Sabtu, 13 Januari 2018

Naga Merah 03


PEK LEK CU berobah wajahnya.
“Bocah kau ketawakan siapa?” tanyanya gusar. “Aku tertawakan kau, orang jumawa!”
Pek lek cu wajahnya berubah pucat sekali itu. Napsunya hendak membunuh pemuda itu timbul secara mendadak. Sebab, setiap perkataan pemuda itu sesungguhnya membuat ia merasa tidak sabar untuk menelan satu-satunya begitu saja. Ini dapat dimengerti, sejak ia muncul didunia kangouw, kapan pernah ia dihinakan orang terus menerus demikian rupa? Bocah yang baru lahir belum lama ini ternyata sudah berani omong gede, mencela orang lain secara terang-terangan, bagaimana ia tidak menjadi gusar?.
Ciang hay Sin kun dan Pendekar Kalong ketika melihat suasana sudah meruncing diam-diam juga pada terperanjat. Pemuda baju abu-abu ini benar-benar tidak tahu diri. pikir mereka.
Selagi Ciang hay Sin kun masih dalam berpikir, Pek lek cu sudah bergerak maju kedepan si pemuda baju abu-abu dan menanya dengan suara gusar, “Apa kau merasa tidak puas?”
Pemuda baju abu-abu itu lalu menjawab sambil mendekati orang yang sedang menghampirinya: “Sudah tentu tidak?” Dan sepasang matanya lalu menyapu Pak lek cu sejenak.
“Begini saja. Kita bertaruhan dengan mengadu jurus kepandaian, jikalau kau kalah......” Belum sampai habis ucapan pemuda baju abu-abu pendiam itu, sudah membikin gusar Pek lek cu yang jadi berjingkrak-jingkrak seperti orang edan, mulutnya berkaok-kaok.
“Jikalau aku kalah dibawah tanganmu, bocah. Pek lek cu selanjutnya tidak akan gentayangan dalam dunia kangouw lagi.”
“Perkataanmu ini sesungguhnya kau ucapkan terlalu berat. Kau anggap kepandaianmu sendiri sudah tidak ada tandingannya dalam kolong langt ini, tapi dalam pikirku kau cuma merupakan satu Siao cut (manusia kecil) yang tidak ada artinya dalam dunia kangouw.”
Pek lek cu tidak sanggup lagi agaknya menerima terus menerus ejekan maka seketika itu ia lantas membentak keras.
“Kau cari mampus!....”
Dan bersamaan dengan itu, tangannya terayun hendak menyerang si pemuda banyak mulut.
Tapi ada saat tangan Pek lek cu terayun, saat itu juga pemuda itu membentak secara tiba-tiba.
“Pek lek cu tahan dulu!!”
Perkataan itu agaknya mengandung kekuatan dan pengaruh gaib yang amat besar. Seketika Pek lek cu menarik kembali serangannya yang sudah dilancarkan setengah jalan. Ketika ia menatap wajah si pemuda. Ia lihat pemuda itu dengan tenang luar biasa berkata sambil ketawa dingin.
“Pek lek cu, mari kita bertaruhan dengan lima jurus pukulan. Jikalau kau kalah, kau berikan padaku tiga butir bom Pek lek tanmu...”
“Boleh!! Tapi kalau kau yang kalah, bagaimana?” Ia memotong.
“Kau jangan terburu napsu dulu. Perkataanku masih belum habis. Kita berdua mengadakan pertaruhan dengan lima jurus ilmu pukulan. Jikalau kau yang kalah, kau harus berikan aku tiga bommu dan juga harus segera pergi ke pusatnya Hian peng kauw di lautan utara untuk mengambil pedang Hian peng kiam untukku.”
Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula,.
“Dan jikalau aku yang kalah akan kuberikan kau itu pecahan mangkok peninggalannya itu pengemis sakti pada 200 tahun berselang.”
Sehabis berkata, dari dalam sakunya dikeluarkan sepotong pecahan mangkok lagi. Itu ternyata warnanya masih berkilap seperti kaca kalau dibandingkan dengan barang pecah yang dikeluarkan duluan, bedanya yang bumi dengan langit.
Dengan munculnya kembali pecahan mangkok ini, gemparlah keadaan disitu. Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya pada terheran-heran.
Pemuda baju abu-abu ini benar-benar misterius.
Ia berani menantang terang-terangan pada Pek lek cu dan berani pula mempertaruhkan sepotong pecahan mangkok yang dipandang sebagai barang pusaka itu, maka asal usul dirinya pemuda itu mungkin bukan sembarangan.
Pada hari itu si pemuda sedang mengulap-ulapkan mangkoknya sambil berkata, “Pek lek cu, kita gunakan benda ini sebagai barang taruhan. Bagaimana?”
Pek lek cu lantas menjawab sambil ketawa bergelak-gelak.
“Bagus.. bagus..!! Kita tetapkan benda itu sebagai barang taruhan. Kalau kalah akan segera aku berikan kau tiga bom ku dan juga akan segera aku pergi ke lautan utara untuk mengambil pedang Hian peng kiam. Kalau kau yang kalah, boleh kau serahkan sepotong pecahan mangkok itu.”
Munculnya pecahan mangkok kembali dari si pemuda baju abu-abu lagi lagi menggemparkan sangat semua orang yang berada disitu.
Orang-orang yang datang hanya hendak turut menyaksikan Naga Merah beraksi. Meski sebagian besar sudah berlalu meninggalkan lembah tersebut, tapi yang tidak tujukan matanya dengan penuh gairah ke arah tangan si pemuda baju abu-abu yang sedang memegang pecahan mangkoknya.
Benda yang dibuat taruhan oleh kedua orang itu sama-sama merupakan benda-benda yang sangat langka dalam dunia rimba persilatan.
Benda dalam tangan pemuda baju abu-abu merupakan suatu benda pusaka yang tidak ternilai harganya dalam dunia. Sedangkan tiga bom Pek lek tan yang dibuat taruhan oleh pemiliknya, meskipun belum terhitung barang pusaka benar-benar namun untuk menyuruh Pek lek cu pergi ke lautan utara mengambilkan Hian peng kiam bagi si pemuda, ini merupakan suatu tugas yang maha sulit.
Untuk sesaat lamanya suasana kembali berubah sunyi sepi. Tak ada seorangpun yang berani buka mulut bersuara. Hanya banyak pasang mata yang ditujukan kearah dua orang ditengah-tengah dengan mata tak berkedip.
Sementara itu, orang-orang dari rombongan Ciang hay Sin kun semua pada kuatirkan keselamatan si pemuda pendiam baju abu-abu. Sebab dengan kepandaian Pek lek cu salah satu dari Bu lim Sam cu, bagaimana pemuda itu mampu menandingi?.
Didalam lembah yang sangat sunyi keadaannya itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring dibarengi oleh suara seruan seorang wanita yang kedengarannya dari tempat diluar lembah.
Orang-orang yang berada didalam lembah, begitu mendengar suara nyaring itu pada terperanjat. Diluar lembah pasti ada orang sedang bertempur!.
Pada saat itu, Pek lek cu sudah berjalan dan berdiri didepan si pemuda baju abu-abu dan segera berkata dengan suara dingin.
“Bocah, bagimana kita mulai turun tangan?”
Akan tetapi pemuda baju abu-abu itu tidak menjawab pertanyaan Pek lek cu, sebaliknya sedang mengarahkan pandangan matanya ke arah Pendekar Kalong, dan kepadanya ia berkata.
“Locianpwe, harap kau suka bertindak sebagai wasit.”
Pek lek cu lagi-lagi berubah wajahnya. Ia berkata dengan suara gusar!.
“Apa aku siorang tua mau mengakali kau? Apa kau kira aku mau lepaskan kepercayaanku?”
“Buat orang lain tidak berani kukatakan itu. Tapi kau Pek lek cu, kau bukan seorang yang bisa pegang teguh janjimu!”
“Sejak kapan aku pernah mengingkari janjiku sendiri?”
“Yang jauh-jauh tidak usah kita katakan. Yang terang tiga puluh tahun yang lalu kalau kau tidak mengingkari janjimu, maka Tiong-goan It kauw Cu pek Kun juga tidak akan binasa di atas gunung Bu-tong san. Tentang peristiwa ini tentunya kau masih ingat betul betul bukan?”
Mendengar perkataan pemuda pendiam baju abu-abu ini, wajahnya Pek lek cu berubah pucat seketika. Tanpa merasa kakinya mundur dua tindak. Sepasang matanya mendelik sebesar jengkol, mulutnya menanya dengan suara tak lampias.
“Kau.....kau siapa?!”
Pemuda itu ketawa bergelak-gelak.
“Tentang ini tidak harus kau tahu!” katanya.
Ia berhenti sejenak lalu berpaling kearah Pendekar Kalong dan berkata pula. “Locianpwe, sukakah kau menjadi wasit dalam pertandingan kami?”
Pendekar Kalong yang ditanya demikian oleh pemuda baju abu-abu seketika itu merasa agak sulit menjawab. Sebab Pek lek cu adalah seorang besar yang namanya sudah sangat terkenal, bagaimana ia mau menerima begitu saja permintaan pemuda yang masih hijau itu?.
Maka ia saat itu hanya kerutkan keningnya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan si pemuda pendiam.
Pek lek cu lalu berkata, “Setan keluyuran, diwaktu tengah malam kau terima baik saja permintaannya.” Pendekar Kalong terpaksa anggukkan kepalanya dan berkata, “Legakanlah hatimu!”

Pemuda pendiam baju abu-abu itu nampak bersenyum lalu berkata kepada Pek lek cu. “Pek lek cu, sekarang kita tentukan begini saja. Aku yang rendah cuma seorang yang tidak bisa apa-apa karena terluka parah. Jikalau turun tangan mengadu kekuatan, sudah tentu aku tidak mempunyai kemampuan, maka sebaiknya kita.....”
Pek lek cu lantas memotong, “Sebaiknya kita ucapkan dengan lisan setiap gerak tipu yang hendak kita keluarkan dan suruh pihak lawan memecahkan, beres bukan?”
“Kau benar! Kita batasi saja lima jurus. Dalam waktu setengah jam kalau salah satu tidak mampu memecahkan gerak tipu serangan yang diajukan oleh lawannya akan terhitung pihak kalah.”
Pek lek cu tiba-tiba memikir sesuatu. Dan ia lekas berkata,.
“Cuma aku masih mau ajukan satu syarat lagi. Kalau kau kalah, kau beritahukan padaku nama, asal-usul, suhu serta dalam partai mana kau termasuk!”
“Boleh.. boleh.. tentu boleh...!” jawab si pemuda pendiam yang lantas duduk bersila ditanah.
Pek lek cu ketawa dingin, ia juga lantas duduk numprah dihadapan si anak muda. Semua mata orang-orang yang berada didalam lembah pada ditujukan kearah kedua orang yang duduk berhadapan itu tanpa berkedip.
Apa yang membuat orang-orang tidak habis mengerti dan terheran-heran ialah, si pemuda baju abu-abu yang namanya belum pernah dikenal orang, berani menantang Pek lek cu, seorang tokoh besar yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatan, sungguh mustahil.
Selagi pemuda pendiam itu hendak bicara, Pek lek cu agaknya ingat lagi sesuatu yang maka cepat-cepat ia berkata,.
“Bocah, tunggu dulu! Siapa yang bisa meyakinkan pecahan mangkokmu itu tulen atau palsu?”
Pemuda itu ketawa hambar.
“Ini gampang sekali!” jawabnya. “Didalam pecahan mangkok ini ada terukir wajahnya si pengemis tua yang seperti orang hidup. Kau lihat sendiri pasti akan mengerti.”
Setelah itu, ia lalu mengangsurkan mangkok yang pecah itu kedepan, diberikan kepada Pek lek cu.
Pek lek cu mengamat-amati dengan teliti benda yang diberikan padanya. Benar saja, didalam pecahan mangkok itu terdapat satu gambar ukiran satu pengemis tua yang sangat indah.
Setelah pemuda itu menerima kembali mangkoknya, lalu berkata pula,.
“Barang seperti yang kau lihat sendiri tulen bukan? Dan sekarang marilah kita mulai menyebutkan gerak tipu yang akan kita gunakan!”
Pek lek cu berkata sambil ketawa gergelak-gelak.
“Bagus.. bagus!! Bocah, boleh kau sebutkan dulu jurus yang pertama!”
“Kalau begitu, terpaksa aku menuruti kesukaanmu. Jurus pertama: Ie ya Hui hoa (Kembang kembang berterbangan dihalaman hujan)”
Mendengar perkataan itu, Pek lek cu terperanjat. Dengan tanpa sadar mulutnya lantas menyahut.
“Ie ya Hui hoa?”
Keadaan disekitar tempat tersebut sunyi senyap, tidak terdengar suara apa-apa.
Ciang hay Sin kun, Pendekar Kalong, Yan san It hiong dan beberapa jago kenamaan yang saat itu pada menyaksikan semua pada mengawasi dirinya pemuda aneh itu dengan sorot mata terheran-heran.
Pemuda baju kelabu itu memang sangat aneh tingkah lakunya, entah siapa dia itu?.
