lampu lampu obor hingga cuaca sekitarnya tampak terang benderang.
Suasana tegang benar benar membikin dak dik duk perasaan setiap orang yang berada di dalam lembah, dalam keadaan demikian kecuali suara menderu derunya angin pegunungan tidak kedengaran lagi suara suara lain.
Mendadak terdengar suara raungan melengking tajam memecah kesunyian alam gunung. Menggema lama di sekitar lembah kali ini suara itu kedengaran semakin mendekat.
Semua orang pada mengggigil badannya pada berdiri bulu romanya tanpa mereka sendiri sadar.
Suara seperti setan belum lama sirap lampu dalam gedung Kiong hay it mo mendadak padam seluruhnya.
Sesosok bayangan manusia lalu kelihatan melesat keluar pintu gedung yang layak berdiri di bawah pagar tembok sebelah depan.
Itu adalah bayangan dari seorang tua, badannya kurus kering wajahnya tirus dan pucat. Pasti di bawah wajah yang tirus itu tambah janggut putih yang panjang sampai hampir ke perut, roman mukanya kalau di bayangkan seluruhnya sungguh menakutkan!.
Adapun orang tua ini bukan lain dari pada si iblis kenamaan dari rimba hijau Kiong hay it mo sendiri.
Munculnya iblis dari lautan teduh ini membuat suasana makin tegang.
Pertunjukan seru yang sudah lama dinantikan banyak orang mungkin segera akan dimulai.
Kiong hay it mo berdiri sambil mengepal ngepalkan tinjunya. Matanya menyapu keadaan sekitar rumahnya dengan sorot mata dingin. Kemudian dari mulutnya terdengar suara ketawanya yang dapat membikin bulu roma berdiri. Dan setelah puas tertawa iblis ini lalu berkata dengan suara lantang (besar) : “Sahabat darimana yang telah datang kemari ? silahkan masuk ke pekarangan ini aku si orang she Lie sudah lama menantikan kedatanganmu.”
Kata kata yang keluar dari mulut Kiong hay it mo lama baru berhenti. Tetapi ternyata cuma merupakan satu selingan seram saja dimalam gelap dan sunyi. Sebab begitu cepat dan suaranya berhenti, keadaan kembali sunyi senyap. Tiada jawaban dan tidak ada reaksi apa apa. Naga Merah yang sudah mengirim tusuk konde kerumahnya itu ternyata belum muncul.
Mendadak terdengar suara rumput berkeresekan dimalam sunyi suara itu kedengaran nyata sekali seperti tindakan kaki orang yang sedang berjalan mendatangi. Semua orang yang berada di sekitar lembah menjadi ketakutan.
ooOOoo
Suara berkereseknya daun dan rumputan itu kedengarannya makin dekat.
Dalam suasana gelap gulita karena padamnya penerangan lampu semua tiba tiba tampak berkelebat satu sinar putih.
Suara keresekan seperti tindakan kaki orang diatas rumput tadi sudah tak jauh didepan rumah, melewati orang orang kuat yang sedang menahan napas, kini apa yang terlihat didepan mata semua orang adalah beberapa tanda tapak kaki merah yang betul betul seperti darah.
Naga Merah yang mengirimkan tusuk konde maut akhirnya muncul juga, tanda tanda telapak kaki merah itu kalo bukan hasil perbuatannya siapa lagi yang bisa berbuat seperti itu ?
Dan pada saat itu suara keresekan seperti tindak kaki diatas rumput tadi juga tiba tiba sirap sama sekali. Sebagai gantinya adalah suara ketawa seseorang yang bernada tinggi menusuk telinga! Tak ubahnya seperti suara setan penasaran yang hendak menagih jiwa.
Tak lama setelah suara seram itu berhenti menyusul lagi suara lebih menakutkan yang berkata dengan nada berat :.
“Setan bangkotan she Lie dengar ! sebelum ajalmu sampai kau masih ada perkataan dan dengan pesan apa yang perlu di tinggalkan!”
Kiong hay it mo yang mendengar perkataan tersebut bukan main gusarnya. Wajahnya yang semula pucat kini berubah matang biru karena gusarnya. Roman mukanya yang tadi menakutkan kini tampak lebih menyeramkan ! Selagi iblis itu hendak menjawab, sesosok tubuh manusia tiba tiba kelihatan bergerak, lari dengan kecepatan luar biasa menuju ketempat dari mana datangnya suara tadi. Gerakan tubuh orang terakhir ini begitu cepat dan mendadaknya. Hingga orang orang kuat yang sedang bersembunyi ditempat gelap pada dibikin terkejut semuanya! Bertepatan dengan waktu si bayangan melompat melesat tadi terdengar satu suara membentak.