Pek lek cu yang masih terperanjat dan terheran-heran, dalam hatinya berpikir “Pemuda ini benar-benar ada mempunyai ilmu luar biasa, tangannya tipu serangan Ie ya Hui hoa (bunga berterbangan diwaktu malam hujan) ini sesungguhnya ada satu jurus serangan yang luar biasa...”
Sembari berpikir, keningnya nampak dikerutkan. Ia tengah berpikir keras untuk memcahkan tipu serangan itu.
Dalam hati ia mengerti, jika hari itu ia kalah dibawah tangannya pemuda baju kelabu ini, benar-benar seperti sebuah perahu yang terbalik diair dangkal, yang sudah tidak dapat didayung lagi.
Apalagi benda yang digunakan untuk pertaruhan kali ini juga besar sekali, ialah tiba buah bom Pek lek tan. Ditambah lagi dengan sebilah pusaka pedang Hian peng kiam yang harus diambil dari tangannya pemimpin perkumpulan Hian peng kauw di Pak hay.
Ini sesungguhnya merupakan pertaruhan besar yang jarang ada duanya.
Tapi soal kalah pertaruhan masih merupakan satu soal kecil, kehilangan muka justru yang merupakan satu perkara besar. Sebab bagi orang-orang kangouw, perkara muka dan nama baik itulah yang paling diutamakan.
Pek lek cu semula tidak pandang mata kepada pemuda baju kelabu yang sikap dan tingkah lakunya aneh itu, dan sekarang setelah pemuda itu menyebutkan satu nama dari jurus tipu serangannya yang dinamakan Ie ya Hui hoa, ia lantas mulai keder.
Lama-lama sekali, ia baru membuka mulut dan berkata, “In khay Jit hian (Awan terbuka matahari kelihatan)” Pemuda baju kelabu itu ketawa hambar dan berkata pula, “Kalau begitu, kau sebutkanlah jurus pertama seranganmu!” Pek lek cu mengangguk dan lalu berkata, “Pu ceng Khui hiang (Membuka jendela mengintip sang harum).” Pemuda itu segera menjawab tanpa berpikir, “Sit teng Sui tiang (Padamkan pelita turunkan kelambu)”
Mendengar jawaban yang tepat itu, wajahnya Pek lek cu berubah seketika, sebab jurus yang olehnya telah menggunakan waktu beberapa puluh tahun baru dapat difahami itu ternyata dapat dipecahkan oleh si anak muda aneh itu dengan tanpa dipikir, bagaimana ia tidak terkejut?
Saat itu si pemuda lantas ketawa hambar dan berkata pula, “Jurus kedua, Jit goat kao hui (Matahari dan rembulan saling memancarkan sinar)”
Ini adalah satu tipu serangan yang sukar dipecahkan. Mendengar disebutnya nama tipu pukulan itu, wajah Pek lek cu kembali berubah pucat.
Disebutnya nama tipu pukulan itu bukan cuma Pek lek cu saja yang terkejut, sekaligus orang-orang yang sudah ternama seperti Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya juga sama merasa kaget dan terheran-heran.
Pek lek cu nampaknya sedang berpikir keras, keringat mulai mengalir keluar dari jidatnya.
Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya diam-diam juga turut kuatirkan dirinya Pek lek cu, karena apabila Pek lek cu terjungkal ditangannya pemuda aneh tidak dikenal itu, entah kemana hendak ditaruh mukanya?.
Dalam suasana sunyi seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dingin, yang segera memcahkan kesunyian itu.
Suara itu keluar dari mulut Yao lie lu.
Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya ketika mendengar suara itu, wajahnya nampak tegang. Selagi hendak membuka mulut, pemuda baju kelabu yang aneh itu sudah berpaling dan berkata kepada Pendekar Kalong,.
“Locianpwe, Yao lie lu sudah bertempur dengan ketiga ketua dari tiga partai besar, kalian boleh menonton keramaian.”
Pendekar Kalong yang mendengar perkataan pemuda itu, hatinya terkejut, ia mengawasi Ciang hay Sin kun sejenak, lalu menanya padanya, “Apakah kita perlu pergi melihat?”
Ciang hay Sin kun anggukkan kepala, badannya lantas bergerak dan melesat sejauh lima tombak, lari menuju kearah datangnya suara tadi.
Yao lie lu yang tadi meninggalkan pemuda baju kelabu itu dalam keadaan murka pikirannya sangat risau. Ia tidak menduga bahwa perhatiannya itu telah dibalas dengan sikap yang begitu dingin.
Tentang dirinya anak muda aneh itu, ia sebetulnya masih belum tahu sama sekali, begitu melihat padanya, sungguh aneh, entah ada pengaruh apa telah membuat ia tergila-gla padanya.
Meskipun itu ada suatu hal yang agak ganjil dan tidak mungkin, kalau diingat akan perangainya Yao lie lu yang tinggi hati dan mau menang sendiri, namun perasaannya itu seolah-olah mengganggu pikirannya, hingga ia tidak mampu mengatasi perasaan cinta yang meluap melewati batas itu.
Begitu melihat lantas jatuh cinta, ini ada merupakan satu pepatah yang sudah tidak asing lagi bagi kaum muda, juga ada satu hal yang bukannya tidak mungkin sama sekali. Dan perasaan antara manusia dengan manusia yang berlawanan jenis kadang-kadang telah terlahir dibawah pengaruh pepatah itu.
Tatkala Yao lie lu meninggalkan si anak muda dalam hati pepat, lantas melihat para ketua dari tiga partai besar serta anak muridnya menghadang perjalanannya, kejelesannya itu telah berubah menjadi hawa amarah yang begitu besar.
Ia menyapu dengan matanya yang berlagak kepada tiga ketua dan anak muridnya itu sekilas, lalu berkata dengan suara dingin.
“Tiga Ciangbun jin dari 3 partai besar, sungguh tidak dinyana karena urusan Yao lie lu telah datang mengunjungi selat Bu siong hiap sendiri. Aku Yao lie lu sesungguhnya merasa sangat bangga mendapat kehormatan yang begitu besar!”
Sehabis berkata, ia majukan sikapnya yang begitu menarik dan menawan hati, sampai tiga ketua partai itu pada tergerak hatinya.
Ketua dari Siau lim pay Goan khut lantas menjawab sambil rangkapkan kedua tangannya.
“O Mie To Hud, kami sungguh berdoca, Pinceng sekalian bertiga memang betul datang kemari melulu karena urusan Liesicu.”
Wajahnya Yao lie lu lantas berubah, dengan sikapnya yang dingin angkuh ia berkata, “Apakah kedatangan kalian ini disebabkan karena kematian beberapa murid kalian dari tiga partai besar itu?”
“Kedatangan pinceng memang benar lantaran itu. Liesicu yang baru beberapa bulan muncul didunia kangouw sudah membinasakan begitu banyak jiwa manusia, bahkan sudah membinasakan 5 jiwa murid kami dari tiga partai besar...” Jawab Goan khut.
“Dan sekarang mau apa?” menyelak Yao lie lu.
Ketua Bu tong pay Ha seng cu wajahnya berubah seketika. Ia ada seorang yang beradat berangasan, bagaimana sanggup mendengarkan ucapannya Yao lie lu yang begitu sombong dan bersifat mengejek?
Maka seketika itu ia lantas maju menghampiri dan berkata sambil ketawa dingin. “Mudah sekali, hutang darah bayar darah!”
Tatkala Ha seng cu bergerak tiga anak muridnya Bu tong pay juga turut bergerak maju sehingga Yao lie lu terkurung ditengah-tengah.
Suasana lantas berubah menjadi gawat, pertempuran akan segera dimulai.
Yao lie lu kerlingkan matanya yang jeli, mulutnya menyungging senyuman yang menggiurkan, agaknya tidak pandang mata sama sekali akan kedatangan tiga ketua dari tida partai besar itu. Malah ia masih berkata seenaknya, “Majulah bersama!”
Tiga Ciang bun jin dari tiga partai besar itu, malam itu telah datang ke selat Bu siong hiap bersama beberapa puluh anak muridnya, selain hendak menyaksikan Naga Merah yang hendak muncul disitu, juga hendak menjumpai Yao lie lu.
Wanita muda cantik jelita yang centil genit itu, baru beberapa bulan saja muncul di dunia kangouw. Tapi hatinya kejam tangannya ganas, kepandaian ilmu silatnya yang sangat tinggi, banyak orang kangouw telah binasa ditangannya. Sampai anak muridnya tiga partai besar juga ada lima orang yang tewas ditangannya.
Maka selama beberapa bulan itu Yao lie lu sebetulnya sudah merupakan momok atau memedi yang membawa bencana bagi dunia kangouw. Perbuatan dan keganasannya sesungguhnya tidak dibawah Naga Merah.
Dari kedatangannya ketiga ketua dari 3 partai besar itu yang diiringi oleh beberapa puluh anak muridnya yang terkuat, dapat diduga bahwa urusan itu sesungguhnya bukan urusan sepele saja.
Mengenai kegemarannya Yao lie lu yang suka membunuh jiwa manusia dan apa sebabnya berbuat demikian, tidak seorangpun yang tahu.
Orang-orang dari ketiga partai besar itu ketika mendengar perkataannya Yao lie lu yang begitu jumawa sudah tidak bisa menahan sabar lagi.
Dari rombongan tersebut lantas keluar satu muridnya Siao lim pay dengan senjata sodokan ditangannya ia lantas membentak, “Liesicu sebetulnya sangat tidak memandang orang, pinceng ingin maju beberapa jurus lebih dulu dengan liesicu.”


Sehabis berkata ia lalu menyerang dengan menggunakan tipu serangan yang dinamakan Lek sao Ngo sak atau dengan kekuatan menyapu gunung Ngo gak. Serangan ini ada begitu hebat.
Hweshio itu ada merupakan salah satu murid terkuat dari golongan Siao lim pay. Tatkala senjata sodokannya menyambar Yao lie lu lompat melesat keatas, seolah-olah kupu-kupu berterbangan dikebun bunga, menghindarkan serangan tersebut. sedang tangan kanannya lantas mengirim satu serangan pembalasan.
Kita tinggalkan dulu pertempuran yang berjalan seru ini, dan balik kepada pemuda baju kelabu yang aneh itu yang ternyata sudah sampai ke babak yang menentukan.
Saat itu tampak Pek lek cu sudah mandi keringat, sikapnya tegang.
Jurus yang disebut “Jie goat Kao hui” oleh anak muda tadi, sesungguhnya ia belum pernah dengar, tapi kini telah keluar dari mulutnya pemuda aneh itu, kepandaian siapa sesungguhnya sangat mengagumkan.
Tatkala tampak Pek lek cu lama tidak mampu menjawab pemuda aneh itu lalu unjuk ketawanya yang hambar, kemudian berkata.
“Pek lek cu, kau kalah. setengah jam sudah lewat tapi kau masih belum mampu memecahkannya.”
Mendengar itu, wajahnya Pek lek cu pucat pasi, mendadak ia lompat dan berkata dengan suara dingin,.
“Benar, Pek lek cu sudah kalah, tapi jika kau tidak mau menyebutkan nama suhumu, aku tidak mau menyerahkan itu tiga buah bom Pek lek tan dan ke Pak hay mengambil pedang Hian peng kiam.”
Perkataan Pek lek cu itu sesungguhnya diluar dugaan si pemuda, Pek lek cu yang dalam kalangan Bu lim Sam cu sudah tentu merupakan seorang kuat yang bukan sembarangan, benar-benar tidak dinyana kalau ia berani mengingkari janjinya sendiri.
Pemuda itu memandang padanya sejenak, lalu berkata dengan suara dingin,.
“Pek lek cu, kau harus mengerti, barusan kita sudah berjanji jika aku kalah, sudah tentu akan memberitahukan siapa suhuku. Tapi sekarang kau yang kalah, jikalau kau akan mengingkari janjimu sendiri, hal itu akan pasti membuat rusak namamu sendiri, juga akan membuat tertawaan orang kangouw. Beberapa bom Pek lek tan bagiku tidak ada artinya.”
Perkataan itu meskipun diucapkan secara lunak tapi peda. Pek lek cu sebagai seorang ternama dalam dunia kangouw sudah tentu tidak mau membikin cemar atau noda nama baiknya sendiri. Maka meski agak berat dan agak mendongkol, terpaksa ia ketawa terbahak-bahak dan berkata, “Ya sudahlah.. Pek lek cu untuk pertama kali ini mengalami kekalahan mutlak..”
Ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga buah bom Pek lek tan yang lantas diserahkan kepada si anak muda.
Ketika menyerahkan bom Pek lek tan itu, tangannya tampak gemetaran. Karena bom Pek lek tan yang dengan jerih payah dibuatnya sendiri, yang pun telah dipandangnya sebagai barang pusaka, kini dengan mudah dan sekaligus pindah ketangan lain orang. Bagaimana ia tidak merasa berat dan sedih?.
Pemuda baju kelabu itu setelah menyambuti bom Pek lek tan, wajahnya masih tetap sebagaimana biasa, sama sekali tidak memperlihatkan sikap sombong atas kemenangannya. Sebaliknya dengan Pek lek cu, hatinya merasa seperti diiris-iris, hampir saja keluar air matanya.
Dan setelah pemuda itu memasukkan bom-nya kedalam saku bajunya ia lalu berkata dengan suara dingin, “Pek lek cu, aku berikan kau tempo sebulan untuk pergi ke Pak hay mengambil pedang Hian peng kiam dan kemudian serahkan padaku seperti apa yang telah kita janjikan.”
Pek lek cu merasa gemas dan mendongkol. Ia ingin segera dapat membinasakan pemuda itu untuk melampiaskan kemedongkolannya, akan tetapi bagaimana ia bisa berbuat demikian?.
Maka saat itu ia hanya dapat kertak gigi dan dengan mata mendelik mengawasi si anak muda. Lalu tanpa mengucapkan apapun juga tak menjawab perkataan si anak muda ia berlalu meninggalkan tempat tersebut dengan tindakan lebar.
Pemuda baju kelabu itu ketawa hambar. Ia memandang bayangan Pek lek cu yang sudah lenyap dari depan matanya.
Sesaat berselang mendadak diwajahnya terlihat sikap yang aneh sekali, membuat siapa yang memandangnya merasa keder.
Dalam hati pemuda itu ternyata sedang berpikir keras. Pikirnya apabila harapan yang ditunggunya banyak tahun itu tercapai dan memang hari itu juga tercapainya karena tiga bom Pek lek tan tadi ada dipikirnya akan dilemparkan satu persatu kedalam pekarangan tiga partai besar.
Memikir sampai disitu, tampak diwajahnya terlintas senyuman bangga. Selagi hendak angkat kaki meninggalkan tempat tersebut, mendadak dilihatnya ada sekelebat satu bayangan merah yang terus berdiri tepat disisinya si pemuda.
Pemuda aneh itu tampak terkejut, tanpa sadar kakinya menggeser mundur selangkah. Ketika kepalanya menoleh kesamping, orang yang berdiri disisinya tadinya itu ternyata adalah seorang gadis jelita yang berusia kira-kira dua puluh tahun.
Gadis jelita berbaju merah itu dengan senyumnya yang menggiurkan, tampak matanya yang jeli mengawasi si pemuda.
Pemuda itu sendiri begitu melihat gadis tersebut, wajahnya berubah, hampir dia menjerit. Ia mundur lagi dua langkah dan berkata dengan suara agak gelagapan.
“Kau....”
Dan sikapnya yang tadi begitu dingin dan kaku, kini telah berubah seperti seorang yang keheranan. Kejadian itu sungguh aneh. Mengapa pemuda baju kelabu itu setelah melihat datangnya gadis jelita baju merah itu sikapnya mendadak berubah begitu rupa?.
Gadis baju merah itu nampaknya juga tercengang, kini sikapnya berubah menjadi dingin.
“Aku kenapa?” tanyanya. “Kau.. kau siapa?”
“Pertanyaanmu ini kedengarannya sungguh janggal!”
Pemuda berbaju kelabu itu terperanjat sekali lagi. Nampak matanya terpejam lama sekali, lalu menarik napas perlahan. Dan setelah itu, wajahnya kembali seperti biasa, kaku dingin.
“Harap nona suka maafkan kalau aku berlaku agak lancang. Hanya....” Gadis itu memotong lalu menyambungi “Hanya karena aku mirip dengan seseorang, maksudmu?”
Pemuda itu mengawasi si gadis baju merah sejurus. Lalu mengangguk dan berkata pula.
“Benar. Kau mirip sekali dengan seseorang. Tetapi dia sudah pergi.... pergi untuk selamanya.”
Setelah mengucapkan perkataan tersebut, lalu pemuda itu memutar tubuhnya dan berlalu.
“Kau balik!!” seru gadis baju merah itu.
Seruan gadis itu agaknya mempunyai pengaruh begitu besar, seperti besi sembrani yang mempunyai daya penarik besar, hingga si pemuda baju kelabu yang sudah berjalan agak jauh bisa balik kembali.
Gadis baju merah itu kembali membuka mulutnya dan berkata dengan suaranya yang masih tetap dingin,.
“Tan Liong, kuberitahukan padamu. Orang lain tidak tahu kau siapa, tapi bagiku keadaanmu jelas seperti kaca. Meskipun kau sudah menangkan tiga buah bom Pek lek tan dan pedang Hian peng kiam dari tangannya Pek lek cu, tapi sekarang aku ingin bertaruh sepotong mangkok pecah itu dengan kau.”
Pemuda baju kelabu itu terkejut mendengar perkataan gadis itu. Dengan sikap dingin ia balas menanya, “Dengan barang apakah mau kau pertaruhkan barang itu?”
“Sepotong mangkok pecah yang lain.”
“Sepotong mangkok pecah yang lain?” menegaskan pemuda itu kaget sekali ia rupanya.
“Benar! itulah sepotong mangkok pecah lainnya yang kau butuhkan bukan?” Pemuda itu maju dua langkah dan berkata dengan nada cemas ragu-ragu, “Aku tidak percaya kau punya barang itu.”
“Tidak percaya? boleh kau raba sesukamu.”
Pemuda baju kelabu itu seketika wajahnya berubah. Tanpa disengaja tangannya dirogohkan kedalam saku bajunya. Sepotong pecahan mangkok yang semula berada dalam sakunya kini ternyata sudah lenyap entah kemana.
Bukan kepalang kagetnya pemuda itu. Ia lantas menatap wajah si gadis baju merah, baru dilihatnya bahwa ditangan gadis tersebut ada tergengam pecahan mangkok yang tadi ditaruhnya dalam saku.
Diam-diam ia bergidik. Tanpa sadar kembali kakinya menggeser kebelakang selangkah.
Gadis baju merah itu mengawasi wajahnya pemuda yang nampaknya begitu sangat terkejutnya, lalu berkatalah ia sambil perdengarkan suara ketawanya yang hambar,.
“Benda ini meskipun aku dapatkan dengan cara mencuri, tapi kalau aku mau pergi begitu saja, rasanya ada suatu perbuatan yang keterlaluan. Maka aku ingin pertaruhkan ini lagi dengan tiga jurus tipu serangan. Jikalau kau dapat memecahkan tiga jurus tipu serngan yang kana kusebutkan nanti, benda ini boleh kau ambil pulang. Tapi sebaliknya jika kau kalah, pecahan mangkok ini kubawa pergi. Akur?”

Pemuda itu mengawasi gadis baju merah itu dengan mata mendelik, hatinya diam-diam memaki,”Kalau aku tidak terluka parah yang menyebabkan kepandaianku lenyap semua sekarang, pasti akan kurubuhkan kau dalam segebrakan saja.”
“Kalau beigtu, kau yang enak sendiri.” demikian jawabnya kemudian.
“Enaknya bagaimana? Sekalipun kau merasa sedikit rugi tapi toh kau tak bisa berbuat apa-apa terhadapku bukan? Maka itu kalau kau tak mau bertaruh terpaksa benda ini begitu saja ku bawa pergi.”
“Apa kau kira aku takut padamu? Baiklah! kita tetapkan bertaruh dengan tiga jurus ilmu pukulan tangan kosong.”
Pemuda itu yakin benar bahwa sepotong pecahan mangkok yang kini berada dalam tangan sigadis besar sekali manfaatnya baginya. Apabila gadis baju merah itu benar-benar membawa benda tersebut pergi, tak tahu lagi bagaimana selanjutnya ia akan bertindak.
Oleh karenanya, terpaksa ia menahan sabar.
Gadis baju merah itu mendengar jawaban si pemuda lantas bersenyum seklias tetapi kemudian berkata pula dengan suara hambar, “Kalau begitu, mari kita mulai.”
Pemuda baju kelabu itu mendadak berubah wajahnya seperti ingat sesuatu, ia lantas berkata pula,.
“Sebelum dimulai pertaruhan ini, ada hal ingin kutanyakan padamu, bagaimana kau bisa mengetahui namaku Tan Liong.”
Gadis baju merah itu bersenyum.
“Bukan cuma namamu yang kuketahui, asal usulmu sebagian besar juga sudah kuselidiki dengan jelas. Sekarang kau sedang celaka, seluruh urat nadi dan otot-ototmu tertutup dan kepandaianmu tidak bisa digunakan lagi. Kecuali kau bisa menemukan Hiat im cu yag dengan ilmunya Boan thian Ciu khi (kekuatan murni dari alam) bisa dipakai menobloskan urat nadi dan otot-ototmu, atau kau bisa dapat ilmunya Pan giok sin kang dari Siao lim pay kau bisa tertolong. Tapi kalau begitu, seumur hidupmu kau tak akan bisa menggunakan kepandaianmu lagi. Betul atau tidak?”
Perkataan gadis baju merah itu membuat Tan Kiong, demikian nama pemuda baju kelabu itu kemekmek, dengan sorot mata keheran-heranan diawasinya gadis dihadapannya itu, suasana seram yang menakutkan mendadak seperti telah mengurung dirinya.
Kemudian si pemuda menanya, “Benar kau tahu begitu jelas asal usulku?”
“Apa yang leru diherankan?”
Tan Liong kembali mengawasi gadis itu sejenak, agaknya dari wajah orang ia ingin mendapatakn sesuatu yang ia harapkan, ingin membuka mulut, tetapi akhirnya diurungkan. Terdengar tarikan napas panjang, kemudian baru bisa ia berkata, “Nona, sekarang boleh kita mulai! Sebutkanlah nama ilmu pukulan yang pertama.”
“Sebagai tamu tak pantas mendahului tuan rumah. Sebaiknya kau yang membuka pertandingan ini lebih dulu.”
“Jurus pertama, Jit goat Kan hut”
Gadis baju merah itu ketawa hambar, lantas berkata,.
“Nama ilmu pukulan itu bukankah tadi tak mampu dijawab oleh Pek lek cu? Sekarang biarlah aku yang mencoba-coba memecahkan, Oh in Bit po”
Yang dimaksud Oh in Bit po adalah awan gelap menutupi angkasa.
Mendengar jawaban tersebut, dalam hati Tan Liong diam-diam terkejut, matanya mengawasi sigadis kemudian katanya lagi, “Dan sekarang nona boleh sebutkan jurus yang pertama.”
“Baiklah, jurus pertamaku dinamakan Hang hay Lan thian.”
Tan Liong terperanjat. Diam-diam diulangnya lagi sekali nama tipu pukulan tadi.
Selang sesaat, Tan Liong sejak mendengar gadis itu menyebutkan nama tipu pukulan itu, segera mengetahui bahwa ia sedang menemukan lawan yang tangguh. Kepandaian dan pengertian ilmu silat gadis baju merah didepannya ini sebetulnya tidak berada disebelah bawah kepandaiannya sendiri.
Sejurus lagi sang waktu berlalu, kening si pemuda berkerut, otaknya dikerjakan keras memikirkan cara pemecahan tipu serangan tersebut.
Selagi berada dalam demikian, tiba-tiba didengarnya suara Pek lek cu yang menggeram dari tempat kejauhan.
“Tidak nyana, orang dari tiga partai besar bisa juga memakai cara rendah begitu rupa? Apakah kalian tidak takut menjadi buah tertawaan sahabat-sahabat dunia kangouw? Jikalau belum mau pergi, hati-hati. Aku nanti akan hancur leburkan tiga partai besar kalian yang menganggap diri sebagai partainya orang baik-baik.”
Murid-murid tiga partai besar yang kala itu sedang mengurung Yao lie lu, ketika mendengar bentakan yang ditujukan untuk mereka itu, rupanya terkejut sekali. Tetapi disitu tidak kelihatan orang, hanya suaranya saja yang masih berkumandang.
Pada waktu sudah lima orang diantara anak-anak murid tiga partai besar itu yang sudah berkorban jiwa ditangan Yao lie lu.
Hai seng cu yang mendengar perkataan tadi, lantas menyahut dengan suara tawar: “Sahabat, kau terlalu jumawa! Kami justru ingin lihat kau menggunakan cara apa menghancur-leburkan partai kami!”
Tiba-tiba terdengar suaranya Ciang hay Sin kun yang berakat,.
“Hai, hidung kerbau! Tahan mulutmu! Jangan kau kira cuma kau seorang, sepuluh gunung Bu tong san juga bisa dibikin rata sama tanah dengan tiga buah bom Pek lek tan saja. Kau dengar?”
Kata-kata Ciang hay Sin kun membuat tiga ketua partai besar beserta orang-orangnya pada berubah wajahnya. Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa Pek lek cu juga suka unjuk diri disitu.
Pek lek cu sudah lama terkenal dengan tindak tanduk dan sikapnya yang luar biasa. Sudah lima puluh tahun lamanya ia menggunakan waktunya dipergunungan untuk dapat menciptakan bom Pek lek tan, itu pun baru berhasil membuat lima belas buah saja. Bom-bom buatannya itu begitu dahsyat kekuatannya, hingga dengan sebuah bom saja dapat dipakai untuk menghancurkan sebuah bukit kecil.
Dulu tatkala diadakan pertandingan lima silat di gunung Bong san. Dengan hanya sebuah bom Pek lek tan saja, Pek lek cu pernah menggegerkan keadaan menghancur-leburkan beberapa puluh orang dari golongan baik-baik maupun orang dari golongan sesat.