“Kau cari mampus !” berbareng dengan keluarnya suara ini muncul lagi satu bayangan lain yang tiba tiba menarik kembali dirinya, si bayangan orang yang mula mula.
Semua kejadian tadi berlangsung sangat cepat semua orang yang ada disitu pada terkejut. Ketika Yan san It hiong dan Pendekar Kalong coba coba pasang mata barulah terlihat jelas bahwa bayangan orang yang dari duluan tadi adalah seorang anak muda yang menggenakan pakaian warna abu abu yang warnanya pucat pasi. Sikapnya pendiam dilihat dari roman mukanya ditaksir baru kira kira sembilan belas tahunan.
Ketika Yan san It hiong menunjukan matanya kearah orang yang menarik tangan pemuda berbaju abu abu tadi, hatinya mengoceh sendiri.
“Ha ! kenapa iblis perempuan ini juga berada disini ?” Pendekar Kalong lantas bertanya “Siapa?”
“Yao lie lu”
Pendekar Kalong agaknya masih sangat asing dengan nama Yao lie lu itu. Maka matanya lalu ditujukan juga kearah bayangan tersebut. Seketika hatinya tercekat. Diam diam dia berpikir : “Sungguh cantik perempuan ini”
Satu wajah yang cantik jelita telah berada di hadapannya, wanita cantik itu rambutnya tampak terurai diatas pundaknya, sepasang matanya yang bening jeli dihiasi oleh bibir yang kecil yang manis menawan hati.
Senyumnya si cantik jelita yang manis menggiurkan itu seketika itu lantas membikin buyar suasana tegang lembah tersebut. Orang orang yang bersembunyi di tempat gelap saat itu juga pada membelalakan matanya. Di tujukan kepada wajah wanita yang cantik itu.
Tidaklah demikian dengan pemuda baju abu abu tadi. Ia seketika balikan badan berkata dengan suara gusar.
“Perlu apa kau menarik aku?”
“Aku tidak bermaksud jahat, apa kau ingin mati?”
Pemuda itu perlihatkan ketawa aneh, ia berkata pula, masih dengan sikap gusar,.
“Nona dengan aku yang rendah belum kenal satu sama lain, Tapi perbuatan tadi apa tidak akan membikin merosot nama kedudukanmu?”
Perkataan itu membikin merah selebar wajah Yao lie lu. Ia merasa jengah, kemudian wanita itu berkata sambil ketawa manis.
“Aku hendak menolong orang siapa yang berani melarang ?, Sudah tentu untuk kau, aku akan turun tangan memberikan bantuan pertolongan”
Sehabis berkata dengan secara paksa, gadis itu menarik tangan dari pemuda berbaju kelabu itu.
Semua orang yang berada disekitar tempat itu pada merasa terheran heran.
Pemuda baju abu abu itu mengapa mendadak lari kearah Naga Merah ketika mendengar suara pekikan seram dari mulut Naga Merah ? apa sebabnya ? apakah hubungannya antara ia dengan si iblis she Lie ?.
Wanita cantik jelita Yao lie lu itu namanya sudah sangat terkenal karena keganasannya di dunia kang-ouw. Orang yang tidak mengenalnya tentu tidak menduga dibalik paras wajahnya yang jelita itu ada tersembunyi sifat yang kejam dan ganas, entah sudah berapa banyak jumlahnya orang orang dunia kang-ouw yang binasa di bawah tangannya.
Tetapi, apa sebabnya mendadak wanita cantik ini mencegah perbuatan pemuda baju abu abu yang rupanya hendak menjumpai Naga Merah itu ? Sungguh kejadian secara mendadak ini membikin bingung hati setiap orang yang bersembunyi di sekitar lembah itu.
Pemuda baju abu abu itu ketika ditarik lengannya oleh Yao lie lu berkata pula dengan murka.
“Aku mau cari Naga Merah, ada hubungan apa dia dengan kau ? Kalau kau berani tarik lagi awas ! aku nanti bisa mendamprat kau dengan perkataan kotor!”
Yao lie lu ketika mendengar perkataan si anak muda, agaknya merasa tidak senang dalam hati, tapi tiba tiba ia perlihatkan senyumnya lagi kemudian berkata lagi dengan secara sabar tidak hambar.
“Kau tidak menerima kebaikan ku ya sudahlah..”
Sehabis berkata si wanita cantik itu lalu meninggalkan pemuda baju abu abu itu.
Dalam suasana yang begitu tegang mendadak di seling oleh adegan yang sungguh romantis kejadian itu siapapun tak dapat melihat dan dapat menduganya sendiri.
Yao lie lu si iblis cantik di dunia persilatan agaknya ada mempunyai hubungan apa apa dengan pemuda yang sikapnya dingin angkuh demikian mereka berpikir.
Yao lie lu muncul di kang-ouw hanya dalam waktu beberapa bulan belakangan ini saja. Akan tetapi kekejaman dan keganasannya tidak di bawah si Naga Merah. Dalam jangka waktu beberapa hari saja entah sudah berapa puluh jiwa yang melayang ditangan gadis cantik ini. Namun ia ternyata bisa ambil perhatian demikian besar terhadap dirinya pemuda yang agak angkuh sikapnya itu. Bagaimana tidak membikin heran orang orang kang-ouw yang mengenal akan sifatnya ?.
Pemuda pendiam dan agak angkuh itu setelah Yao lie lu melepaskan tangannya lalu tertawa dingin, kemudian sekonyong konyong ia berjalan cepat menuju ketempat berdirinya Kiong hay it mo.
Ia hendak mencari Naga Merah apa perlunya ? perbuatan pemuda yang sangat ganjil itu mau tak mau telah mengejutkan semua orang yang bersembunyi di sekitar lembah.
Pada saat itu juga terdengar suara Kiong hay it mo yang mengandung ejekan.
“Tuan sesungguhnya terlalu jumawa kau mau jiwa tuaku orang she Lie barangkali tidak gampang!”
Baru habis ucapannya Kiong hay it-mo suara ketawa yang berbunyi seram itu kembali terdengar dan kali ini kedengarannya makin dekat lagi. Setelah ketawa seram itu berhenti lalu terdengar suaranya yang dingin berkata : “Kalau begitu sekarang juga aku bisa kirim kau ke akherat”,.
Suara tadi yang kedengarannya seperti dari tempat sejarak tiga tombak, tapi takkala suara terakhir keluar dari mulut orang seram itu, agaknya seperti sudah berada di belakang Kiong hay it-mo. Bukan kepalang kagetnya Kiong hay itu mo dengan cepat lantas balikan badan.
Dibelakang dirinya entah sejak kapan sudah berdiri seorang yang sejajar badannya memakai pakaian warnah merah, begitu pula kepala serta wajahnya yang menggunakan kerudung warna merah. Serba merah.
Kiong hay it mo wajahnya pucat seketika. Tanpa disadari olehnya kakinya sudah bergerak mundur dua tindak. Orang kuat rimba persilatan yang sedang bersembunyi di tempat gelap juga pada merasa terkejut, hati mereka bimbang, entah bagaimana mereka harus bertindak sekarang?.
Naga Merah yang mengirimkan tusuk konde berukiran Naga Merah akhirnya muncul juga di bawah sorotan banyak orang !,.
Dalam selang itu mendadak terdengar ketawa dingin yang kemudian di susul oleh melesatnya satu bayangan orang. Dan ternyata adalah Yao lie lu siperempuan cantik lantas menerjang pada Naga Merah.
Gerakan Yao lie lu itu sangat gesit dan cepat begitu berkelebat bayangannya tahu tahu orangnya sudah berada di tempat dimana Naga Merah sedang hendak unjuk gigi.
Semua orang orang kang-ouw di situ diam diam semua terkejut.
Pada saat itu tiba tiba terdengar suara Naga Merah yang berkata dengan sikap kereng: “Budak, enyah kau dari sini”
Dibarengi dengan perkataannya itu, tubuhnya Yao lie lu sudah dibuat terpental oleh suatu kekuatan tenaga yang tidak tertampak.
Seiring dengan terpelesetnya Yao lie lu ia tampaknya berkelebat bayangan merah dan baga merah sudah tidak kelihatan lagi disitu.
Apa sebetulnya yang telah terjadi ?.
Naga Merah itu kelihatannya belum turun tangan sama sekali terhadap Kiong hay it mo sekarang mengapa secara mendadakan sudah pergi lagi ?.
Semua mata lalu ditujukan kearahnya Kiong hay it mo ternyata setelah bayangan merah itu berkelebat menghilang si iblis kenamaan telah menjerit keras dan mulutnya menyemburkan darah segar badannya lantas rubuh tersungkur.
Keadaan disitu lantas menjadi gempar, wajah meraka satu persatu berubah ketakutan. Memang ini adalah merupakan suatu kejadian yang tidak habis di mengerti.
Kita bayangkan saja. Dengan kepandaian ilmu silat yang dimiliki oleh Kiong hay it mo si iblis yang sudah sangat kesohor namanya ternyata dalam waktu setengah gebrakan saja sudah binasa ditangan Naga Merah, ini betul hebat dan mengerikan.