Dan kini orang yang beradat luar biasa dengan senjatanya yang ganas itu ternyata sudah munculkan diri disitu, sudah barang tentu cukup memakan tempo setengah detik mengejutkan orang-orang tiga partai besar yang semula tidak mengetahui sama sekali.
Terdengar pula suara Pek lek cu yang dengan suara yang besar berakata,.
“Malam ini aku kebetulan aku aku ingin mencari Naga Merah yang dulu pernah mengganas dunia kangouw itu. Maka kali ini bolehlah kulepaskan kalian tiga orang yang mengaku Ciang bun jin dari partai orang baik-baik. Jikalau tidak karena adanya halangan itu pasti akan kusuruh kalian rasakan bagaimana rasanya bom Pek lek tan.”
Ketika orang ketua tiga partai besar itu, wajahnya pada berubah. Ketiganya saling memandang, agaknya hendak meminta pikiran masing-masing.
Pada saat itu, Ciang hay Sin kun, Yan san It liong, Pendekar Kalong dan lain-lainnya sudah lompat keluar dan berdiri disisinya Yao lie lu.
Ketua dari Siao lim pay begitu mendengar disebutnya nama Pek lek cu itu, diam-diam lain berpikir, “Iblis itu adanya luar biasa. Jikalau kita tidak bisa melihat gelagat, mungkin akan mendapat malu besar.”
Karena pikirannya itu, maka ia lantas memberitahukan penadapatnya itu pada Pek lek cu, “Pek lek cu, atas permintaan ini terpaksa kami pulang dulu.”
Dan setelah berkata demikian, lalu berpaling dan berkata pada Yao lie lu.
“Budak! Untuk sementara kami tidak ambil tindakan apa-apa terhadapmu. Harapkan suka ingat sesama manusia, jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan. Jikalau kau masih melakukan perbuatan itu, kami dilain waktu akan membikin perhitungan lagi.”
Setelah berkata demikian, lalu dipimpinnya orang-orangnya berlalu meninggalkan selat itu.
Yao lie lu hanya menyambut ucapan ketua Siao lim pay tadi dengan suara yang dikeluarkan dari hidung.
Ciang hay Sin kun lalu berkata pada Pek lek cu, “Hai, setan tua Pek lek cu, keluarlah, bagaimana kesudahannya pertaruhanmu dengan pemuda itu?”
Pek lek cu lalu unjukkan diri, wajahnya nampak muram. Untuk tidak menjawab pertanyaan orang ia tidak berani, maka hanya berkata,.
“Jangan kau sebut-sebut lagi tentang pertaruhan itu. Malam ini aku jatuh terjungkal ditangan pemuda itu.”
Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya pada melompat dari tempat berdirinya saking kagetnya. Sungguh tidak pernah mereka pikir bahwa Pek lek cu yang ulung bisa jatuh oleh pumda kemaren sore itu, benar-benar suatu berita yang didengar terlalu ganjil oleh mereka. Maka sekali lagi Ciang hay Sin kun coba menagih, “Jadi kau sudah mengaku kalah?”
“Tiga biji bom Pek lek tan ku sudah pindah ke dalam tangannya. Apa itu berarti aku masih menang?”
Pendekar Kalong lantas nyeletuk, “Apakah kalian tidak merasa tingkah laku dan sikap pemuda baju abu-abu itu selalu diliputi keanehan?”
Ciang hay Sin kun setelah mengerutkan kening sejenak, “Benar.” katanya membenarkan “Anak muda itu sesungguhnya memang aneh. Siapa sebenarnya dia? Kenapa kita orang-orang tua, seorangpun tak ada yang tahu? Dari perbuatan semula yang mengeluarkan sepotong pecahan mangkok memancing keluar si Naga Merah, itu saja sudah cukup mengejutkan dan mengherankan.”
Jago kenamaan itu semuanya sudah menumplekkan segenap perhatian melalui pembicaraan tadi kepada pemuda baju kelabu yang dianggap aneh tindak tanduknya itu. Asal usul pemuda itu memang benar merupakan suatu teka teko besar bagi mereka.
Perlu kiranya diketahui, seorang kenamaan sebagai Pek lek cu, yang dengan bom-nya begitupun dengan kepandaiannya telah lama berkecimpung dan mengalahkan banyak jago-jago menghadapi pemuda itu masih tidak berdaya dalam hal mengadu ilmu silat, maka sampai dimana tingginya kepandaian ilmu silat yang dimiliki pemuda tersebut, sesungguhnya memang sukar dijajaki.
Pada saat itu, hanya Yao lie lu yang dengan perasaan pedih, berlalu diam-diam ia meninggalkan tempat tersebut.

Menengok keadaan Yao lie lu yang seperti sudah tak bersemangat lagi itu, Ciang hay Sin kun yang paling dulu melihatnya mendadak tergerak hatinya. Tanpa merasa ia berteriak memanggil si nona.
“Yao lie lu, aku ada sedikit pertanyaan untukmu.” Yao lie lu balikkan badannya dan balas menanya, “Kau mau tanya apa?”
Ciang hay Sin kun dongakkan kepalanya, agaknya tengah berpikir, lama sekali barulah ia berkata lagi “Tentang asal usul dirinya anak muda itu, benarkah kau tidak tahu sama sekali?” Yao lie lu perlihatkan senyuman getir, menjawab sambil gelengkan kepala. “Jikalau aku tahu,” katanya “Apakah aku tak suka memberitahu kalian?”
Setelah ia dengan penyahutannya itu, kembali diputarkannya badannya dan hendak berlalu lagi.
Ciang hay Sin kun mengawasi berlalunya nona itu, beberapa kali kelihatan bibirnya bergerak, tetapi sedikitpun tidak ada keluar dari mulutnya. Akhirnya ia menghela napas dan berkata kepada Pek lek cu yang masih berdiri seperti orang bisu.
“Pemuda aneh itu benar-benar orang muda yang mempunyai kepandaian silat tinggi luar biasa. Tetapi entah ia dianiaya oleh siapa sampai begitu keadaannya, seluruh kepandaiannya tak dapat digunakan lagi? Jawaban teka teki ini tidak boleh tidak harus kita dapatkan.”
Berkata sampai pada kalimat itu, tiba-tiba seperti ingat sesuatu, ia sambil mengawasi Pek lek cu berkata pula.
“Pek lek cu, dulu ketika diadakan pertandingan silat diatas gunung Bong san, yaitu waktu si Naga Merah hanya unjuk diri dan lalu membunuh orang-orang dari golongan baik maupun orng-orang jahat, apa kau juga tak dapat melihat tegas wajah dibalik aslinya bagaimana?”
“Tidak! kala itu dia memakai kerudung kain merah, seluruh badannya juga memakai pakaian warna merah, sama sekali tidak dapat kulihat wajah dibalik kerudungnya.”
Ciang hay Sin kun kembali nampak seperti berpikir sejenak, lalu berkata lagi,.
“Diantara kau dengan si Naga Merah dan Hiat Im cu bertiga, kepandaian siapa yang paling tinggi?”
“Tentang ini masing-masing belum pernah saling bertanding. Sulit untuk diambil ketetapannya. Cuma kalau diukur dari omongan luar ayng disiarkan luas, seharusnya hanya Hiat im ciu yang paling tinggi. Naga Merah kedua.”
Ciang hay Sin kun lantas memotong setelah tertawa. “Kalau begitu, kau sendiri tersebut paling buncit?”
Dengan wajah kemerah-merahan Pek lek cu berkata pula,.
“Sesungguhnya kau masih belum percaya kalau kepandaian Naga Merah diatasku. Itu juga yang mendorongku menjajal dia supaya sekali kali dia cobai bom Pek lek tanku ini.”
“Tapi dua bom Pek lek tan yang kau sambitkan tadi bukankah sudah disambuti oleh si Naga Merah?”
Kembali Pek lek cu merah wajahnya sampai ketelinga, tapi lekas juga ia berkata menutup matanya.
“Kecuali dia, aku percaya tak ada orang lain lagi mempunyai kepandian seperti itu.”
“Mengenai asal usulnya kedua orang itu, tidak boleh tidak kita harus meneyelidiki dan mesti dibikin terang.”
“Sekarang begini saja, kalian berusaha membuka kedok pemuda aneh itu dan kau sendiri yang akan berdaya membuka tutup kerudungnya si Naga Merah.”
Ciang hay Sin kun anggukan kepala, Pek lek cu juga tak mengatakan apa-apa lagi, malah sebentar kemudian, kakinya dienjot lompat melesat jauh sepuluh tombak yang sebentar kemudian lalu menghilang ditempat gelap.
Ciang hay Sin kun tarik napas, sedang Yan san It hiong lalu berkata padanya,.
“Sejak si Naga Merah muncul didunia kangouw, kenapa begitu banyak pembunuhan dilakukannya? Apa tidak takut dia akan akibatnya yang menimbulkan kemarahan semua orang rimba persilatan?”
Baru habis berkata Yan san It hiong, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara orang yang disertai jengekannya yang bernada dingin. Kata orang itu “Dalam segala sepak terjangnya si Naga Merah tidak pernah takut pada siapapun juga.”
Si Pendekar Kalong dan Ciang hay Sin kun ketika mendengar suara itu, wajahnya berubah. Mereka berpaling serentak, dibelakang mereka entah sejak kapan telah kedapatan berdiri sesosok bayangan orang, ketika ditegasi seluruh awak badannya mengenakan pakaian warna merah.
Bukan kepalang kagetnya ketiga orang itu, sampai tanpa merasa sudah menggeser kaki beberapa tindak kebelakang. Perkataan “Naga Merah!” hampir saja keluar dari mulut mereka.
Si Pendekar Kalong menguasai keadaan, dengan tenang yang dilakukan sebisa-bisanya sambil ketawa meringis, ia berkata,.
“Tidak tahunya sahabat Naga Merah yang datang?! Aku si orang she To sungguh amat beruntung bisa bertemu dtempat ini dengan sahabat!”
Orang serba merah itu ketawa dingin, kemudian berkata, “Tuan ini bukan itu orang yang beruntung mendapat gelar Pendekar Kalong?”
“Benar....”
“Barusan ketua dari tiga partai itu pada kemana perginya?”
Pendekar Kalong yang ditanya demikian mendadak terperanjat sekali. Ia balas menanya dengan agak gugup.
“Kenapa? Kau mencari ketua itu ada keperluan apa?”
“Ya.. aku cari mereka. Kearah mana mereka pergi?”
Si Pendekar Kalong tercengang. Sesaat lamanya tak mampu ia menjawab. Hanya dirasakan sekujur badannya dingin beku, bulu romanya berdiri bagai orang meriang.
Begitupun dengan Yan san It hiong, orang ini pada waktu itu barangkali tidak berani bernapas.
Orang serba merah itu ketika melihat tiga orang yang ditanya tidak ada seorang yang berani buka mulut, lalu menegur lagi dengan gusar.
“Apakah kalian ingin cari mampus?”
“Sahabat Naga Merah, kau sungguh keterlaluan, Jikalau kau ada seorang ternama didunia Kangouw, tentunya tidak perlu memcari keterangan dari mulut orang tentang kemana perginya ketiga ketua partai besar itu bukan?” berkata Ciang hay Sin kun sambil terbahak-bahak.
“Orang kata Ciang hay Sin kun ada seorang luar biasa pada masa kini, ada satu hari. Aku nanti juga ingin belajar kenal dengan kepandaianmu barang beberapa jurus saja.” berkata Naga Merah sambil ketawa dingin. Dan setelah itu tanpa berkelebat sinar merah, manusia seram itu telah menghilang dari depan matanya.
Naga Merah... seorang misterius yang penuh diliputi teka teki, juga seperti seorang yang penuh bernoda darah ditubuhnya....
Orang-orang dalam dunia kang-ouw tak seorangpun mengenalnya, juga tak tahu dia itu adalah Naga Merah yang namanya dulu sangat terkenal atau bukan!.
Setelah Naga Merah itu berlalu, Ciang hay Sin kun bertiga pada menarik napas lega. Ciang hay Sin kun kemudian berkata seperti pada dirinya sendiri.
“Rupa-rupanya memang Naga Merah ini akan membawa kekacauan besar bagi dunia rimba persilatan.”
Ciang hay Sin kun mengangguk lalu berjalan kembali ketempat semula.
Pada saat mereka meninggalkan tempat tersebut, suara siulan nyaring seperti suara setan jejadian itu tiba-tiba terdengar pula.
Orang-orang yang kala itu masih berada disitu lantas pada pucat wajahnya, sebab suara seperti itu telah mereka kenal sebagai suara si Naga Merah.
Pendekar Kalong yang masih belum lenyap jerinya, begitu mendengar itu tanpa sadar badannya gemetar. Ketika lebih diteliti, ternyata suara datangnya dari rimba sebelah barat tempatnya berdiri. Ia seperti ingat sesuatu lantas berseru “Celaka!! Mari lekas kita lihat!!”
“Hai.. ada apa kau?” tanya Ciang hay Sin kun kaget.
“Orang-orang tiga partai besar barangkali akan celaka oleh si Naga Merah.”
Ciang hay Sin kun dan Yan san It hiong yang mendengar perkataan Si Pendekar Kalong, wajahnya berubah serentak.