Pertunjukan yang tadinya diharapkan sangat seru, ternyata telah berakhir tanpa ada yang tahu bagaimana cara bergebraknya, hal ini tentu sudah sangat mengecewakan semua orang kang-ouw yang datang ketempat tersebut.
Tapi takkala Naga Merah berlalu pemuda baju abu abu tadi telah mengeluarkan bentakannya.
“Naga Merah jangan pergi dulu”
Suara bentakan yang keluarnya secara tiba tiba dari mulutnya pemuda pendiam dan ketus itu tidak ubahnya seperti suara halilintar dimalam yang sunyi itu, hingga semua orang yang berada di sekitar lembah itu terkesima dibuatnya. Dan sekarang semua mata tertuju kepada pemuda baju abu abu yang pendiam dan angkuh itu.
Setelah mendengar pemuda itu membentak, kembali kedengaran suaranya Naga Merah yang berkata tawar “Bocah kau suruh aku jangan pergi, apa perlunya?”
Pemuda baju abu abu itu lantas berkata dengan suara cemas “Benda ini aku percaya kau pasti kenal dan maui!”
Sehabis berkata dari dalam saku bajunya pemuda itu mengeluarkan sebelah pecahan mangkok berwarna merah.
Tepat pada saat pemuda itu hendak mengeluarkan pecahan mangkok itu sesosok bayangan hitam dengan kecepatan bagai kilat menyambar benda itu dari tangannya pemuda.
Pemuda berbaju abu abu itu tangannya tampak bergerak dan pecahan mangkok lantas sudah terlepas dari tangannya.
Perubahan yang terjadi secara tiba tiba itu sungguh membuat pemuda itu amat kaget, tanpa sadar kakinya lantas bergerak mundur dua tindak.
Takkala ia angkat kepalanya baru mengenali orang yang merampas pecahan mangkok dari tangannya itu ternyata bukan Naga Merah, melainkan adalah seorang tua yang menggenakan pakaian warna hitam.

Dengan munculnya pecahan mangkok itu kembali membuat gempar semua orang kang-ouw yang bersembunyi di situ, Mereka pada merasa heran mengapa pecahan mangkok yang merupakan benda pusaka tidak ternilai harganya itu bisa berada di tangan pemuda pendiam yang tampak sangat sederhana itu ?.
Apakah hubungan antara pemuda itu dengan Naga Merah ?.
Apa sebabnya pemuda itu memperlihatkan benda pusaka tadi kepada Naga Merah ? Siapakah sebetulnya pemuda baju abu-abu yang pendiam itu?.
Semua pertanyaan ini telah memusingkan kepala orang kangouw yang berada dalam lembah.
Pemuda pendiam berbaju abu abu tersebut ketika menampak pecahan mangkoknya direbut orang lantas menegur pada siorang tua baju hitam itu dengan perasaan gusar.:.
“Sepotong pecahan mangkok ini tokh bukan kepunyaan lootiang, mengapa dengan tanpa sebab lootiang merampasnya?”
Sehabis berkata begitu lantas menerjang kepada orang tua berbaju hitam itu. Orang tua baju hitam itu ketawa dingin kemudian berkata “Bocah kau jangan banyak lagak, sejak dahulu kala, benda pusaka harus di punyai oleh orang yang tepat sebagai pemiliknya enyahlah kau ..”
Sehabis berkata ia ayunkan tangan kanannya menghajar badannya pemuda baju abu abu itu. Pemuda pendiam itu agaknya tidak menduga sama sekali orang tua itu akan turun tangan secara mendadak terhadap dirinya, maka seketika badannya sudah dibikin terpental sejauh satu tombak lebih, ia rubuh di tanah dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Dalam keadaan setengah pingsan terdengar suara rintihannya.
“Oh ibu, aku telah terluka, aku dengan mereka tidak mempunyai permusuhan apa apa. Ibu nasibku terlalu sengsara, selanjutnya aku akan berdaya untuk membalas sakit hati pukulan yang aku terima ini ...”
Setelah mengucapkan perkataannya itu air matanya mengalir keluar dan lantas tidak ingat akan dirinya lagi..
Dengan secara kebetulan tempat dimana pemuda itu jatuh justru ada berdampingan dengan dirinya Yao lie lu yang tadi di bikin terpental oleh si Naga Merah , saat itu pula perlahan ia sudah mulai siuman.
Seketika ia lantas lompat berdiri, kemudian mengeluarkan dua butir pil sebutir ditelan sendiri, sebutir lagi di masukkan kedalam mulutnya pemuda baju abu abu yang sangat pendiam dan angkuh tersebut.