Jikalau benar Ciang bun jin dari tiga partai besar dan semua murid-muridnya nanti terbunuh si Naga Merah, maka dalam rimba persilatan pasti akan timbul bencana besar, ini pun berarti pula dunia kiamat bagi orang-orang kangouw.
Mengingat hebatnya akibat kalau sampai terjadi soal pembunuhan tiga ketua partai besar tersebut, maka Ciang hay Sin kun bertiga lalu mengurungkan maksudnya semula, dan terus lakukan kaki mereka kearah dari mana datangnya suara seperti setan tadi.
Ini adalah satu soal baru yang sangat besar. Tiga Ciang bun jin tiga partai besar datang sendiri-sendiri keselat Ba sing hiap itu sudah merupakan suatu peristiwa yang bukan biasa.
Apabila ketiga ciang bun jin itu kalau sampai terbinasa oleh si Naga Merah, entah akan bagaimana jadinya dengan akibatnya dari peristiwa tersebut?

Naga Merah 02


MENDADAK terdengar suara bentakan.
“Tahan dulu !” dan berbareng dengan itu Yao lie lu cepat bagaikan kilat sudah lompat melesat kedalam kalangan.
Suara bentakan tadi benar-benar seperti mengandung pengaruh yang tidak boleh di bantah. Tiong tong It lo dan lima orang dari Tong goan Cit sat yang sedang menyerang Hian peng Kauwcu, semua lantas pada menarik kembali masing-masing serangannya dan mundur secara teratur.
Tatkala semua mata ditujukan kedalam kalangan, kecantikan dan ketawanya Yao lie lu yang manis menggiurkan telah membuat tercengang semua orang yang berada ditempat seputarnya.
Kecantikan Yao lie lu memang sukar di cari tandingannya. Sejak wanita cantik ini muncul dalam dunia Kang-ouw, entah berapa banyak jiwa telah melayang ditangannya karena orang orang itu kepincut oleh kecantikannya.
Hian peng Kauwcu (Pak hay Mo kun) begitu melihat Yao lie lu hatinya jadi tergoncang keras. Maka seketika itu tampak tercengang berdiri macam patung.
Yao lie lu lantas berkata sambil ketawa.
“Pak hay Mo kun, sepotong pecahan mangkok itu lebih baik kau tinggalkan saja. Jikalau tidak, kalian enam orang barang kali selamanya tidak akan bisa kembali ke Pak hay.”
Perkataan ini telah menimbulkan amarah besar dalam hati Pak hay Mo kun dna kelima orang tongcunya. Saat itu juga Pak hay Mo kun menjawab sambil tertawa bergelak-gelak.
“Budak hina, kau ini barang kali Yao lie lu yang namanya sudah menggetarkan Kang-ouw.”
“Ya, Kau toh sudah tahu aku siapa, maka aku percaya kau tentu akan segera meninggalkan pecahan mangkok itu. Lagi harus ingat barang itu bukanlah kepunyaanmu.”
Perkataannya si cantik meski diucapkan dengan suara sangat merdu, namun ada sedikit mengandung ancaman hebat.
Pada saat itu Tiong tong It lo dan lima saudara dari Tiong goan Cit sat parlahan lahan sudah pada mundur, mereka pikir hendak membiarkan dulu Yao lie lu melawan Pek hay Mo kun, sebab hal ini akan menguntungkan bagi pihaknya sendiri.
Pak hay Mo kun berkata pula sambil ketawa mengejek: “Kalau kau mampu, boleh kau coba-coba merampas benda ini.”
“Kalau begitu, kita rasanya tidak boleh tidak harus adu tenaga,” kata Yo lie la sambil bersenyum.
Perkataannya ini diucapkan dengan sikap tenang dan wajah ramai senyuman, agaknya sedikitpun tidak mengandung maksud hendak membunuh. Akan tetapi sebenarnya senyumannya itu justru adalah senyuman iblis yang seram dan mengandung napsu membunuh.
“Benar!” jawab Pak hay Mo kun sambil tertawa dingin.
“Itu memang jalan yang paling baik...” berkata lagi Yo lie la, yang saat itu wajahnya telah berubah secara mendadak. Matanya menyapu kearah lima orang Tongcu dari Hian peng kauw.
“Lebih baik kalian semua maju berbareng!” ia menantang sambil tertawa dingin.
Pak hay Mo kun sudah tidak dapat menahan rasa gusarnya lagi. Tiba-tiba dia membentak keras, “Budak hina! Kau terlalu tidak pandang mata, sambutlah serangan pertamaku ini.”
Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun, dari sini meluncur keluar satu serangan yang membawa angin sangat dahsyat.
Karena serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba, Yao lie lu juga rupanya terperanjat, sambil tertawa dingin tubuhnya nampak melesat keatas menghindarkan serangan lawan tersebut. Kemudian tangannya kelihatan diulur, dengan satu tipu gerakan Thian-seng Hwe shia (bintang dilangit meluncur turun) dengan cepat ia menotok jalan darah Cing thay hiat ditubuh Pak hay Mo kun.
Gerakan wanita cantik itu sungguh mengejutkan semua orang yang menyaksikan pertempuran itu. Hanya dengan satu gerakan manis yang diperlihatkan oleh Yao lie lu itu sudah cukuplah dapat diukur berapa tingginya kepandaian ilmu silat gadis cantik itu.
Tapi Pak hay Mo kun juga bukanlah satu orang lemah. Begitu ujung jari Yao lie lu hendak mengenakan sasarannya, dengan cepat kakinya bergeser dan mendorong keluar tangan kirinya. Semua gerakannya dilakukan cepat bagai gerakan kilat.
Mau tak mau Yao lie lu merasa kagum juga atas ketinggian ilmu Pak hay Mo kun itu. Ternyata kepandaian kauwcu ini juga sangat tinggi. Gerakannya pun gesit bukan main, kekuatannya juga hebat.
Seketika itu terpaksa Yao lie lu melesat tinggi lagi, dan sambil jumpalitan ditengah udara badannya kemudian melayang turun sejauh kira-kira tiga tombak.
Semua orang kuat yang menyaksikan kejadian itu pada terperanjat. Kepandaian Yao lie lu benar-benar bukan cuma nama kosong belaka.
Sampaipun Pak hay Mo kun sendiri juga dibikin terkejut. Sungguh tidak pernah ia menyangka bahwa orang-orang kuat didaerah Tionggoan ada mempunyai kepandaian begitu tinggi. Yao lie lu yang berusia belum cukup dua puluh tahun ternyata sudah memiliki kepandaian luar biasa tingginya.
Yao lie lu setelah melayang turun kembali dengan kecepatan luar baisa lantas melancarkan serangan beruntun sampai dua kali.
Ketika Yao lie lu untuk kedua kalinya melancarkan serangan, lima Tongcu dari Hian peng kauw pada berubah wajahnya. Dengan wajah penuh amarah perlahan-lahan mereka mendesak Yao lie lu.
Suasana dimedan pertempuran benar-benar sangat tegang.
Sekalipun Yao lie lu dapat berhasil merampas kembali pecahan mangkok itu, orang-orang kangouw yang berada diluar kalangan pasti akan turun tangan untuk merampas lagi dari tangannya.
Pada saat itu orang-orang kangouw diluar kalangan yang berjumlah lima puluh lebih tiba-tiba pada menggeser kaki mereka kedalam kalangan.
Yan-san It-hiong dan Pendekar Kalong memandang kedalam kalangan sejenak, lalu pandangan kembali ditujukan kepada dirinya pemuda baju abu-abu.
Mereka melihat si pemuda sambil ketawa menyeringai matanya sedang ditujukan kearah orang-orang yang sedang bertempur.
Pendekar Kalong dalam hati merasa bingung melihat sikap si pemuda. Pikirnya: “Pemuda baju abu-abu ini kelihatannya tidak mengerti ilmu silat sama sekali tapi mengapa pecahan mangkok itu bisa berada dalam tangannya?”
Karena berpikir demikian, kakinya lalu melangkah menghampiri pemuda pendiam berbaju abu-abu itu dan lantas menanya padanya: “Siapakah nama saudara yang mulia?”
Pemuda baju abu-abu mengawasi Pendekar Kalong sejenak lalu balas menjawab: “Locianpwe bukankah itu Pian hok hiap yang kesohor?”
Pertanyaannya ini sesungguhnya jauh diluar dugaan Pendekar Kalong. Maka seketika itu tampak wajahnya terperanjat. Lama baru ia bisa menjawab: “Benar. Lohu adalah Pian hok hiap. Dan saudara kecil......”
Pemuda baju abu-abu itu lantas memotong, “Locianpwe tidak usah banyak menanya. Namaku sudah lupa.”
Pian hok hiap ketika mendengar jawaban tidak langsung itu, alisnya tampai dikerutkan, dalam hatinya diam-diam berpikir. “Pemuda ini mau dikata tidak kenal ilmu silat, tapi kenapa ia bisa lantas mengenal namaku?”
Pemuda baju abu-abu ketika melihat Pendekar Kalong seperti sedang berpikir, lalu berkata pula sambil ketawa hambar.
“Locianpwe bukankah tadi ingin menanya mengapa potongan pecahan mangkok itu bisa berada dalam tanganku?”
“Benar.” jawab Pendekar Kalong cepat.
“Tentang ini.... maaf aku tidak bisa beritahukan.”
Pendekar Kalong nampak berpikir sejenak, lalu menanya.”
“Apa kau pernah melihat Naga Merah?”
“Melihat memang sudah, tapi belum dapat melihat wajah aslinya.”
“Kenapa?”
Barusan bukankah Locianpwe juga sudah lihat dia?”
Pendekar Kalong diam-diam mengakui kebenaran ucapan pemuda itu. Naga merah sekujur badannya merah. Mukanya juga berkerudung kain merah. Memang tidak dapat dilihat tegas bagaimana wajah aslinya.....
“Itu orang yang mengenakan pakaian serba merah. Apakah benar Naga Merah?”
“Apakah locianpwe anggap bukan?”
Pertanyaan itu sebaliknya membuat Pendekar Kalong melongo. Dalam hatinya kembali berpikir bahwa pemuda dihadapannya ini ada sedikit kukoay. Kalau mau ia tidak mengerti ilmu silat, agaknya tidak masuk diakal. Tetapi kalau mau dibilang ia mengerti ilmu silat, mengapa barusan hanya diserang begitu saja oleh Pak hay Mo kun mulutnya lantas menyemburkan darah? Bagaimana sebetulnya?.
Sekalipun orang yang sudah banyak pertahanan dan pengalaman seperti Pendekar Kalong menghadapi pemuda baju abu-abu yang sangat misterius itu juga mesti merasa bingung.
Seketika itu ia lalu menanya pula sambil kerutkan keningnya. “Lohu tidak tahu entah siapa suhumu yang mulia.”
“Locianpwe anggap aku mengerti ilmu silat?”
“Lohu pikir begitu.”
Pemuda baju abu-abu itu tiba-tiba ketawa bergelak-gelak.
Kelakan yang tidak terduga-duga itu membuat Pendekar Kalong melengak. Lagi-lagi ia menanya: “Kau ketawakan apa?”


Pemuda itu menghentikan ketawanya lalu menjawab,.
“Perkataan locianpwe ini sebetulnya terlalu mengherankan aku. Sebab sejak tadi aku dijelmakan dalam dunia, belum pernah ada orang yang menanya aku sedemikian melit.”
“Aku tidak mengerti apa maksud perkataan saudara?”
“Tidak mengerti? Ya sudah. Cuma memang benar aku mengerti ilmu silat. Tapi kecuali kalau aku bisa menemukan Hiat im cu, semua kepandaianku itu selamanya tidak akan bisa pulih kembali.”
“Kau maksudkan bahwa kau telah dibokong orang?”
Pemuda itu angguk-anggukan kepala. Sekali lagi ia hendak membuka mulut mendadak ada terdengar suara ketawa dingin yang kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan orang.
Tatkala Pendekar Kalong buka matanya dan melihat siapa yang datang, hatinya bercekat. Cepat-cepat ia menyata, “Sahabat Ciang hay Sin kun tidak nyana kau ada kegembiraan begitu besar turut menghadiri keramaian malam ini.”
Orang yang baru datang ini adalah seorang yang berdandan sebagai seorang pelajar pertengahan umur dengan pakaian seperti umumnya dipakai oleh golongan orang terpelajar, tangannya tampak mengoyang-goyangkan kipasnya. Dia adalah seorang aneh nomor satu didalam dunia yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatanm yalah Ciang hay Sin kun.
Ciang hay Sin kun ini sudah sepuluh tahun lebih tidak memperlihatkan diri dunia Kangouw. Tapi pada malam itu mendadak muncul dilembah sempit dibawah kaki gunung Kiu ho san, bagaimana tidak membikin Pendekar Kalong menjadi keheran-heranan?.
“Lootee, barusan bukankah kau pernah kata bahwa manusia hidup dalam dunia dimana saja bisa berjumpa?” demikian kata Ciang hay Sin kun, sambil bersenyum-senyum.
Ketika Ciang hay Sin kun itu muncul didalam kalangan, pemuda baju abu-abu itu tidak perdulikan padanya, malah ia mengarahkan pandangan matanya kearah orang-orang yang sedang bertempur.