Dalam jangka waktu sekejapan saja suasana telah menjadi gempar dengan terjadinya perubahan secara mendadak itu.
Sepotong pecahan mangkok itu telah menggemparkan semua orang yang ada di lembah itu sekalipun Pendekar Kalong dan Yan san It hiong yang bersembunyi di lain sudut juga tidak terkecuali. Saat itu terdengar suaranya Yan san It hiong berkata :.
“Loko itu adalah pecahan mangkok yang menggemparkan seluruh rimba persilatan mengapa bisa berada di tangannya pemuda baju abu abu yang sangat pendiam itu ? bagaimana sebetulnya?”
“Benar pecahan mangkok itu memang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan sangat jelas bagaimana bisa berada di dalam tangannya pemuda pendiam itu, sesungguhnya merupakan tanda tanya dan suatu teka teki yang besar”, jawabnya Pendekar Kalong.
“Sepotong pecahan mangkok itu, menjadi barang perebutan oleh orang orang rimba persilatan?”
Pendekar Kalong setelah berpikir sejenak lalu berkata,.
“Kau barang kali masih belum lupa kejadian pada tiga puluh tahun berselang diatas bukit karang perkampungan dimana telah diadakan pertemuan orang orang dari rimba persilatan, di situ pernah dibicarakan bahwa pecahan mangkok itu adalah barang peninggalan dari seorang pengemis sakti kenamaan pada dua ratus tahun yang lalu, pengemis sakti itu bukan hanya kepandaiannya melebihi dari semua jago jago yang ada pada jaman itu tetapi juga mempunyai kepandaian yang sangat luar bisa tingginya., juga pandai betul dengan ilmu meramal, sebelum menutup mata semua kepandaiannya telah diukir dalam mangkok yang biasa ia gunakan untuk meminta sedekah itu. Kepandaian ilmu silat yang tertulis diatas mangkok itu kabarnya sangat tinggi dan sukar dicari tandingannya. Apa yang paling mengherankan ialah perkataan yang pernah ia tinggalkan “Bahwa dunia kang-ouw pada dua ratus kemudian akan diliputi oleh kejadian yang menggemparkan dan menyedihkan, tengkorak berapi yang diciptakan oleh Tok gan lokay (manusia aneh mata satu) di gunung Kui leng san pada dua ratus tahun kemudian akan muncul didunia kang-ouw..”
Yan san It hiong hatinya tercekat tanpa sadar ia berseru “Tengkorak Berapi?”
“Benar, tengkorak berapi ini begitu muncul di dunia kang-ouw jikalau tidak ada orang yang bisa menaklukkannya bukan cuma orang orang dari golongan hitam atau putih tapi seluruhnya pasti akan binasa oleh tengkorak berapi itu sekalipun tiga partai besar yang dewasa ini sedang jaya jayanya juga pasti tidak akan terhindar dari malapetaka tersebut. Maka, pengemis sakti itu telah mempelajari suatu ilmu yang dinamakan “Han im” yang yang terukir diatas mangkok itu. Kabarnya hanya dengan ilmunya itu baru bisa menaklukkan tengkorak berapi”
“Bagaimana mangkok itu bisa pecah menjadi dua belah?”
“Pengemis sakti itu setelah tewas, mangkoknya lantas menghilang dari dunia kang-ouw sampai pada tiga puluh tahun berselang mangkok itu baru muncul lagi didalam pertemuan para jago jago persilatan di atas bukit karang Pek kut giam, semula orang yang menyimpan mangkok itu adalah Kim yang Ie su. Kala itu, orang itu dikepung oleh orang orang banyak diatas bukit batu karang hingga mangkok pusakanya pecah menjadi dua belah dan didapatkan oleh Hiat Im cu dan sebelah lagi masih berada ditangannya Kim Yang ie su, pecahan mangkok itu terjatuh dari bukit karang itu dan terus untuk melanjutkan hilang tidak kedengaran lagi ceritanya lagi”
“Kejadian ini pernah juga aku dengar Kim yang ie su dengan membawa pecahan mangkoknya lompat ke bawah bukit Pek kut giam, Apa tidak ada lain orang yang turun ke bawah mencarinya?”
“Kenapa tidak ? tapi bukan saja bangkainya Kim gan ie su tidak dapat di ketemukan bahkan sepotong mangkok itu juga tidak ada orang yang menemukannya. Maka sepotong pecahan mangkok itu kalau kini bisa terjatuh dalam tangan pemuda baju abu abu tersebut, berarti dalam hal ini pasti ada rahasia apa apanya. Sebentar, mau tak mau kita harus membikin terang rahasianya.”