Pada saat itu lima orang Tongcu dari Hian peng kauw sudah turun tangan semua mengerubuti si wanita cantik Yao lie lu. Dalam medan pertempuran hanya kelihatan bergerak-geraknya bayangan enam orang bertempur sedang sengit-sengitnya.
Mereka nampaknya sudah bertempur secara mati-matian hanya disebabkan karena sepotong pecahan mangkok saja.
Lima Tongcu dari Hian peng kauw ditambah lagi dengan Pak hay Mo kun, betapa tinggi ilmu kepandaian Yao lie lu mungkin rasanya akan keripuhan juga menghadapi kesemuanya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras. Tiong tong It to Diok Pek Leng bersama menyerang enam orang-orang Hian peng kauw.
Orang-orang yang apda menyaksikan diluar kalangan semua juga pada mengincarkan matanya kearah pecahan mangkok itu, agaknya mereka juga sedang menantikan kesempatan paling baik untuk turun tangan.
Keadaan dimedan pertempuran saat itu mendadak berubah kalut. Bayangan orang bersileweran, sambaran angin yang meluncur keluar dari serangan mereka telah membuat deibu pada mengulak naik.
Pada saat itu Pendekar Kalong menanya pada Cian hay Sin kun dengan suara perlahan sambil menoleh kearah si pemuda abu-abu.
“Apakah Loko kenal pemuda itu?”
“Tidak. Cuma malam ini mungkin kita akan menyaksikan pertunjukan yang amat ramai. Bu lim Sam cu barangkali sudah muncul semua disini.” demikian adalah jawaban Ciang hay Sin kun.
Baru saja perkatannya itu ditutup, satu suara ketawa dingin yang dapat membangkitkan bulu roma tiba-tiba terdengar nyelusup dalam telinga mereka.
Suara itu telah mengejutkan hatinya semua orang yang ada disitu. Sebab suara itu agak mirip dengan suara ketawanya Naga Merah, tapi kalau didengarkan lebih cermat, sebaliknya tidak mirip-miripnya...
Baru saja sirap suara ketawa itu lalu disusul suara bentakan... “Kalian semua jangan turun tangan....”
Suara bentakan itu meskipun tidak keras, tetapi dalam telinga orang-orang yang ada disitu, kedengarannya seperti suara geledek menyambar. Telinga mereka dirasakan pengang sekali.
Suara bentakan itu agaknya jgua mengandung pengaruh yang tidak sedikit. Orang orang yang sudah turun tangan benar saja pada berhenti sambil tarik mundur serangan masing-masing.
Tatkala semua mata ditujukan kearah dari mana datangnya suara tadi, ternyata disekitar lembah hanya kegelapan saja yang nampak. Kecuali bayangan orang-orang yang menyaksikan pertempuran diluar kalangan tidak ada lagi lain orang yang mereka tidak tahu benar dari mana suara itu asalnya.
Tapi suara ketawa tadi memang benar mirip dengan suaranya Naga Merah. Orang-orang yang ada disitu pada berpikir: “Apa si Naga Merah itu muncul lagi?”
Mengingat dirinya Naga Merah semua orang yang ada disitu tanpa disadari hatinya timbul perasaan jeri.
Suara dingin itu kembali terdengar pula dari tempat kegelapan.
“Pak hay Mo kun! Kalau kau masih ingin bisa pulang ke ke Pak hay dalam keadaan selamat, kau tinggalkan sepotong mangkok pecah itu....”
Pak hay Mo kun menjawab sambil ketawa dingin,.
“Tuan tidak berani unjuk muka, barang kali tidak ada muka untuk menemui orang. Tentang pecahan mangkok ini kalau tuan mampu tidak halangan coba-coba ambil kembali dari tanganku.”
Terdengar pula suara itu berkata sambil perdengarkan suara ketawanya yang besar. “Jikalau Pak hay Mo kun tidak takut kepada Pek lek tan (senjata meledak) terpaksa aku akan turun tangan juga.”
Begitu mendengar disebutkan “BOM PEK LEK TAN”, seketika itu juga telah membuat semua orang yang ada disitu pada terperanjat dan merasa ketakutan setengah mati.
Pek lek cu yang dalam nama urutan dari Bu lim Sam cu (tiga cu dari Rimba persilatan) jatuh nomor tiga itu akhirnya muncul.
Senjata bom Pek lek tan dari Pek lek cu ini namanya sudah pernah menggetarkan dunia kangouw. Tatkala diadakan pertandingan diatas gunung Bong San pada tiga puluh tahun berselang, ia dengan sebuah bom-nya Pek lek tan telah membuat hancur berserakan tubuhnya empat puluh orang lebih, baik orang itu dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Sehingga menggetarkan seluruh rimba persilatan.
Pek lek tan telah diyakinkan hampir setengah umur Pek lek cu, untuk ia dapat menjadikan senjata tersebut dalam wujud bom yang amat dahsyat itu. Dengan menggunakan sari bahan-bahan peledak yang keras dan menggunakan waktu lima puluh tahun lamanya ia baru berhasil membuat lima belas saja. Kedahsyatan senjata berupa bom-bom itu, kalau sudah meledak orang-orang yang berada ditempat sekitar 10 tombak sukar dapat menghindarkan diri dari ledakan bom tersebut.
Maka, bagaimanapun hal ini tidak mengejutkan semua orang yang berada disitu ketika mendengar disebutnya nama bom tersebut.
Pak hay Mo kun berubah pucat wajahnya. Keringat tampak mengucur keluar mambasahi sekujur jidatnya. Jikalau ia tetap berkukuh tidak mau menyerahkan sepotong pecahan mangkok itu, niscaya Pek lek cu segera akan melemparkan Pek lek tannya.
Dan jikalau Pek lek tan benar-benar harus meledak disitu, jangan kata ia bersama lima Tong cunya sukar menghindarkan bahaya kematian, sekalipun orang yang berada di seputar tempat itu rasanya tidak akan ada satu yang terluput dari keganasan bom tersebut.
Maka dalam waktu amat singkat, semua orang yang tadi berkerumun menyaksikan pertandingan, sekarang sudah pada menyingkir dengan hati kebat-kebit. Mereka agaknya sangat kuatirkan suatu kejadian gempar akan meledak disitu.
Suasana tetap tegang kalau tidak mau dikatakan semakain memuncak. Dalam keadaan demikian, kembali terdengar suara Pek lek cu yang berkata: “Pak hay Mo kun, benar-benar kau tidak mau lepaskan pecahan mangkok itu?”
Mendengar pertanyaan itu, Pak hay Mo kun terkejut. Seketika itu hanya dapat menghela napas panjang pendek dan kemudian dari dalam badannya ia mengeluarkan sepotong mangkok pecah tersebut....
Tiba-tiba terdengar pula suara yang menyeramkan. Suara ini, sudah dikenal baik oleh semua orang yang ada disitu, karena itu adalah suaranya Naga Merah yang biasa di keluarkan sebelum ia muncul.
Setelah suara seperti setan yang menyeramkan itu sirap, lalu disusul dengan bunyinya suara keresekan seperti suaranya orang sedang berjalan. Suara ini terdengar tegas, memecahkan suasana tegang dimalam gelap gulita dibawah gunung Kim hoa san dan kedengarannya makin lama makin dekat...
Naga Merah kembali hendak perlihatkan diri! Hal ini mau tidak mau sudah menimbulkan rasa takut hebat dalam hati setiap orang yang berada disitu.
Manusia seram yang amat menakutkan itu seakan-akan Giam lo ong (raja akhirat) yang jikalau muncul selalu minta korban jiwa manusia! Apakah maksud kedatangannya untuk kedua kalinya ini?.
Pada saat itu, terdengar pula suara bentakan Pek lek cu, “Pak hay Mo kun! kau manusia tidak mau lekas tinggalkan pecahan mangkok itu?”
Pak hay Mo kun terkejut. Cepat-cepat pecahan mangkok itu ia lemparkan ketanah.
Tiba-tiba sosok bayangan hitam secepat kilat sudah menyambar pecahan mangkok itu sebelum sampai jatuh ke tanah.
Gerakan Pek lek cu, sibayangan hitam tadi meski sudah cukup cepat dan gesit, namun sesosok bayangan merah ternyata bertindak jauh lebih gesit daripadanya.
Sebab tepat selagi Pek lek cu baru saja menyambar pecahan mangkok itu, bayangan merah tersebut sudah lewat bagaikan angin didepannya dan menyambar mangkok yang berada ditangan Pek lek cu.
Pek lek cu kaget bukan main, ketika kepalanya didongakkan, disuatu tempat kira-kira tiga tombak jauhnya ada berdiri sesosok bayangan yang seluruhnya mengenakan pakaian warna merah.


Naga Merah benar-benar sudah muncul lagi.
Semua orang yang berada disitu dengan cepat sudah pada lari mundur untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Sebab jika kedua manusia besar itu nanti bertarung, senjata bom-nya Pek lek cu mungkin juga akan segera keluar mencari mangsa.
Pek lek cu sebenarnya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dengan kepandaiannya pada saat itu demikian tinggi, ternyata masih belum mampu mempertahankan pecahan mangkok itu. Maka kini benda itu sudah kena direbut oleh Naga Merah.
Dalam kaget dan mendongkolnya, membuat seluruh wajahnya yang hitam jengat pada bergerak-gerak kulitnya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah bom yang kecil sekali dan berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
“Naga Merah, aku merasa beruntung malam ini bisa bisa menjumpai kau karena aku si orang tua justru sedang mencari jejakmu..”
“Hmm...Hmm... sesungguhnya tidak nyana malam ini kita bisa saling bertemu disini. Itu adalah yang paling baik!”
Pek lek cu yang mendengar perkatan itu wajahnya berubah seketika. Ia lalu membentak dengan suara nyaring.
“Kalau begitu, kau coba sambuti dulu satu Pek lek tanku ini!”
Dan ia lalu mengayun tangan kanannya, sebuah bom kecil meluncur keluar dari dalam tangannya. Itulah Pek lek tan.
Ketika Pek lek cu mengayun tangannya. Naga Merah sudah gerakkan badannya lebih dulu menyambuti dan menghilang kedalam rimba didepannya.
Kejadian ganjil dan aneh timbul disaat itu juga.
Bom Pek lek tan yang meluncur keluar dari tangan Pek lek cu tadi ternyata sama sekali tidak memperlihatkan pengaruhnya.
Pek lek cu sendiri berdiri ternganga dengan mulut terbuka lebar-lebar. Semua orang kuat yang menyaksikannya juga pada merasa terheran-heran.
Sebab menurut kebiasannya bom Pek lek tan selamanya tidak pernah gagal. Jikalau sudah disambitkan oleh orang yang memilikinya, pasti akan meledak seketika itu juga. Tapi mengapa kali ini tidak? Ini benar-benar merupakan suatu kejadian ganjil luar biasa yang belum pernah dialami oleh Pek lek cu si pemilik bom.
Seketika itu juga Pek lek cu lantas lompat melesat kearah kemana tadi bom-nya dilemparkan.
Dan pada saat itu juga terdengar suara Naga Merah berkata.
“Pek lek cu kau buat Pek lek tan mu itu makan waktu tidak kurang dari lima puluh tahun lamanya dan baru berhasil membuat 15 saja. Biasanya kau pandang itu sebagai barang mestika yang tidak ternilai harganya, mengapa malam ini kau obral begitu saja dengan caramu yang sembarangan? Apa kau kira dengan satu Pek lek tan saja mampu kau jatuhkan Naga Merah? Hmmn.. Mimpi!! kau sungguh terlalu memandang rendah kepadaku Naga Merah...”
Pek lek cu akui benar-benar perkataan itu ada suatu kenyataan, kembali wajahnya berubah. Ketika menyaksikan bom Pek lek tan buatannya itu telah disambuti oleh si Naga Merah, itu saja sudah cukup membuat dia sangat mendongkol dan terheran-heran. Kini mendengar ejekan-ejekan Naga Merah yang sangat menusuk-nusuk hatinya, sudah tentu semakin bertambah rasa gusarnya. Hampir saja dadanya meledak oleh karenanya.
“Tuan sudah sanggup menyambuti senjata bomku, tidak kecewa kau dapatkan julukan sebagai salah satu dari Bu lim Sam cu. Sekarang coba kau sambuti lagi satu bom ku ini.”
Demikian bentak Pek lek cu dan lantas juga menyambitkan sebuah bom-nya lagi.
Tapi bom Pek lek tan yang kedua ini serupa halnya dengan yang pertama, juga tidak meledak.
Bukan kepalang kaget dan gusarnya Pek lek cu pada saat itu. Sebab diwaktu waktu biasanya sekali saja belum pernah ia melakukan kegagalan dalam menggunakan senjatanya itu. Tapi kali ini sampai dua kali beruntun semua sudah disambuti oleh Naga Merah bagimana tidak membuat ia kaget dan terheran-heran?
Kembali terdengar suara Naga Merah berkata.
“Pek lek cu, dua biji bom Pek lek tan ini biarlah kusimpan dulu untuk sementara, Apakah kau pikir hendak mengeluarkan seranganmu yang ketiga?”