Yan san It hiong angguk angguk kepalanya, dan takkala matanya ditujukan kedalam kalangan hatinya terkejut seketika. Sebab didalam lembah itu dalam waktu sekejapan selama ia bercakap cakap kembali sudah diliputi suasana pembunuhan, orang tua baju hitam itu meskipun sudah berhasil dapat merampas pecahan mangkok dari tangan si pemuda baju abu abu, tapi semua tokoh tokoh rimba persilatan yang berada di lembah tersebut secara perlahan lahan mulai mengurung dirinya orang tua itu.
Ketegangan suasananya tidak beda seperti yang pernah terjadi ketika Naga Merah hendak unjukan diri tadi.
Mendadak terdengar suara orang yang ketawa amat nyaring telah memecah suasana ketegangan saat itu kemudian disusul oleh berkelabatnya sesosok bayangan orang.
Seorang tua dengan jenggotnya yang sudah putih memerak dengan bentuk badannya yang gemuk mendadak melayang terus dihadapannya orang tua berbaju hitam tadi.
Munculnya orang tua gemuk berjanggung putih ini tentu saja membuat terperanjat semua orang yang mengitari orang tua berbaju hitam tersebut. Serentak mereka pada bertanya tanya pada diri mereka sendiri : “Kenapa Tiong tong it lo juga datang kemari”
Orang tua gemuk jenggot putih itu memang betul adalah Tiong tong it lo Ciok pek leng. Setelah berada di hadapan orang tua baju hitam, si gemuk ini lantas berkata sambil tersenyum.
“Pak kay mo kun benar benar seorang yang kenal barang baik, sepotong mangkok pecah ini memang pernah menggemparkan seluruh rimba persilatan, meskipun cuma sebelah tapi kau juga tidak boleh kangkangi sendiri.”
Begitu nama Pak hay mo kun itu keluar dari mulutnya si orang tua gemuk jenggot putih itu semua orang kang-ouw yang berada di situ lantas berubah wajahnya tanpa terasa mereka sudah pada mengandung rasa jeri.
Kiranya, orang baju hitam itu adalah kauw cu dari perkumpulan Hiang peng kaw di Pak hay (lautan utara).
Ketika Tiong tong it lo Ciok pek leng menghampiri Pak hay mo kun dari samping orang tua itu tiba tiba muncul 5 orang berseragam hitam yang lantas pada menghadang di hadapan Tion tong it lo.
Lima orang berpakaian hitam itu adalah lima tongcu perkumpulan Hiang peng kauw, takkala lima tiongcu dari Hiang peng kauw itu menghadang dihadapannya Tiong tong it lo suasana tampak semakin gawat.
Tiong tong it lo ciok pek leng sepasang matanya menyapu kearah lima Tiongcu itu sejenak lalu berkata dengan suara dingin : “Aha kau Hian peng kauwcu sungguh tidak nyana juga sudah membawa begini banyak pembantu terkuat dari perkumpulanmu. Cuma kau harus ingat sepotong mangkok pecah itu meski sekarang berada ditanganmu tapi kalau kau ingin bawa pulang ke Pak hay, barangkali bukan suatu urusan yang begitu gampang”
Pada saat itu orang banyak telah berkumpul mengurung dirinya Pak hay mo kun dan kelima orang tong cu dari perkumpulan hian peng kauw.
Pertempuran sengit agaknya tidak dapat di hindarkan lagi melutusnya. Setiap saat dapat saja di mulai soal adu jiwa itu.
Sepotong pecahan mangkok yang kelihatan sepintas lalu seperti barang yang tidak ada harganya itu ternyata sudah menarik perhatian semua orang orang kuat yang berada di situ. Sebab kepandaian ilmu silat yang tertera diatas mangkok tersebut memang sesungguhnya dapat membikin mengilar setiap orang dari rimba persilatan.
Tiong tong It lo menggerak gerakkan tongkat bambunya napsu membunuhnya tampak jelas dimukanya. Dengan sorot mata dingin ia menyapu kelima orang tongcu itu. Tiba tiba mulutnya membentak tongkat bambunya digerakkan dengan suara gerakan yang sangat dahsyat ia membabat kearahnya lima tongcu yang menghadang dihadapannya tadi.
Gerakan yang dilakukan secara mendadak dan cepat luar biasa itu sesungguhnya jauh di luar dugaan kelima orang tongcu tersebut dalam kagetnya mereka buru buru pada mundur sampai lima tindak.
Setelah Tiong tong it lo Ciok pek leng memulai serangannya itu, tujuh orang kuat yang terkenal sebagai Tionggoan Cit sat juga bergerak berbareng menerjang dirinya Pak hay mo kun.
Tionggoan Cit sat merupakan orang orang terkuat dari golongan hitam. Kepandaiaan mereka didalam kalangan kang-ouw jarang mendapat tandingan. Tujuh orang bersaudara itu telah menguasai daerah telaga Tong teng ouw sehingga merupakan jagoan dari daerah tersebut.
Begitu tujuh orang bersaudara itu turun tangan. Tiong tong it lo Ciok pek leng menggerakkan tongkat bambunya pula. Beruntun tiaga kali ia melancarkan serangan hebatnya mengarah kelima tongcu tersebut.


Setelah pertempuran dimulai, Pak hay mo kun yang melihat keadaannya saat itu, diam diam hatinya merasa cemas, pikirnya “Semua orang kuat daerah Tiong goan sudah berkumpul didalam lembah, maka malam ini kalau hendak keluar dari lembah ini dengan membawa pecahan mangkok sungguh suatu hal yang sangat sulit”

Kepandaian silatnya Pak hay mo kun merupakan suatu macam ilmu silat tersendiri serangan pertama yang dilancarkan tadi telah mengambil seluruh kekuatan tenaga mereka bertujuh, hingga lantas terdengar suara jeritan ngeri dua diantara tujuh bersaudara Tiong goan Cit sat sudah jatuh roboh.
Kejadian itu betul betul mengejutkan semua orang yang ada di situ kepandaian Pak hay mo kun yang disohorkan ternyata bukan cuma isapan jempol belaka.
Melihat cuma segebrakan saja dua saudaranya telah binasanya sisanya Tiong goan Cit sat lantas pada mundur dengan sangat gugup. Dengan perasaan jeri mereka mengawasi Pak hay mo kundengan mata tak berkedip.
Hal itu terjadi secara tiba tiba tiba sampaipun Tiong to it lo yang namanya sangat tersohor juga terpaksa harus mondar mandir sambil menarik serangannya.
Pak hay it mo dengan sikapnya yang jumawa menyapa orang orang di sekitar lalu berkata sambil ketawa mengejek!.
“Kepandaian ilmu silat di daerah Tion goan ternyata cuma sebegitu saja ? hm ! siapa yang tidak takut mati boleh maju coba coba lagi”
Perkataan itu juga membuat malu semua orang orang kuat dari rimba persilatan yang berkumpul di situ. Coba saja bayangkan orang orang yang mengurung dirinya Pak hay mo kun itu hampir rata rata merupakan jago jago yang namanya sudah terkenal didalam rimba persilatan di daerah Tionggoan belum pernah mereka mendapat hinaan orang demikian rupa.
Tiong tong it lo lalu tertawa tergelak gelak seraya berkata :.
“Hian pang kauw cu seseungguhnya kau terlalu jumawa, sudah lama lohu mengagumi kepandaian silat dari golongan Pak hay, sungguh beruntung hari ini kita bisa bertemu di sini. Maka lohu ingin belajar kenal beberapa jurus”
Setelah berkata begitu tongkat bambunya di putar dan maju menghampiri Pak hay mo kun.
Lima saudara dari Tinggoan Cit sat setelah menyaksikan dua saudaranya mati secara menggenaskan ditangannya Pak hay mo kun dan kini diejek dengan sedemikian rupa amarahnya tidak dapat dikendalikan lagi, serentak mereka pada ketawa tergelak gelak dan maju menghampiri Pak hay mo kun lagi.
Suasana di lembah itu kembali diliputi oleh napsu angkara murka.
Yan san It hiong dan Pendekar Kalong ketika menyaksikan keadaan sudah meruncing diam diam juga terperanjat.
Saat itu terdengar suaranya Yan san It hiong berkata “Loko sepotong pecahan mangkok bisa menimbulkan perebutan diantara orang orang rimba persilatan. Kalau tidak menyaksikan sendiri sesungguhnya susah membikin orang percaya”
Pendekar Kalong menjawab sambil tersenyum,.
“Kejadian yang tidak mungkin dipercaya bukankah sudah terbentang dihadapan mata kita ? Itu pengemis sakti yang sudah meninggalkan warisan pecahan mangkok jikalau arwahnya di alam baka mengetahui barangkali akan menghela nafas dan geleng geleng kepala.”
“Dia sendiri mungkin juga tidak menduga bahwa mangkok dengan ukiran dari seluruh kepandaian ilmu silatnya itu bisa menimbulkan malapetaka dunia persilatan setelah ia meninggalkan dunia dua ratus tahun lamanya.”