Pek lek cu benar-benar merasakan hampir meledak dadanya bahwa gusar. Cepat bagaikan kilat tubuhnya melesat kearah darimana datangnya suara Naga Merah, sedang bom ketiganya tergengam erat-erat dalam tangannya.
Kepandaian Pek lek cu didalam rimba persilatan sudah jarang sekali orang yang mampu menandingi. Ia bersama Hiat im cu dan Naga Merah (Hut long cu) merupakan tiga tokoh terkuat pada jaman itu. Dalam rimba persilatan malah namanya mendapat gelar tinggi Bu lim Sam cu. Dapatlah kita bayangkan sendiri bagaimana gesit dan lincahnya gerakan badan orang-orang ini, maka dalam waktu sekejapan saja Cu yang ketiga ini sudah melesat lima tombak lebih menubruk kearah dari mana datangnya suara tadi.
Mendadak terdengar pula suara Naga Merah yang dibarengi oleh ketawanya yang nyaring.
“Ha..ha..ha.. Pek lek cu biarlah aku simpan dulu dua Pek lek tanmu ini sampai ketemu lain kali. Sekarang aku pergi dulu...”
Sehabis berkata lalu berkelebat satu bayangan merah yang melesat sejauh kira-kira delapan tombak kemudian menghilang dari depan mata orang banyak disitu!.
Pek lek cu marah sekali, Sekujur badannya gemetaran menahan marah, sebab sejak ia muncul dalam dunia kangouw, itu adalah untuk pertama kalinya ia menerima hinaan orang menderita kekalahan hebat. Sedang musuhnya bagimana macam rupanya saja, bukan hanya belum dapat ia melihat dengan tegas, bahkan sudah kehilangan pula dua butir Pek lek tan yang ia pandang sebagai barang mustikanya itu secara begitu mudah, Keganasan dan kemedongkolannya itu memang cukup dapat kita mengerti betapa hebatnya.
Selagi Pek lek cu masih berdiri dengan badan gemetar menahan gusar, mendadak terdengar suatu suara besar berkata “Pek lek cu kehilangan dua Pek lek tan rasakan saja apa artinya? Perlu apa sampai membikin aku begitu gusar dan badanmu gemetaran begitu rupa? Aih sungguh kasian, Makanya lain kali hendaknya jangan suka sembarangan gunakan barang itu, kejadian barusan adalah satu peringatan untukmu.”
Pek lek cu balikan badannya secara mendadak. Orang yang baru menutup mulut itu ternyata adalah pemuda baju abu-abu yang pendiam sikapnya itu.
Pek lek cu mengira bahwa pemuda itu sengaja hendak mengejek dirinya, maka ia seketika itu dengan wajah berubah karena, tubuhnya juga segera melesat kesamping si pemuda sembari berkata dengan suara gusar, “Bocah!! kau siapa?!”
Pemuda pendiam itu bersenyum. Ia lalu berkata dengan sikap tenang luar biasa. “Apa yang aku ucapkan tadi memang dari hal sebetulnya bukan?”
Pendekar Kalong yang menyaksikan keadaan dihadapan matanya saat itu, kuatir lagi-lagi akan timbul bentrokan disitu maka cepat-cepat ia menyelak,.
“Sahabat Pek lek cu, perlu apa kau meladeni segala bocah ingusan dari kalangan muda?”
Ciang hay Sin kun juga turut menimbrung berkata sambil ketawa bergelak-gelak.
“Setan tua Pek lek cu tidak nyana adamu yang berangasan dulu masih tetap kau bawa-bawa sampai dihari tuamu. Apa yang diucapkan oleh bocah itu memang tidak salah. Kau baru kehilangan dua butir Pek lek tanmu, bukankah masih ada tiga belas butir lagi yang cukup dapat kau gunakan?”
Pek lek cu terpaksa menahan amarahnya. Matanya menyapu kearah Ciang hay Sin kun mengapa juga berada disini? demikian pikirnya.
Ketika itu ia lantas berkata “Loko, mengapa kau juga datang?”
“Apakah aku tidak boleh datang?”
Pada saat itu Yao lie lu sudah gerakkan kakinya dan perlahan-lahan menghampiri sambil memperlihatkan sikap penuh perhatian terhadap pemuda itu.
Sebaliknya dengan si pemuda pendiam, melihatpun tidak kepada sicantik. Malah perlahan-lahan ia menghampiri Pek lek cu.
Pemuda baju abu-abu yang pendiam dan sangat misterius itu ternyata tidak ada seorang pun yang mengenalnya.
Siapakah sebetulknya pemuda ini?........
Yao lie lu ketika mendadak melihat pemuda itu berjalan menjauhinya lantas menegur “Kau hendak kemana?”
Pemuda pendiam itu balikkan badan menjawab dengan suara dingin.
“Apakah aku perlu memberitahukan dulu kepadamu tentang segala tindakanku?” Sehabis berkata demikian, ia lalu melanjutkan tindakannya.
Kali ini adalah Yao lie lu yang tidak berani menegurnya lagi. Wanita cantik ini hanya mengawasi belakang punggung si anak muda dengan perasaan mendelu.
Dua buah bom Pek lek tan milik Pek lek cu tidak meledak, itu sudah cukup mengejutkan semua orang yang berada disitu.
Naga merah ternyata mampu menyambuti bom meledak tersebut, yang sangat lihay kepandaian demikian itu sebetulnya tidak habis mengerti.
Soal didalam lembah sempit digunung Kiu hoa san agaknya sudah selesai. Tapi sebelum Naga Merah meninggalkan tempat tersebut suasana tegang dan suram masih saja merajalela.
Orang-orang yang berada disekitar lembah tatkala mendapat lihat bahwa soal disitu sudah selesai, mereka lalu satu demi satu berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Pada saat orang-orang tadi sedang hendak meninggalkan lembah itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, Pek lek cu yang begitu mendengar suara jeritan tersebut adalah merupakan orang pertama bergerak lebih dulu, ia lantas lompat mencelat dari mana suara jeritan tadi keluar.
Pendekar Kalong ketika melihat si pemuda pendiam baju abu-abu itu, pikirannya tergerak, ia lalu memanggilnya “Bocah. kau kemari..”
Si pemuda balikkan badannya dan mengawasi Pendekar Kalong sejenak, kemudian berkata, “Locianpwe, Naga Merah membunuh orang lagi, apa kau tidak ingin melihat?”
Setelah itu, ia lantas berjalan dengan langkah biasa menuju kearah darimana suara tadi datang.
Pendekar Kalong menoleh dan mengawasi Ciang hay Sin kun sejenak. Ia merasa bahwa si anak muda kelakuannya sangat ganjil didepan matanya.
Ciang hay Sin kun melihat sang kawan mengerutkan alis, turut juga mengerutkan keningnya. Matanya dialihkan kearah si wanita cantik Yao lie lu, kemudian bertanya padanya.
“Budak, kau muncul didunia Kang-ouw baru beberapa bulan saja, kenapa sudah membunuh-bunuhi begitu banyak orang?”
“Ini urusanku sendiri.” jawabnya ketus.
“Apakah kau tahu bahwa Ciang bun jin dari tiga partai besar oleh karena pembunuhan mu dulu itu mereka sudah tiba didalam lembah ini?”
Perkataannya itu mengejutkan sungguh hati Yao lie lu. Wajahnya kelihatan berubah sedikit. Sambil perdengarkan suarau dihidung ia berkata, “Apa kau kira aku pandang mata pada tiga ciang bun jin itu?”
“Baiklah!! urusan ini untuk sementara tidak usah kita bicarakan. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamau, apa kau kenal dengan pemuda baju abu-abu itu?” kata lagi Ciang hay Sin kun sambil berdiam.
“Aku dengan dia baru kenal tiga hari yang lalu. Jika dugaanku tidak salah, pasti dia ada seorang berilmu tinggi luar biasa.”
Pendekar Kalong lalu menyeletuk.
“Benar.. pemuda itu memang pernah mengatakan bahwa ia berilmu silat, cuma saja karena kena dibokong orang, ia kata kecuali bisa menemukan Hiat im cu tidak akan pulih kembali keadaannya.”
Ciang hay Sin kun nampak berpikir sejenak. Ia lalu menanya pula kepada Yao lie lu “Ketika kau pertama kali melihatnya, apakah keadaannya sudah begini rupa?”
Yao lie lu hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. Ia menatap Ciang hay Sin kun sejenak, agaknya hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya urung.
Ciang hay Sin kun dongakkan kepala sambil berpikir keras tentang dirinya si pemuda pendiam baju abu-abu yang dalam otaknya seolah-olah merupakan suatu teka teki besar yang erlu harus lekas-lekas dipecahkan. Ia lalu memandang dirinya pemuda yang sudah berjalan agak jauh itu.


Sementara itu hampir semua orang yang ada disitu merasa terheran-heran atas sikap sipemuda pendiam yang sangat ganjil.
Pada saat itu dari dalam rimba yang agak jauh tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan orang. Itu ternyata keluar dari mulutnya Pek lek cu.
Ciang hay Sin kun mengawasi Pendekar Kalong dan Yan san It hiong sejenak, kemudian berkata “Mari kita lihat kesana.”
Baru saja selesai perkataannya tiba-tiba suara ketawa Naga Merah yang amat seram dan menakutkan terdengar dibelakang diri mereka.
Semua orang yang berada disitu pada merasa ketakutan. Mereka balikkan badan hampir berbareng.
Dibelakang mereka entah sejak kapan sudah berdiri sesosok bayangan orang yang seluruh tubuhnya mengenakan pakaian warna merah.
Seruan “Naga Merah” hampir serentak keluar dari mulut mereka.
Saat itu terdengar suaranya Naga Merah yang bernada dingin berkata:.
“Siapa ada itu orang yang mempunyai nyali begitu besar yang berani main gila diatas kepalanya aku si Naga Merah?”
Dengan munculnya Naga Merah secara mendadak itu saja sudah cukup mengejutkan Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya kini setelah mendengar pertanyaan yang tidak kerasa ujung pangkalnya itu sudah tentu membuat lebih heran kepada mereka entah apa yang dimaksudkan dengan pertanyaan itu?.
“Bocah yang membawa sepotong mangkok pecah ini tadi sekarang pergi kemana? Jikalau kalian tidak mau memberitahukan, awas kalian nanti akan aku bikin mampus semua.” berkata Naga Merah sambil perdengarkan ketawanya.
Baru saja habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara ketawa hambar dan suara teguran dibelakang dirinya.
“Kau Naga Merah mencari aku ada perlu apa?”
Dari dalam rimba tiba-tiba muncul dirinya si anak muda baju abu-abu yang sangat misterius kelakuannya.
Pemuda baju abu-abu itu tiba-tiba muncul dihadapannya Naga Merah, telah membuat terkejut hatinya Yao lie lu. Dengan sikapnya yang diluar dugaan semua orang, ia melesat maju dan menghadang dihadapannya pemuda baju abu-abu.
Dengan paras gusar, ia berkata kepada Naga Merah.
“Naga Merah, jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, aku tidak akan tinggal diam terhadap kau.”
Perkataan itu membuat Naga Merah tercengang. Lama baru ia berkata “Kau pernah apa dengan dia?”
Belum lagi Yao lie lu bisa menjawab, telah terdengar suara bentak nyaring dari pemuda pendiam baju abu-abu itu.
“Yao lie lu, kau enyah dari sini!”
Bentakan secara tiba-tiba dari pemuda baju abu-abu itu, bukan saja diluar dugaan Yao lie lu sendiri, sekalipun Naga Merah yang berada sejauh tiga tombak juga merasa heran.
Yao lie lu merasa sangat pilu, alisnya yang panjang dan lentik nampak bergerak, dan butir-butir air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Keadaan Yao lie lu pada saat itu sangat mengharukan semua orang yang menyaksikannya.
Ia mengawasi pemuda baju abu-abu itu sejenak, lalu berkata dengan suara sedih.
“Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, perhatianku kepadamu ternyata tidak kau gubris sama sekali... yah.. aku seharusnya memang pergi, tidak ada gunanya aku turu campur urusanmu, cuma membikin kau merasa jemu terhadap diriku.”
Sehabis berkata, ia lalu meninggalkan pemuda pendiam itu.
Terhadap berlalunya Yao lie lu dengan sikapnya yang sangat memilukan hati, pemuda baju abu-abu itu agaknya tidak mau ambil perduli sama sekali. Ia tujukan matanya kearah dirinya Naga Merah yang berada dihadapannya kira-kira tiga tombak jauhnya. Kemudian berkata dengan suara dingin.
“Apa kau Naga Merah?”
Pertanyaan ini membuat heran semua orang apakah Naga Merah itu palsu? rasanya tidak bisa jadi.
Naga Merah mendengarkan suara ketawanya yang seram, lalu berkata.
“Apakah tuan makan nyalinya macan atau beruang? Sepotong pecahan mangkok ini, kau dapat menipu orang lain, tapi buat aku tidak!! Bahwa apa yang kau tulis diatasnya pecahan mangkok ini, aku Naga Merah pasti akan menepati janjimu!”
Sehabis berkata dan selagi hendak lompat melesat, mendadak sesosok bayangan hitam berkelebat didepan matanya, tahu-tahu Pek lek cu sudah melayang turun dikalangan dengan suara keras ia membentak.
“Naga Merah, kau coba sambuti sekali lagi bom Pek lek tanku!”
Berbareng dengan itu, bom Pek lek tan yang tergengam dalam tangannya mendadak meluncur keluar.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu telah mengejutkan semua orang yang berada disitu. Ciang hay Sin kun lantas berseru “Lekas mundur...” secepat kilat ia sendiri sudah melesat kedalam rimba.
Hampir semua orang yang berada disitu percaya, betapapun tingginya kepandaian Naga Merah, rasanya tidak mampu menyingkirkan diri dari bom Pek lek tan yang disambitkan secara mendadak itu.
Suara menggelegar dari ledakan bom Pek lek tan telah terdengar, sampai lembah digunung itu rasanya seperti turut tergoncang.
Lelatu api ledakan bom yang amat dahsyat itu telah membuat cahaya terang benderang dalam waktu malam yang gelap gulita itu!
Bom Pek lek tan yang disambitkan oleh Pek lek cu, akhirnya telah meledak!.
Tempat sekitar lembah tersebut telah dibuat tergetar oleh ledakan bom tersebut. Pohon-pohon pada tumbang atau rubuh malang melintang.
Kekuatannya bom Pek lek tan itu sesungguhnya sangat menakjubkan.
Tempat dimana bom itu meledak, tanah, batu, dan pepohonan telah menjadi hancur tak keruan macamnya!.
Suara ledakan seperti ledakan gunung api yang sedang bekerja, membuat lembah yang dikitari oleh gunung-gunung tinggi itu benar-benar sedang menghadapi bencana alam yang dahsyat.
Burung-burung atau binatang lainnya yang menjadi penghuni dalam rimba daerah pegunungan tersebut pada terbang dan lari serabutan sambil perdengarkan suaranya ketakutan yang amat riuh.
Tatkala bom itu meledak, Pek lek cu sendiri sudah melompat mundur jauh-jauh meninggalkan tempat berbahaya itu.
Dan ketika ia membuka matanya, ditempat ledakan tersebut terlihat berkelebatnya sesosok bayangan merah, lompat melesat tinggi sekali diantara lelatu ledakan bom tersebut.
Naga Merah ternyata kena bom-nya yang amat dahsyat itu.
Ketika Pek lek cu melihat berkelebatnya sesosok bayangan merah itu, ia segera mengetahui bahwa Naga Merah tak binasa karena ledakan bomnya itu. Dalam gusarnya sambil keluarkan geraman ia lompat menubruk kearah larinya Naga Merah....
Pada saat itu kembali tertampak berkelebatnya satu bayangan merah, kemudian disusul oleh meluncurnya angin keras yang menggulung dirinya Pek lek cu.
Angin yang datangnya secara tiba-tiba itu telah membuat terkejut Pek lek cu. Selagi hendak egoskan diri untuk menyingkir, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin. Kemudian suaranya Naga Merah yang bersifat mengejek dan menghina,.
“Kehebatannya bom Pek lek tan benar-benar ada lain daripada yang lain. Sekarang kau juga coba-coba menyambuti serangan tenagaku ini.”
Ucapannya itu lalu disusul oleh satu serangan yang amat hebat!.
Pek lek cu yang selagi hendak menubruk dari gulungan angin serangannya. Untung kepandaiannya sangat tinggi.
Dengan cara menekuk kakinya dan berjumpalitan ditengah udara ia melesat kesamping sampai tiga tombak jauhnya, baru berhasil menghindarkan serangan Naga Merah yang amat dahsyat tadi.
Walaupun demikian ia juga sampai dibikin kaget dan ketakutan setengah mati sampai sekujur badannya mengeluarkan keringat dingin. Kepandaian Naga Merah benar-benar sukar dijajaki sampai dimana tingginya.
Pek lek cu yang berkali-kali sudah dibikin terjungkal oleh Naga Merah, jam jam juga merasa jeri, Gerakannya Naga Merah dan kepandaian ilmu silatnya benar-benar sangat mengagumkan! Luar biasa tingginya! Kalau sampai Naga Merah ini sampai menggetarkan dunia kangouw, sebetulnya bukanlah hanya nama kosong belaka.
Karena kaget dan jeri yang timbul dalam hati Pek lek cu sampai ia lupa menerjang dirinya Naga Merah lagi. Ia hanya berdiri disitu seperti patung.
Suara dingin yang menyeramkan kembali terdengar dalam suaranya, “Pek lek cu kau dengan aku seolah-olah air sumur tidak mengganggu air sungai. Jikalau kau berani mencampuri urusanku sekali lagi, jangan kau sesalkan kalau saat itu nanti aku berlaku telengas memperlakukan dirimu.”
“Aku tidak boleh tidak harus mencampuri urusan ini!” jawab Pek lek cu dalam gusarnya.
“Kalau kau percaya masih punya itu kemampuan mencampuri urusan ini, boleh kau coba-coba keluarkan kemampuanmu, aku ingin tahu Pek lek tan mu yang pernah menggetarkan kangouw itu bisa menggertak aku atau tidak?”
Pek lek cu sangat gusar, sampai gigi-giginya terdengar bercatrukan. Tapi ia tetap tidak berdaya menghadapi Naga Merah yang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya itu. Maka ia cuma bisa menjawab sambil kertak gigi : “Naga Merah, boleh kita coba-coba saja.”
Suara Naga Merah yang geram dan mengandung sifat mengejek kembali terdengar mendengung dalam telinga Pek lek cu.
“Pek lek cu, aku beritahukan dulu kepadamu, bom Pek lek tan mu itu boleh kau gunakan untuk menggertak orang lain, tapi buat aku si Naga Merah, ha..ha... jangan kau mengimpi.”
Kalau ucapannya yang dikeluarkan semula tadi kedengarannya seperti dari dalam rimba sejauh dua tombak, toh ucapan yang terakhir dengannya ternyata sudah jauh seperti keluar dari tempat sejauh kira-kira sepuluh tombak.


Kiranya Naga Merah sudah berlalu jauh sekali dari hadapannya.
Terjungkalnya Pek lek cu kali ini sungguh sangat menggenaskan, Berkali-kali dia mendapat ejekan dan hinaan dari Naga Merah, bahkan sudah kehilangan tiga butir bom Pek lek tan yang ia anggap sebagai barang ampuhnya.
Pek lek cu yang dalam rimba persilatan menduduki tempat ketiga dalam urusan Bu lim Sam cu sesungguhnya tidak pernah menyangka malam itu tidak berdaya sama sekali menghadapi Naga Merah. Sampai orang yang disebut belakangan ini bisa datang dan pergi seenaknya. Perasaan mendongkol dalam hatinya sesungguhnya sukarlah dapat dibayangkan. Tapi juga tidak boleh terlalu disesalkan.
Pohon-pohon dalam rimba seluas sepuluh tombak telah dibikin tumbang karena ledakan bom Pek lek tan yang amat dahsyat itu.
Selagi Pek lek cu masih berdiri mengawasi rimba gundul tersebut dengan perasaan sangat mendongkol, Ciang hay Sin kun tiba-tiba melayang turun dihadapannya, Ia lalu sambil mengawasi Pek lek cu yang sedang berdiri gemetaran karena gusarnya.
“Setan tua Pek lek cu, Naga Merah sudah berlalu. Kau gusar begitu rupa, apa gunanya?”
Pek lek cu delikan matanya sambil ketrukan kakinya ia menjawab,.
“Naga Merah, bagus sekali kelakuanmu! Ada suatu hari aku pasti akan mencari kau untuk membuat perhitungan kekalahanku hari ini!”
Pek lek cu pada saat itu benar-benar boleh dikatakan sudah seperti orang gila kelakuannya. Ia berjingkrak-jingkrak sendiri karena bawa amarahnya tak dapat dilampiaskan.
Ciang hay Sin kun yang menyaksikan sikap Pek lek cu ini, malam hari diam-diam merasa geli. Ia lalu berkata pula pada si Cu ketiga itu.
“Pek lek sahabatku, kalian berdua biar bagimana tentu masih ada kesempatan untuk saling berjumpa lagi. Malam ini jikalau kau benar-benar binasa karena gusar, aku betul-betul tidak mempunyai uang cukup banyak untuk membelikan peti mati untuk kau..”
Pek lek cu yang digoda demikian pula oleh Ciang hay Sin kun lantas ketawa.
Dalam pada itu suatu kejadian aneh telah terbentang didepan mata mereka hingga membuat Ciang hay Sin kun dan lain-lainnya pada merasa terheran-heran.
Pemuda pendiam baju abu-abu itu ternyata tidak mati terkena ledakan bom-nya Pek lek cu!.
Hal itu benar-benar membuat terkejut semua orang yang berada disitu, bahkan bukan Ciang hay Sin kun dan kawan-kawannya saja.
Pemuda baju abu-abu yang nampaknya tidak mempunyai kepandaian silat itu bagaimana caranya bisa lolos dari ledakannya bom Pek lek tan?.
Ini benar-benar ada satu kejadian yang sangat langka bagaimana ia bisa lolos dari bahaya maut itu? Tiada seorangpun yang dapat tahu.
Hanya pemuda itu sendiri yang tahu. Kalau ia bisa lolos dari bahaya maut itu, semua adalah jasanya Naga merah yang menolong dirinya.
Jikalau ia tidak keburu disambar badannya oleh Naga Merah, mungkin saat itu badannya sudah hancur lebur berkeping-keping dan jiwanya sudah melayang kelain dunia.
Saat itu matanya pemuda itu mengawasi Pek lek cu, kemudian berkata dengan suara dingin.
“Pek lek cu, perbuatanmu sesungguhnya terlalu kejam.”
Pek lek cu ada seorang yang beradat sangat kukoay, begitu mendengar perkataan anak muda itu alisnya yang tebal lantas berdiri seperti sesapu, berkata dengan suara gusar, “Dimana kekejamanku?”
“Pek lek cu, percuma kau menduduki kursi sebagai salah satu dari Bu lim Sam cu, sengaja bom mu Pek lek tan itu mungkin bisa bisa kau gunakan untuk menghadapi orang lain. Tapi buat menghadapi Naga Merah, masih jauh sekali kebisaanmu. Perbuatan secara membokong yang kau lakukan itu apa dengan itu pantas kau mendapat julukan Bu lim Sam cu? Rasaya cuma akan membuat orang ketawa saja.”
Perkataan itu membuat wajahnya Pek lek cu merah seperti kepiting direbus. Ia berdiri tercengang, lama tidak bisa bicara apa-apa.
Ciang hay sin kun tiba-tiba tergerak hatinya. Ia lalu menanya kepada si pemuda pendiam itu.
“Bocah, menurut perkataan Naga Merah tadi, itu sepotong mangkok pecah yang mula-mula kau keluarkan sebetulnya bukan benda peninggalan dari si pengemis sakti.”
“Jikalau benda itu yang asli, apa aku bisa mengeluarkan dan berikan begitu saja padanya?”
Ciang hay Sin kun memikir jawaban itu memang masuk diakal. Jikalau sepotong pecahan mangkok itu benar-benar adalah barang asli, pemuda itu tentu tidak akan memperlihatkan kepada lain orang. Maka itu ia lalu menanya pula.
“Tapi mengapa pecahan mangkok itu mirip betul bentuknya dengan mangkok yang disiarkan dalam cerita orang?”
“Hal ini, maaf aku tidak bisa memberitahukan.”
“Apa maksudmu kau memberikan pecahan mangkok itu kepada Naga Merah?”
“Hal ini rasanya aku tak perlu memberitahukan padamu lebih dulu.”
“Memang setiap orang dikolong langit masih-masing berjalan diatas jalannya sendiri. Terhadap tindak tandukmu sudah tentu tidak ada hak untuk aku tanyakan. Cuma kelakuanmu sebetulnya sangat membingungkan kami yang mendengarnya.”
“Naga merah setelah menimbulkan bencana bagi dunia rimba persilatan jikalau tuan ada seorang dari golongan baik-baik yang menjunjung tinggi kebenaran sudah tentu tidak tinggal diam menyaksikan perbuatan Naga Merah.”
“Jikalau bukan karena Pek lek cu yang berbuat menuruti hawa napsunya sendiri, saat ini mungkin aku sudah berhasil membuka kedoknya Naga Merah.” memotong si pemuda baju abu-abu.
Pek lek cu lalu berkata sambil ketawa pada si anak muda.
“Kau juga ingin membuka kedoknya Naga Merah? Ini benar-benar merupakan lelucon besar.”
Pemuda baju abu-abu itu berubah wajahnya.
“Apa kau anggap kepandaian ilmu silatmu sudah tidak ada yang bisa menandingi dalam dunia ini?” tanyanya dengan hati mendelu.
“Meskipun belum bisa disebut tidak ada tandingannya didalam dunia, tapi setidak-tidaknya toh jauh lebih tinggi daripada kau, bocah!”
Pemuda pendiam baju abu-abu itu ketika mendengar perkataan tersebut lantas dongakkan kepalanya sambil ketawa bergelak-gelak. Nyata sekali bahwa ketawanya itu ada mengandung sikap memandang rendah.