“Memang suatu benda yang dinamakan benda mujizat kadang kadang bisa membawa bencana hebat. Sebab setiap benda yang dianggap sebagai benda muzijat atau benda pusaka sudah tentu akan dijadikan barang rebutan banyak orang. Dan dalam masa perebutan itu sudah tentu akan banyak meminta korban jiwa manusia. Sejak dulu memang sudah begitu jalannya peristiwa.”
Pendekar Kalong menghela nafas panjang, ketika ia menengok kedalam kalangan saat itu Yao lie lu dan pemuda pendiam itu kedua duanya sudah bangun berdiri.
Pemuda abu abu yang pendiam sikapnya diwajahnya tampak sangat gusar. Sorot matanya terus menatap ke sepotong pecahan mangkok yang berada dalam genggaman Pak hay mo kun.
Yao lie lu ketawa ewah, ia lalu menanya ke pemuda itu “Apakah pecahan mangkok itu kepunyaanmu?”
Pemuda baju abu abu itu tersadar dari lamunan dan kegusarannya, dengan sorot mata yang mengandung terima kasih ia mengawasi Yao lie lu sejenak, lalu bertanya pada si wanita cantik “Barusan apa kau yang sudah menolong aku?”
Yao lie lu ketawa hambar. ia hanya menyahut “Ng” dengan perlahan. Pemuda itu tiba tiba menghentakkan kakinya dan berkata gusar “Kenapa kau mau menolong aku dan kenapa lagi kau selalu membuntuti aku?”
“Apakah kau ingin cari mampus ?” balas tanya si cantik kearah si pemuda, kemudian berkata pula: “Sementara mengenai perbuatanku yang terus mengikuti kau sama sekali tidak ada maksud jahat dalam hatiku, aku cuma merasa bahwa tindakanmu ini sangat mencurigakan”
“Aku berterima kasih atas pertolonganmu, cuma hutang budi ini entah kapan baru bisa aku baya?”
“Jikalau aku inginkan kau membalas budi tidak perlu aku menemani kau lagi”
“Apakah kau tidak ada maksud lain?”
Yao lie lu tersenyum, dengan matanya yang jeli ia menatap wajah pemuda baju abu abu itu dengan sorot mata mengandung arti.
Pandangan mata itu telah membuat tergoncang hatinya si anak muda hingga ia tidak tahan, perlahan lahan kepalanya di tundukkan.
Yao lie lu lalu berkata : “Yao lie lu sudah banyak mengambil jiwa manusia, jika aku orang yang ingin aku bunuh tentu tidak ada seorangpun yang bisa lolos dari tanganku. Namun apa sebabnya aku bisa berlaku begini terhadap kau, aku sendiri juga tidak mengerti”
Pemuda pendiam itu menghela nafas perlahan, agaknya ia ingin mengatakan sesuatu tetapi diurungkan maksudnya.
Yao lie lu lalu berkata lagi : “Sepotong pecahan mangkok itu jikalau kau mau, aku bisa mintakan kembali untukmu” Perkataan itu seketika membuat bangun semangat si pemuda, “Kau hendak ambil kembali untukku ?” tanyanya “Ng”
Pemuda pendiam itu geleng geleng kan kepalanya dan berkata pada dirinya sendiri.
“Hutang lama masih belum kubayar, bagaimana boleh di tambah dengan hutang baru ? Apalagi orang orang kuat dari rimba persilatan yang sudah kesohor ketangkasannya ini bagaimana mampu kau tandingi?”
Yao lie lu berkata sambil ketawa manis.
“Apakah artinya itu hutang baru dan hutang lama segala? Yao lie lu sekalipun korbankan jiwa dan hancur lebur dianiaya untuk kau juga tidak akan merasa sayang”
Suara wanita cantik ini diucapkan sangat merdu dan nadanya menarik sekali. Suatu perasaan aneh telah mengetuk hatinya anak muda...
Ketika ia menatap wajah gadis cantik di hadapannya kembali terbentur dengan pandangan mata Yao lie lu yang tajam dan penuh mengandung arti yang dalam, hingga suatu perasaan yang menakutkan telah terlintas di otaknya.
Yao lie lu kembali perlihatkan ketawanya yang menggiurkan, lalu tubuhnya diputar setengah lingkaran dengan perlahan lalu berjalan menuju ketengah kalangan.
Pada saat itu terdengar suara saling bentak dari orang orang yang bertempur.
Di medan pertempuran dalam waktu sekejapan mata terjadi banyak perubahan. Tiong goan Cit sat yang tinggal lima orang bersama Tiong tong It lo sudah melancarkan seranganya. Enam orang ini telah menerjang berbarengan kearahnya Hian peng Kauwcu....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar